:strip_icc()/kly-media-production/medias/2808006/original/045550500_1558064206-bungo.jpg)
Saham Boeing melonjak signifikan baru-baru ini menyusul proyeksi optimis dari manajemen perusahaan mengenai peningkatan pengiriman pesawat 737 dan 787 pada tahun 2026. Proyeksi ini menandai pemulihan yang kuat bagi produsen pesawat asal Amerika Serikat tersebut, setelah melewati serangkaian tantangan operasional dan regulasi.
Pada tanggal 2 Desember 2025, saham Boeing (NYSE: BA) melonjak sekitar 9% hingga lebih dari 10% setelah Chief Financial Officer (CFO) Jay Malave menyampaikan pandangan positif di Konferensi Industri dan Transportasi Global UBS. Malave menyatakan bahwa perusahaan memperkirakan pengiriman jet 737 dan 787 akan meningkat tahun depan. Peningkatan pengiriman ini diharapkan menjadi pendorong utama bagi arus kas perusahaan, yang diproyeksikan akan beralih dari arus kas keluar sebesar $2 miliar pada tahun 2025 menjadi positif di angka miliaran dolar AS pada tahun 2026, dan terus tumbuh setiap tahunnya. Malave juga menegaskan kembali tujuan jangka panjang Boeing untuk mencapai arus kas bebas tahunan sebesar $10 miliar setelah produksi stabil.
Untuk program 737 MAX, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) pada Oktober 2025 memberikan restu kepada Boeing untuk meningkatkan laju produksi dari 38 menjadi 42 pesawat per bulan, setelah sebelumnya memberlakukan pembatasan pasca insiden pintu darurat pada Alaska Airlines MAX 9 pada Januari 2024. Malave mengonfirmasi bahwa persiapan untuk peningkatan laju produksi ini berjalan sesuai rencana, dan peningkatan pengiriman diharapkan dimulai pada kuartal pertama tahun 2026. Boeing juga menargetkan laju produksi 737 MAX mencapai 53 pesawat per bulan pada akhir tahun 2026. Selain itu, sertifikasi untuk varian 737 MAX 10, yang merupakan versi terbesar, diantisipasi akan selesai pada akhir tahun 2026.
Di sisi pesawat berbadan lebar, Boeing juga meningkatkan produksi 787 Dreamliner. Perusahaan berencana meningkatkan laju produksi dari rata-rata tujuh pesawat per bulan saat ini menjadi delapan pada akhir 2025 atau awal 2026, dan mencapai sepuluh pesawat per bulan pada akhir 2026. Untuk mendukung peningkatan ini, Boeing sedang melakukan investasi besar, termasuk proyek perluasan senilai lebih dari $1 miliar di fasilitas perakitan akhir 787 di Charleston, Carolina Selatan, yang akan mencakup pembangunan gedung perakitan akhir kedua dan diharapkan selesai pada tahun 2028. Perluasan ini didorong oleh permintaan kuat untuk 787, dengan lebih dari 1.000 pesawat dalam pesanan backlog dan lebih dari 300 pesanan baru untuk 787-9 dan 787-10 telah diumumkan pada tahun 2025. Malave bahkan menyarankan bahwa produksi 787 Dreamliner pada akhirnya bisa mencapai sekitar 14 pesawat per bulan.
Pernyataan positif dari CFO ini juga mencakup berita mengenai akuisisi pemasok suku cadang pesawat, Spirit AeroSystems, yang diharapkan akan rampung pada akhir tahun 2025. Akuisisi ini akan memberikan Boeing kendali langsung atas bagian penting dari rantai pasokannya dan diharapkan dapat menyederhanakan operasi.
Secara keseluruhan, meskipun Boeing masih menghadapi beberapa tantangan, terutama terkait dengan sertifikasi 737 MAX 10 yang tertunda dan fluktuasi jangka pendek dalam pengiriman, prospek yang lebih cerah untuk pengiriman dan arus kas di tahun 2026 telah memberikan dorongan signifikan bagi kepercayaan investor dan harga saham perusahaan. Analis Wall Street memberikan peringkat "Strong Buy" konsensus pada saham BA, dengan target harga rata-rata yang menyiratkan potensi kenaikan sekitar 22%.