
Ribuan warga Malaysia secara konsisten memanfaatkan layanan kereta cepat Whoosh rute Jakarta-Bandung sejak diluncurkan pada Oktober 2023, menunjukkan daya tarik signifikan infrastruktur modern Indonesia di kawasan Asia Tenggara dan memposisikan Malaysia sebagai pasar penumpang internasional terbesar bagi Whoosh. PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator Whoosh, melaporkan bahwa secara kumulatif dari tahun 2023 hingga 2025, jumlah penumpang asal Malaysia mencapai sekitar 294.000 orang dari total 394.000 penumpang internasional, atau sekitar 75% dari seluruh penumpang mancanegara. Pada periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026, sekitar 7.000 dari 13.000 penumpang internasional Whoosh adalah warga Malaysia, dengan rata-rata harian antara 750 hingga 1.000 wisatawan Malaysia menggunakan kereta ini untuk melanjutkan perjalanan dari Jakarta ke berbagai destinasi wisata di Jawa Barat. Angka ini menggarisbawahi peran Whoosh tidak hanya sebagai moda transportasi, tetapi juga sebagai bagian integral dari pengalaman wisata bagi turis asing di Indonesia.
Kereta Cepat Whoosh, akronim dari "Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Handal", merupakan layanan kereta cepat pertama di Asia Tenggara, yang menghubungkan Jakarta dan Bandung dalam waktu sekitar 40-46 menit dengan kecepatan operasional hingga 350 km/jam. Proyek senilai $7,3 miliar ini, yang sebagian besar didanai oleh Tiongkok di bawah inisiatif Belt and Road, telah beroperasi secara komersial sejak 17 Oktober 2023. Keberadaannya telah merevolusi perjalanan antara dua wilayah metropolitan terbesar di Indonesia, yang sebelumnya memakan waktu tiga hingga empat jam melalui jalan darat, dengan menghilangkan kemacetan lalu lintas dan menawarkan perjalanan yang aman serta nyaman.
Ketertarikan wisatawan Malaysia terhadap Whoosh dipandang sebagai indikator kepercayaan internasional terhadap kemajuan infrastruktur dan pelayanan transportasi Indonesia. Eva Chairunisa, General Manager Corporate Secretary KCIC, menjelaskan bahwa wisatawan asing melihat Whoosh bukan hanya sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman wisata mereka di Indonesia, menghargai kecepatan dan kenyamanan yang ditawarkan. Untuk memperkuat pasar wisatawan mancanegara, KCIC telah berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta pemerintah daerah, termasuk melalui pameran pariwisata dan kerja sama dengan travel vlogger asal Malaysia.
Di sisi lain, proyek Whoosh tidak lepas dari tantangan finansial. Meskipun Whoosh telah mengangkut lebih dari 12 juta penumpang per Oktober 2025 dan rata-rata volume harian berkisar antara 18.000 hingga 22.000 penumpang pada akhir pekan, jumlah ini masih di bawah target harian 30.000 penumpang yang ditetapkan KCIC. Proyek ini dilaporkan mengalami defisit operasional dan kerugian, dengan biaya proyek yang membengkak dari $6,02 miliar menjadi $7,22 miliar akibat cost overrun. Diskusi mengenai restrukturisasi utang dengan China Development Bank sedang berlangsung, melibatkan lembaga dana abadi Indonesia, Danantara.
Minat tinggi dari wisatawan Malaysia juga dapat dilihat dalam konteks perkembangan infrastruktur kereta api di Malaysia sendiri. Proyek Kereta Api Berkecepatan Tinggi Kuala Lumpur-Singapura (KL-Singapore HSR) yang sempat ditangguhkan, kini kembali dalam evaluasi pemerintah Malaysia, yang menekankan pendanaan penuh dari sektor swasta. Sementara itu, proyek-proyek kereta api nasional lainnya di Malaysia, seperti East Coast Rail Link (ECRL) dan Light Rail Transit 3 (LRT3), terus menunjukkan kemajuan signifikan pada tahun 2025. Keberhasilan Whoosh dalam menarik perhatian regional, khususnya dari Malaysia, dapat menjadi tolok ukur atau bahkan katalis bagi negara-negara tetangga yang sedang meninjau atau mengembangkan proyek kereta cepat mereka, meskipun tantangan finansial tetap menjadi perhatian utama dalam proyek infrastruktur berskala besar ini.