
PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) melaporkan kinerja keuangan terkini yang menunjukkan penurunan laba bersih hingga kuartal ketiga tahun 2025. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp4,4 miliar pada kuartal III 2025, anjlok signifikan 93,6% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai Rp69,3 miliar. Penurunan ini juga terlihat pada laporan laba bersih untuk kuartal kedua 2025 yang sebesar Rp7,5 miliar, menurun dari Rp13,8 miliar pada kuartal yang sama tahun 2024.
Pendapatan usaha perseroan hingga akhir September 2025 juga mengalami penurunan 38,3% menjadi Rp5,65 triliun dari Rp9,16 triliun pada kuartal III 2024. Beban pokok pendapatan juga turun, namun laba kotor Adhi Karya hingga akhir September 2025 tercatat sebesar Rp833,6 miliar, sedikit menurun dari Rp863,5 miliar pada periode sebelumnya. Penurunan pada laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp30,4 miliar hingga kuartal III 2025, dan laba tahun berjalan anjlok 76,9% menjadi Rp21,3 miliar dibandingkan Rp92,5 miliar pada kuartal III tahun lalu.
Sebagai perbandingan, pada tahun buku 2024, Adhi Karya berhasil membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp252,4 miliar, meningkat 17,9% dibandingkan tahun 2023. Peningkatan laba ini terjadi meskipun pendapatan usaha perseroan pada tahun 2024 turun menjadi Rp13,35 triliun dari Rp20,07 triliun pada tahun 2023, yang sebagian besar disebabkan oleh reprofiling portofolio dan peningkatan proyek Joint Operation (JO). Laba dari JO sendiri tumbuh 81,4% menjadi Rp884,7 miliar pada tahun 2024.
Sementara itu, pada kuartal ketiga tahun 2024, Adhi Karya mencatatkan laba bersih sebesar Rp69,32 miliar, yang merupakan kenaikan 194,6% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini sebagian besar didorong oleh laba ventura bersama yang naik signifikan menjadi Rp568,73 miliar.
Hingga November 2025, Adhi Karya telah mengantongi kontrak baru senilai Rp14,1 triliun, melonjak tajam dari posisi Oktober 2025 yang sebesar Rp7,8 triliun. Mayoritas kontrak baru ini berasal dari proyek gedung sebesar 65% dan infrastruktur sebesar 20%, dengan dominasi pendanaan dari proyek pemerintah yang berkontribusi 74%. Perolehan kontrak baru ini mencerminkan komitmen perseroan dalam memperkuat portofolio pekerjaan dan menjaga pertumbuhan usaha di tengah dinamika industri konstruksi nasional.