
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Pertamina (Persero) memastikan bahwa ketersediaan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di seluruh wilayah cukup aman hingga akhir tahun 2025, termasuk untuk menghadapi periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Jaminan ini disampaikan di tengah proyeksi peningkatan konsumsi dan upaya antisipasi berbagai kondisi.
Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Wahyudi Anas, menegaskan bahwa stok BBM Pertalite di tanah air saat ini sangat aman. Pertamina Patra Niaga, sebagai subholding Commercial & Trading Pertamina, telah mengambil langkah strategis dengan menambah stok Pertalite sebanyak 1,4 juta kiloliter (KL). Penambahan ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pasokan BBM bersubsidi menjelang periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026, yang bersumber dari kombinasi peningkatan produksi kilang domestik dan impor tambahan.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putro, mengonfirmasi bahwa penambahan stok ini bertujuan meningkatkan ketahanan pasokan nasional dari angka 20,2 hari menjadi target 22 hingga 23 hari. Selain Pertalite, penambahan stok juga berlaku untuk Pertamax Turbo, yang ditingkatkan melalui produksi kilang Cilacap dan Balongan serta impor.
Untuk Biosolar, realisasi hingga 20 November 2025 mencapai 98,14 persen dari kuota, menyisakan 1,86 persen dari 18,69 kiloliter (KL). Situasi ini digambarkan sebagai "sangat sensitif dan ketat". Namun demikian, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) memastikan stok Biosolar di Pulau Timor tetap aman dan terkendali hingga akhir Desember 2025, dengan penyesuaian kuota jika lembaga penyalur melebihi alokasi. Sementara itu, stok minyak tanah hingga akhir Desember 2025 tercatat 2,94 persen, dengan realisasi 97,06 persen dari kuota. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara juga mengungkapkan bahwa kuota BBM subsidi tahun 2025 sebesar 19,4 juta kiloliter baru terpakai 72 persen hingga akhir Oktober 2025, menunjukkan pasokan yang memadai.
Proyeksi konsumsi BBM untuk tahun 2025 menunjukkan angka yang signifikan. Konsumsi Pertalite diproyeksikan mencapai 32,1 juta KL hingga 32,2 juta KL, dengan estimasi lain mencapai 31,33 juta KL hingga 33,23 juta KL. Sementara itu, konsumsi Solar diproyeksikan antara 18,6 juta KL hingga 18,7 juta KL, atau 18,33 juta KL hingga 19,44 juta KL. Untuk minyak tanah, proyeksi konsumsi berada di angka 525 ribu KL hingga 527 ribu KL, atau 0,514 juta KL hingga 0,546 juta KL.
Dalam rangka menjamin kelancaran distribusi, Pertamina Patra Niaga memperkuat armada distribusinya dengan penambahan kapal dan 346 mobil tangki darat. Sekitar 1.800 SPBU dipastikan akan beroperasi 24 jam mulai pertengahan Desember, didukung oleh operasional terminal BBM pada akhir pekan. Pertamina juga telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Natal dan Tahun Baru lebih awal, yakni sejak 13 November 2025, untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem, terutama di wilayah terpencil dan pulau-pulau yang sulit dijangkau.
Kementerian ESDM turut memastikan pasokan BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta seperti Shell, BP-AKR, dan Vivo akan kembali normal menjelang akhir November 2025. Negosiasi pembelian base fuel antara Shell dan Pertamina Patra Niaga telah memasuki tahap final, sementara BP-AKR dan Vivo telah lebih dulu menyepakati pembelian base fuel dari Pertamina Patra Niaga. ExxonMobil dilaporkan masih memiliki stok yang memadai.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa pihaknya akan menjaga ketat stok BBM dan LPG, mengingat jarak yang berdekatan antara Natal 2025 dan Lebaran 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga secara langsung mengecek ketersediaan stok BBM untuk memastikan cadangan tetap di atas 20 hari.