
Penyaluran energi di sejumlah wilayah Sumatera menghadapi tantangan signifikan akibat terputusnya akses jalan yang disebabkan oleh banjir dan longsor. Meski demikian, PT Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa 655 dari total 709 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di daerah terdampak masih tetap beroperasi untuk melayani kebutuhan masyarakat.
Hujan deras, angin kencang, banjir, dan tanah longsor yang dipicu oleh siklon tropis Senyar sejak Senin, 24 November 2025, telah merusak sejumlah infrastruktur utama di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Akses jalan yang terputus total, adanya genangan tinggi, material longsor, hingga jembatan yang amblas, menyulitkan mobil tangki untuk mendistribusikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Beberapa ruas jalan hanya bisa dilalui oleh kendaraan berukuran lebih kecil, memaksa Pertamina untuk mengatur pola suplai secara ketat.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyatakan bahwa tim darurat telah disiagakan sejak awal kejadian. Pertamina terus menyesuaikan pola suplai dan mencari rute-rute alternatif agar penyaluran energi tidak terhenti. Langkah-langkah mitigasi termasuk pengalihan suplai dari terminal yang aman seperti IT Lhokseumawe, IT Dumai, FT Siantar, FT Kisaran, FT Sibolga, IT Teluk Kabung, dan FT Medan Group. Selain itu, penambahan mobil tangki, pemanfaatan skid tank, serta pengerahan Awak Mobil Tangki dari luar wilayah juga dilakukan untuk mempercepat pemulihan distribusi.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara, Fahrougi Andriani Sumampouw, menjelaskan bahwa di Sumatera Utara, 23 SPBU dan 5 Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) terdampak bencana, terutama karena kerusakan akses jalur logistik di rute Pangkalan Susu-Brandan serta jalur Sibolga-Padang Sidempuan dan Sibolga-Tarutung. Beberapa SPBU bahkan harus menghentikan layanan sementara karena air masuk ke area tangki pendam atau pulau pompa.
Gangguan distribusi tidak hanya terjadi di darat, tetapi juga di jalur laut akibat tingginya gelombang. Sempat terjadi penundaan proses sandar dua kapal pengangkut BBM di perairan Belawan. Namun, saat ini tiga kapal telah berhasil sandar dan melakukan pembongkaran, sementara empat kapal lainnya bersiaga sebagai floating stock. Ketahanan stok BBM jenis Solar dan Pertalite dipastikan aman hingga dua pekan ke depan.
Untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses, Pertamina bahkan mengerahkan helikopter Bell 412 EP milik PT Pelita Air Service dari Jakarta menuju Medan untuk mengangkut BBM dan bantuan. Helikopter tersebut juga disiagakan untuk misi darurat di Rantau, Lhokseumawe, dan Pangkalan Susu.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga turut berupaya mempercepat pemulihan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menekankan pentingnya pemulihan pasokan listrik dan BBM. Prioritas utama adalah mengembalikan penerangan listrik, dengan PT PLN (Persero) mendatangkan infrastruktur sementara dan menggunakan pesawat militer Hercules untuk mengangkut tiang listrik vital karena kendala akses jalan.
Pertamina juga aktif berkoordinasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, serta aparat keamanan untuk membuka jalur evakuasi dan distribusi di titik-titik kritis. Selain penyaluran energi, bantuan kemanusiaan juga disalurkan melalui program Pertamina Peduli, termasuk pemberian 5 kiloliter (KL) BBM jenis Dexlite kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara untuk mendukung operasional kendaraan penanganan bencana.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan membeli BBM sesuai kebutuhan, serta tetap berhati-hati saat mengisi di area yang tergenang banjir. Proses pemulihan dan normalisasi penyaluran BBM ke SPBU-SPBU terdampak diharapkan dapat berangsur normal dalam 2-3 hari ke depan seiring membaiknya kondisi cuaca dan terbukanya jalur-jalur alternatif.