
Harga emas dunia mencapai rekor tertinggi baru di $4,532.18 per troy ounce pada Jumat, 26 Desember 2025, didorong oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik global. Lonjakan ini terjadi setelah logam mulia tersebut mencatatkan kenaikan lebih dari 70% sepanjang tahun 2025, menandai kinerja tahunan terkuatnya sejak 1979. Para analis dan institusi keuangan terkemuka memproyeksikan momentum penguatan ini akan berlanjut pada pekan pertama Januari 2026, meskipun potensi koreksi jangka pendek tetap ada di tengah aksi ambil untung pasar.
Kenaikan harga emas yang fenomenal sepanjang 2025, yang telah menembus level psikologis $4.000 dan $4.500 per ons, tidak terlepas dari kombinasi faktor fundamental yang kompleks. Secara historis, emas telah lama dianggap sebagai aset lindung nilai (safe haven) di kala ketidakpastian, dan tahun 2025 menjadi bukti nyata relevansi tersebut. Ketegangan geopolitik yang memanas, termasuk konflik Rusia-Ukraina yang berlanjut, ketidakpastian di Timur Tengah, serta langkah-langkah agresif AS terhadap Venezuela, telah memicu permintaan kuat untuk aset yang dianggap aman ini. Lingkungan makroekonomi global yang melambat dan kekhawatiran perang dagang turut memperkuat daya tarik emas.
Di sisi kebijakan moneter, Federal Reserve telah memangkas suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang 2025, dengan pemotongan terakhir sebesar 25 basis poin pada 11 Desember 2025, membawa tingkat suku bunga federal ke 3,50-3,75%. Meskipun proyeksi "dot plot" terbaru The Fed menunjukkan hanya satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026, beberapa analis seperti Pilarmas Investindo Sekuritas dan J.P. Morgan Asset Management memperkirakan dua hingga tiga kali pemotongan akan terjadi. Suku bunga yang lebih rendah secara tradisional melemahkan dolar AS dan mengurangi biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia ini sebagai investasi. Goldman Sachs bahkan memperkirakan dolar AS akan merosot hampir 10% pada 2025, menjadikannya tahun terburuk dalam delapan tahun terakhir, dengan ekspektasi pelemahan berlanjut di 2026.
Pembelian masif oleh bank sentral global juga menjadi pendorong struktural penting bagi harga emas. World Gold Council melaporkan bahwa 95% bank sentral mengantisipasi peningkatan cadangan global, dengan 43% berencana meningkatkan kepemilikan emas mereka pada tahun 2026. Goldman Sachs memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral mencapai 64 ton pada September 2025, melanjutkan tren pembelian kuat selama beberapa tahun terakhir, dengan perkiraan pembelian 850 ton pada 2025. Upaya diversifikasi cadangan devisa dan pengurangan ketergantungan pada dolar AS menjadi alasan utama di balik langkah ini, terutama bagi negara berkembang yang menghadapi risiko geopolitik.
Melihat ke depan untuk pekan pertama Januari 2026, para ahli memiliki pandangan beragam namun cenderung optimistis. Trading Economics memperkirakan harga emas akan diperdagangkan di sekitar $4,350.85 per troy ounce pada akhir kuartal ini dan berpotensi mencapai $4,614.58 dalam 12 bulan ke depan. LiteFinance memproyeksikan harga rata-rata di Januari 2026 sekitar $4,109.50, dengan kisaran $3,988.20 hingga $4,240.80. Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan emas bisa mencapai $5,050 per troy ounce pada paruh kedua 2026, sementara J.P. Morgan bahkan menargetkan puncak $5,055 pada kuartal IV 2026 dan bergerak menuju $5,400 pada akhir 2027. Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi secara ambisius memprediksi harga emas dunia berpotensi mencapai $5,500 per ons troy pada awal 2026.
Namun, prospek bullish ini bukan tanpa risiko. Koreksi harga jangka pendek akibat aksi ambil untung (profit-taking) dan perubahan sentimen pasar tetap mungkin terjadi. Volatilitas dapat muncul ketika pasar terlihat paling tenang, terutama dari kejutan kebijakan moneter atau data ekonomi yang meleset dari ekspektasi. Di tingkat domestik, harga emas Antam di Indonesia diproyeksikan naik 5-7% di kuartal I 2026, dengan catatan kurs rupiah terhadap dolar AS stabil dan tidak ada gangguan pasokan. Lukman, seorang pengamat pasar, menyarankan investor untuk mempertahankan kepemilikan emas dan menambah secara bertahap, bahkan bagi yang belum memiliki posisi dapat masuk dengan strategi dollar cost averaging. Memasuki tahun baru, lanskap global yang sarat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik serta arah kebijakan moneter bank sentral akan terus menjadi penentu utama pergerakan harga emas.