
Impor solar Indonesia anjlok sebesar 3,3 juta kiloliter pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan percepatan program bauran biodiesel berbasis kelapa sawit yang diterapkan pemerintah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia pada Kamis (8/1) mengungkapkan bahwa volume impor solar nasional yang mencapai 8,3 juta kiloliter pada tahun 2024, berhasil ditekan menjadi sekitar 5 juta kiloliter di tahun 2025, sebagian besar berkat implementasi mandatori biodiesel B40. Penurunan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk mencapai kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Kebijakan mandatori biodiesel telah menjadi pilar utama dalam upaya ini. Sejak dimulai dengan B20, program tersebut terus ditingkatkan menjadi B30 pada tahun 2020 dan B35 mulai Februari 2023. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mencatat bahwa impor solar telah mengalami penurunan signifikan dari 12,5 juta kiloliter pada tahun 2012 menjadi 3,2 juta kiloliter pada tahun 2020, seiring dengan peningkatan komposisi biodiesel. Program B35 saja pada tahun 2023 berhasil menghemat devisa negara sekitar US$7,9 miliar atau setara Rp120,54 triliun. Sementara itu, program biodiesel secara total diklaim telah menghemat devisa US$40,71 miliar dari tahun 2020 hingga 2025.
Pemerintah menargetkan penghentian impor solar secara total pada semester kedua tahun 2026. Ambisi ini didukung oleh dua faktor utama: kelanjutan program biodiesel menuju B50 dan rampungnya Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa uji coba program B50 dijadwalkan selesai pada semester I 2026, dan jika berhasil, akan diterapkan penuh pada semester II 2026. Proyek RDMP Balikpapan, yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional dengan investasi US$7,4 miliar, akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 100.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari. Kementerian ESDM memproyeksikan operasional penuh kilang Balikpapan akan menghasilkan surplus produksi solar hingga 3-4 juta kiloliter, membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi pengekspor solar di masa depan.
Di samping penghematan devisa dan peningkatan kemandirian energi, penggunaan biodiesel juga berkontribusi pada penurunan emisi karbon. Eniya Listiani Dewi menyebutkan bahwa penggunaan B20 berhasil menurunkan sekitar 10 juta ton CO2, dan dengan mandatori B35, penurunan emisi dapat mencapai 33 juta ton CO2. Meskipun demikian, pemerintah mengakui bahwa impor solar jenis cetane number (CN) 51 yang digunakan untuk alat berat di area pertambangan dengan suhu dingin masih akan diperlukan karena kapasitas produksi dalam negeri belum mencukupi. Selain itu, tantangan pendanaan dan kepastian investasi masih menjadi kendala dalam percepatan proyek energi baru terbarukan (EBT), dengan target bauran EBT nasional pada tahun 2025 yang direvisi turun dari 23 persen menjadi antara 17-20 persen karena realisasi yang belum sesuai harapan. Meskipun demikian, pemerintah terus menyiapkan penyempurnaan regulasi untuk memperbaiki iklim investasi EBT.