
PT MRT Jakarta (Perseroda) menargetkan pembangunan Moda Raya Terpadu (MRT) Fase 3 atau Lintas Timur-Barat akan dimulai pada akhir tahun 2026. Kepastian ini menyusul proses pengadaan proyek yang akan memasuki tahap tender pada kuartal IV tahun 2025.
Menurut Division Head of Project Management for Construction 1 MRT Jakarta, Sony Desta, pihaknya saat ini masih dalam tahap persiapan tender proyek MRT Fase 3. Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Weni Maulina, juga mengonfirmasi bahwa penandatanganan kontrak diproyeksikan pada tahun 2026, dengan konstruksi dimulai tak lama setelahnya, dan operasi komersial ditargetkan pada tahun 2032. Kegiatan persiapan awal, termasuk pembebasan lahan dan relokasi utilitas, sudah dimulai pada tahun 2025.
Proyek Lintas Timur-Barat ini secara keseluruhan akan membentang sepanjang sekitar 84,1 hingga 87 kilometer, menghubungkan Balaraja di Banten hingga Cikarang di Jawa Barat, dengan sekitar 33,7 kilometer melewati wilayah DKI Jakarta. Fase 1 Tahap 1 akan membentang sepanjang 24,5 kilometer (beberapa sumber menyebut 22,7 kilometer) dari Tomang di Jakarta Barat hingga Medan Satria di Bekasi. Segmen ini akan mencakup 21 stasiun dan akses menuju depo sepanjang 5,9 kilometer di Rorotan, Jakarta Utara.
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), Tuhiyat, menjelaskan bahwa pendanaan untuk proyek ini sangat besar, mencapai Rp 160 triliun untuk keseluruhan Lintas Timur-Barat. Untuk Fase 1 Tahap 1, PT MRT Jakarta telah mengantongi komitmen pinjaman senilai sekitar Rp 14 triliun hingga Rp 14,5 triliun. Pendanaan ini akan menggunakan skema pembiayaan bersama (co-financing) dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Asian Development Bank (ADB). Proporsi pendanaan yang diterapkan adalah 49% dari pemerintah pusat melalui hibah dan 51% oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui pinjaman.
Proyek ini dianggap lebih masif dan berpotensi menghadapi tantangan yang lebih besar dibandingkan fase sebelumnya, terutama karena rute yang jauh lebih panjang. Meski demikian, PT MRT Jakarta berkomitmen untuk menjalankan pembangunan sesuai rencana. Lintas Timur-Barat ini juga akan terintegrasi dengan jalur Utara-Selatan di Stasiun Thamrin.
Pembangunan MRT Lintas Timur-Barat diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan kapasitas transportasi di wilayah metropolitan Jakarta yang semakin padat, mengurangi kemacetan, dan mendukung pengembangan kawasan perkotaan.