:strip_icc()/kly-media-production/medias/2935917/original/056992200_1570705752-20191010-IHSG-3.jpg)
Jakarta, 24 Desember 2025 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pelemahan signifikan menjelang libur panjang Natal 2025 dan akhir tahun, dengan mayoritas sektor saham berakhir di zona merah. IHSG ditutup melemah 0,55% ke level 8.537 pada perdagangan Rabu (24/12/2025), setelah sempat anjlok 0,71% ke posisi 8.584,78 pada sesi sebelumnya, Selasa (23/12/2025). Penurunan ini menandai konsolidasi dari reli sebelumnya, sekaligus mencerminkan aksi ambil untung (profit taking) investor di tengah minimnya katalis positif dan penurunan likuiditas pasar.
Pelemahan ini bukan tanpa preseden. Secara historis, pergerakan pasar saham menjelang libur panjang seringkali diwarnai oleh aktivitas jual yang dilakukan oleh investor, baik institusi maupun ritel, untuk mengamankan keuntungan atau mengurangi eksposur risiko. Fenomena "profit taking" menjadi pemicu utama, terutama setelah IHSG menunjukkan kinerja cukup positif sepanjang tahun 2025, dengan kenaikan sekitar 21,34% hingga 24 Desember 2025. Namun, dalam sepekan terakhir menjelang libur, IHSG terkoreksi 0,59% disertai penurunan rata-rata volume transaksi harian sebesar 20,80% menjadi 47 miliar lembar saham, dari 59,34 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya. Likuiditas pasar yang menipis menjelang penutupan tahun juga memperparah tekanan jual.
Analisis sektoral menunjukkan bahwa sektor keuangan, pertanian, dan industri dasar memimpin penurunan. Sementara itu, sektor teknologi juga mencatat penurunan 4,4% dalam tujuh hari terakhir hingga 24 Desember 2025. Pada perdagangan 18 Desember 2025, sektor barang konsumsi non-primer tercatat anjlok paling dalam sebesar 2,18%, diikuti oleh sektor infrastruktur dan teknologi yang masing-masing turun 2,09% dan 2,05%. Kondisi ini kontras dengan beberapa sektor lain seperti energi dan barang konsumsi primer yang sempat menguat tipis.
Di tengah koreksi pasar, Bank Indonesia (BI) pada pertemuan 21-22 Oktober 2025 memutuskan mempertahankan BI-Rate di 4,75%, tingkat terendah sejak 2022, setelah serangkaian penurunan kumulatif 150 basis poin sejak September 2024. Keputusan ini mengejutkan pasar yang banyak memprediksi pemotongan suku bunga lebih lanjut. BI menunjukkan kehati-hatian dalam menjaga stabilitas Rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan sentimen investor yang memburuk, meskipun inflasi masih dalam target 1,5-3,5% untuk 2025 dan 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan bahwa BI akan terus menilai ruang untuk pemotongan suku bunga lebih lanjut hingga 2026, yang didukung oleh inflasi yang rendah dan terkendali serta perlunya menjaga pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi makroekonomi, perekonomian Indonesia tumbuh 5,02% secara tahunan (YoY) pada kuartal keempat 2024, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Untuk keseluruhan tahun 2024, ekonomi Indonesia tumbuh 5,03%, sedikit melambat dari 5,05% pada 2023, menjadikannya pertumbuhan tahunan terlambat dalam tiga tahun. Namun, inflasi per Desember 2024 tercatat 1,57% YoY, jauh di bawah target pemerintah. Prospek ekonomi Indonesia untuk 2025 diproyeksikan tumbuh sekitar 5,1% atau lebih tinggi, didukung oleh kebijakan BI yang akomodatif. Meski demikian, sejumlah analis, termasuk dari Capital Economics, memprediksi BI akan melanjutkan pelonggaran moneter dengan pemotongan 25 basis poin lagi pada Desember ini, diikuti oleh dua pemotongan lagi pada paruh pertama 2026.
Tekanan eksternal juga turut mempengaruhi sentimen pasar. Ketidakpastian global, seperti perlambatan ekonomi Tiongkok dan fluktuasi harga komoditas global, dapat berdampak pada kinerja pasar saham Indonesia. Ekspektasi bahwa Federal Reserve AS akan menurunkan suku bunga acuan pada September 2024 sempat mendorong penguatan IHSG di Agustus 2024, namun investor tetap memantau sinyal dari The Fed karena perubahan kebijakan tak terduga dapat mempengaruhi aliran modal dan stabilitas pasar Indonesia. Selain itu, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp22,39 triliun sepanjang tahun 2025 hingga periode 15-19 Desember 2025, menunjukkan penurunan kepercayaan terhadap pasar Indonesia.
Beberapa analis menganggap penurunan pasar ini sebagai sinyal peringatan bagi ekonomi Indonesia. Hendra Wardana, pendiri Stocknow.id, menyatakan bahwa penurunan lebih dari 5% menandakan ekonomi Indonesia berada di bawah tekanan signifikan dan investor asing semakin berhati-hati. Bhima Yudhistira, seorang ekonom, menambahkan bahwa koreksi tajam di pasar saham Indonesia bukan hanya karena faktor eksternal, tetapi juga didorong oleh masalah domestik seperti kinerja fiskal yang memburuk, kontroversi revisi Undang-Undang TNI, skeptisisme terhadap dana investasi Danantara yang diusulkan pemerintah, dan melemahnya daya beli konsumen. Hingga Februari 2025, defisit anggaran Indonesia mencapai Rp31,2 triliun, dengan beban pembayaran bunga utang yang mencapai Rp79,3 triliun dalam dua bulan pertama, yang berpotensi menghambat belanja produktif pemerintah. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kemampuan pemerintah dalam menstimulasi ekonomi secara optimal.
Kendati demikian, prospek jangka panjang pasar modal Indonesia masih dinilai positif oleh beberapa pihak. Dengan valuasi yang dianggap murah pada rasio PE 11,5x untuk 2025, pasar saham Indonesia diperkirakan memiliki ruang untuk kenaikan. Program-program di bawah pemerintahan baru, yang cenderung pro-pertumbuhan, juga diharapkan memberikan sentimen positif, meskipun eksekusi kebijakan perlu dipantau. Seiring dengan proyeksi pemotongan suku bunga global pada 2026, arus dana asing diperkirakan akan kembali mengalir, terutama ke saham-saham berkapitalisasi besar seperti perbankan, telekomunikasi, dan energi. Namun, volatilitas pasar tetap menjadi risiko, terutama jika terjadi perubahan mendadak dalam kebijakan moneter global atau munculnya berita negatif geopolitik.