:strip_icc()/kly-media-production/medias/1556408/original/097592600_1491299460-ISHG3.jpg)
Proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk tahun 2026 menunjukkan potensi penguatan signifikan, dengan sejumlah analis dan pejabat pemerintah mematok target ambisius. HSBC Global Research memproyeksikan IHSG dapat mencapai level 9.700, didorong oleh valuasi saham Indonesia yang dinilai masih menarik secara historis dan ekspektasi pemulihan pertumbuhan laba emiten. Target ini sejalan dengan pandangan Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, ASEAN Economist HSBC Global, Pranjul Bhandari, yang melihat prospek positif di pasar saham Indonesia. Bahkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis IHSG dapat menembus level 10.000, bahkan lebih pada akhir 2026, ditopang oleh kebijakan pemerintah yang semakin sinkron dan prospek ekonomi yang membaik.
Optimisme ini didasari oleh beberapa faktor fundamental. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap tangguh di tengah gejolak global. HSBC memproyeksikan PDB Indonesia tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2026, sedikit di bawah target pemerintah dalam APBN 2026 sebesar 5,4 persen. Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) juga memperkirakan pertumbuhan di kisaran 4,9 persen hingga 5,1 persen. Pertumbuhan ini utamanya didorong oleh penguatan konsumsi domestik dan investasi, yang telah menjadi penopang utama perekonomian nasional. Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani dan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie juga memiliki proyeksi serupa, menekankan peran konsumsi domestik dan stabilitas makroekonomi.
Kedua, valuasi saham Indonesia, terutama di sektor perbankan dan konsumsi, masih dianggap sangat menarik. Herald van der Linde, Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, mencatat bahwa banyak saham unggulan diperdagangkan pada valuasi yang mendekati level terendah dalam 15 hingga 20 tahun terakhir. Kondisi ini memberikan ruang untuk re-rating seiring dengan membaiknya sentimen pasar dan kembalinya pertumbuhan laba perusahaan. Analis memproyeksikan pertumbuhan laba per saham (EPS) sekitar 8% secara tahunan pada 2026, yang dinilai realistis mengingat kinerja laba tahun sebelumnya yang relatif rendah.
Ketiga, potensi pelonggaran kebijakan moneter global dan domestik menjadi pendorong penting. Bank Indonesia (BI) diperkirakan memiliki ruang untuk memangkas suku bunga acuannya. HSBC memproyeksikan BI akan memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali sepanjang 2026, dengan total pemangkasan 75 basis poin, kemungkinan pada kuartal I, II, dan III. Pemangkasan suku bunga ini diharapkan dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan mengurangi biaya modal bagi perusahaan. Bank Indonesia sendiri mempertahankan perkiraan inflasi 2025–2026 tetap dalam koridor target 2,5 persen ± 1 persen. Tingkat inflasi tahunan per Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen.
Meskipun prospeknya cerah, sejumlah tantangan dan risiko tetap membayangi pergerakan IHSG. Volatilitas nilai tukar rupiah dan ketidakpastian geopolitik global menjadi faktor eksternal yang perlu dicermati. Perlambatan kinerja ekspor pada 2026 juga diperkirakan terjadi setelah adanya strategi percepatan pengiriman barang (front loading) pada 2025. Selain itu, arus modal asing yang masuk ke Indonesia masih belum cukup kuat, baik di pasar saham, obligasi, maupun penanaman modal asing. Catatan Infobank juga menyoroti potensi risiko pasar modal Indonesia yang cenderung masih bergantung pada apresiasi saham segelintir konglomerat besar.
Dalam konteks ini, selektivitas saham menjadi krusial. Analis merekomendasikan fokus pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) dengan fundamental kuat, terutama di sektor perbankan dan konsumsi. Sektor energi, kesehatan, dan komoditas juga disebut memiliki potensi penguatan. Strategi investasi seperti buy on volatility dan dollar cost averaging (DCA) dinilai lebih tepat dibandingkan strategi agresif. Penguatan IHSG mendekati 9.000 di awal 2026 menunjukkan optimisme pasar yang kuat, menegaskan minat beli investor domestik maupun asing. Kinerja awal tahun sering dipandang sebagai indikator psikologis, memberikan dorongan kepercayaan bahwa 2026 dapat menjadi fase pertumbuhan baru bagi pasar saham Indonesia.