Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Arus Kontainer Melesat 5%, Pelindo Petikemas Optimis Lampaui Target 2025

2025-12-27 | 18:38 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-27T11:38:53Z
Ruang Iklan

Arus Kontainer Melesat 5%, Pelindo Petikemas Optimis Lampaui Target 2025

PT Pelindo Terminal Petikemas memproyeksikan pertumbuhan arus peti kemas mencapai 5 persen pada tahun 2025, menargetkan capaian 12,95 juta TEUs, didorong oleh aktivitas industri yang meningkat di berbagai wilayah strategis dan pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil. Optimisme ini muncul seiring dengan realisasi arus peti kemas yang sudah mencapai 12,12 juta TEUs hingga November 2025, dan diprediksi menyentuh 13,13 juta TEUs pada akhir tahun, melampaui capaian 2024 sebesar 12,48 juta TEUs.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menjelaskan peningkatan signifikan tersebut bukan hanya hasil dari penambahan jumlah kunjungan kapal dan rute layanan baru, melainkan juga cerminan vitalitas sektor industri di beberapa daerah. Terminal Petikemas (TPK) Pantoloan di Sulawesi Tengah, misalnya, mencatat lonjakan komoditas kelapa sebesar 52 persen pada triwulan III 2025. Sementara itu, TPK Bumiharjo di Kalimantan Tengah mengalami pertumbuhan yang dipicu oleh peningkatan ekspor plywood ke Korea dan Tiongkok. Di Sumatera Barat, TPK Teluk Bayur melaporkan kenaikan komoditas karet sebesar 20 persen, perlite 45 persen, dan pakan ternak lebih dari 100 persen. TPK Semarang juga menunjukkan pertumbuhan substansial, terkait erat dengan geliat aktivitas industri di Kawasan Industri Kendal, Sayung, dan Batang.

Secara keseluruhan, pertumbuhan arus peti kemas Pelindo Terminal Petikemas pada semester I 2025 mencapai 7,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan total 6,3 juta TEUs. Arus peti kemas internasional tumbuh 13,64 persen menjadi 2,1 juta TEUs, sementara domestik tumbuh 4,86 persen menjadi 4,2 juta TEUs. Pertumbuhan ini selaras dengan laju perekonomian nasional, yang menurut Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik J. Rachbini, pada triwulan III 2025 mencapai 5,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Rachbini menekankan bahwa industrialisasi merupakan faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Direktur Utama Pelindo, Arif Suhartono, menambahkan bahwa kinerja positif ini menjadi indikator dampak transformatif pasca-merger Pelindo, yang berhasil meningkatkan efisiensi dan sinergi operasional.

Meskipun prospek terlihat cerah, industri logistik dan kepelabuhanan Indonesia masih menghadapi tantangan fundamental. Agus Pambagio, Managing Partner PH&H Public Policy Interest Group, menyoroti kebutuhan mendesak untuk memperkuat infrastruktur pelabuhan agar mampu berfungsi sebagai hub transshipment, mengintegrasikan lalu lintas perdagangan laut secara lebih efektif. Selain itu, Yan Prastomo Ardi, Kepala Sub Direktorat Tatanan dan Perencanaan Pengembangan Pelabuhan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, mengidentifikasi tingginya waktu bongkar muat di pelabuhan utama (dwelling time antara 4 hingga 7 hari) dan biaya logistik yang masih membebani, serta ketidakseimbangan infrastruktur antarwilayah dan kargo sebagai hambatan efisiensi operasional. Sektor ini juga ditantang oleh kurangnya integrasi layanan digital dan duplikasi proses distribusi.

Pemerintah Indonesia melalui program seperti Tol Laut telah berupaya meningkatkan efisiensi logistik domestik, meskipun pelaksanaannya belum maksimal. Namun, prospek pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan yang diproyeksikan Supply Chain Indonesia (SCI) mencapai 12,53 persen pada 2025, jauh di atas rata-rata pertumbuhan PDB nasional, memberikan indikasi positif. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan, dengan industri makanan dan minuman memimpin di sektor pengolahan nonmigas. Transformasi digital dan peningkatan kualitas tenaga kerja akan menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi maritim Indonesia dan mengatasi persaingan global, menjadikan tahun 2025 sebagai momen krusial bagi industri pelabuhan dan pelayaran.