:strip_icc()/kly-media-production/medias/4502342/original/044729600_1689320352-kanchanara-0kRsP5iRZI4-unsplash.jpg)
Seorang influencer kripto terkemuka, Robert Doyle, secara tegas menyatakan bahwa seluruh dunia pada akhirnya akan dipaksa untuk mengadopsi XRP dan mata uang kripto lainnya. Pandangan Doyle ini didasarkan pada keyakinannya bahwa pemerintah dan institusi besar akan terdorong untuk beralih ke jaringan blockchain sebagai keharusan untuk bertahan di tengah serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih.
Doyle secara spesifik menyoroti serangan siber pada 13 November 2025, yang disebutnya sebagai serangan pertama yang sepenuhnya dilakukan oleh agen AI otonom tanpa melibatkan operator manusia. Menurutnya, serangan semacam ini terus berkembang pesat, menggandakan kemampuannya setiap enam bulan, dan sistem terpusat saat ini memiliki titik kegagalan tunggal yang rentan terhadap serangan tersebut. Dalam pandangannya, desentralisasi melalui blockchain adalah satu-satunya cara untuk memastikan keamanan dan ketahanan data jangka panjang.
Meskipun BlackRock, Vanguard, Fidelity, JP Morgan, dan State Street belum mengajukan permohonan untuk ETF XRP, Doyle menganggap 24 November 2025 sebagai tonggak penting, di mana ETF spot XRP dari Franklin Templeton dan Grayscale mulai diperdagangkan. Ia percaya bahwa blockchain akan menjadi fondasi bagi data global, keuangan, dan perdagangan, menggemakan klaim Charles Hoskinson bahwa infrastruktur dunia pada akhirnya akan ditulis ulang di atas blockchain. Doyle menyimpulkan bahwa pasar bear (penurunan harga) saat ini hanyalah efek samping sementara dari pergeseran makroekonomi yang lebih besar.
Klaim mengenai potensi XRP sebagai tulang punggung transaksi global bukanlah hal baru. Sebelumnya, para pendukung XRP telah lama meyakini bahwa aset ini siap menjadi infrastruktur pembayaran global berkat kemampuannya memfasilitasi transfer nilai lintas negara dengan kecepatan tinggi dan biaya rendah. Keyakinan ini sejalan dengan narasi yang menyebut XRP berpotensi menjadi "rel" utama sistem keuangan baru.
Namun, skeptisisme juga muncul di kalangan komunitas kripto. Beberapa pihak menilai klaim adopsi luas XRP hanya mengulang janji lama yang belum terwujud secara signifikan. Faktor regulasi dan persaingan ketat dengan mata uang kripto lain juga menjadi penghalang. Hingga kini, belum ada pengumuman resmi dari perusahaan atau regulator mengenai integrasi besar XRP yang disebut-sebut bakal mengubah peta finansial global, dengan banyak klaim lebih banyak berasal dari opini komunitas daripada roadmap institusional.
Terlepas dari perdebatan ini, minat terhadap XRP terus terlihat. Baru-baru ini, pengusaha dan influencer kripto Dave Portnoy dilaporkan membeli XRP senilai USD 1 juta (sekitar Rp 16,7 miliar) di tengah gejolak pasar yang menyebabkan penurunan harga Bitcoin (BTC) menjadi USD 89.470 dan Ethereum (ETH) menjadi USD 2.916. Pergerakan pasar ini, termasuk penurunan XRP sebesar 7,5% menjadi USD 2,05, justru dipandang sebagai peluang oleh sebagian investor.
Kehadiran ETF spot XRP, seperti yang ditawarkan oleh Canary Capital dan Bitwise XRP di Amerika Serikat, juga menjadi katalis penting. Kedua ETF ini telah mencatat total arus masuk bersih sekitar USD 293 juta, menunjukkan peningkatan minat institusional. Para analis memperkirakan potensi kenaikan XRP hingga USD 3,50 jika arus masuk institusional terus terakumulasi, dengan menyebut XRP sebagai aset jembatan yang stabil antara kripto dan fiat. Namun, prospek ini masih bergantung pada kejelasan regulasi di AS yang akan menentukan keberhasilan adopsi institusional yang lebih luas.