:strip_icc()/kly-media-production/medias/5423399/original/062413100_1764060959-Direktur_Utama_Krakatau_Steel__Akbar_Djohan.png)
Saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menunjukkan lonjakan harga yang signifikan sepanjang tahun ini, dengan kenaikan mencapai 279,2% secara year-to-date (ytd). Bahkan, beberapa data menunjukkan kenaikan hingga 296,04% sepanjang tahun 2025. Fluktuasi tajam ini telah memicu berbagai spekulasi di pasar modal, termasuk tudingan adanya "jebakan bandar" oleh sebagian analis.
Menanggapi fenomena tersebut, Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menegaskan bahwa pergerakan harga saham KRAS murni didorong oleh respons pasar. Ia membantah adanya informasi atau kejadian material yang belum disampaikan kepada publik, menekankan bahwa manajemen senantiasa mematuhi seluruh ketentuan keterbukaan informasi. Akbar Djohan menyatakan bahwa lonjakan harga saham, yang disebutnya mencapai sekitar 300%, merupakan cerminan meningkatnya kepercayaan publik dan investor terhadap kinerja perusahaan yang sedang dalam masa transformasi. Dia juga menambahkan bahwa persepsi dan ekspektasi pasar merupakan faktor di luar kendali perusahaan.
Kenaikan harga saham KRAS telah menjadi sorotan Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa kali. Sebelumnya, pada Juli 2025, saham KRAS sempat disuspensi oleh BEI menyusul lonjakan harga yang tidak biasa, termasuk kenaikan 121,13% dalam satu bulan dan 221% yang memicu tindakan cooling down oleh bursa. Suspensi juga pernah dilakukan pada 1 Juli 2025 setelah saham ini melompat 153%. Langkah ini diambil sebagai bentuk perlindungan investor agar pelaku pasar memiliki waktu yang cukup untuk mempertimbangkan keputusan investasi secara matang.
PT Krakatau Steel sendiri saat ini tengah menjalani program restrukturisasi. Perusahaan baja milik negara ini memproyeksikan kinerja keuangan yang positif pada akhir tahun 2025, menargetkan laba bersih setelah pajak sebesar US$392 juta, berbalik dari kerugian pada tahun-tahun sebelumnya. Pada kuartal III-2025, KRAS berhasil membukukan laba bersih US$22,17 juta, membalikkan kerugian US$185,22 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan usaha perusahaan juga tercatat sebesar US$706,08 juta pada kuartal III-2025, meningkat 7,39% secara tahunan dibandingkan US$657,52 juta pada kuartal III-2024.
Muhammad Akbar sendiri resmi menjabat sebagai Direktur Utama Krakatau Steel setelah ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 16 Desember 2024, setelah sebelumnya menjabat sebagai Plt Direktur Utama sejak Oktober 2024. Per 24 November 2025, harga saham KRAS ditutup pada level Rp 390 per saham, dengan rentang harian antara Rp 388 hingga Rp 412. Sepanjang 52 minggu terakhir, harga saham KRAS bergerak di kisaran Rp 94 hingga Rp 436.