:strip_icc()/kly-media-production/medias/3046087/original/088905900_1581323845-20200210-Pasar-Saham-di-Asia-Turun-Imbas-Wabah-Virus-Corona-4.jpg)
Bursa saham Asia bergerak menguat signifikan pada hari Rabu, 26 November 2025, menyusul reli di Wall Street, di tengah semakin kuatnya harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga acuannya pada Desember 2025. Sentimen positif ini mendorong kenaikan di sebagian besar indeks utama kawasan.
Di Jepang, indeks acuan Nikkei 225 melonjak 1,85% dan Topix menguat 0,9%, dengan saham-saham teknologi memimpin penguatan. Saham pemasok peralatan uji semikonduktor Advantest naik 2,5%, sementara Tokyo Electron menguat 0,61%. Di Korea Selatan, indeks Kospi naik 2,67% dan Kosdaq menguat 2,49%. Indeks S&P/ASX 200 Australia melesat 1,2%. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong mengindikasikan pembukaan yang lebih tinggi. Indeks MSCI Emerging Asia juga terpantau melaju 1,2% dalam tiga sesi kenaikan berturut-turut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia, STI Singapura, dan KLCI Malaysia masing-masing naik 0,6%.
Optimisme pasar didorong oleh meningkatnya probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember mendatang, yang menurut perangkat CME FedWatch, kini mencapai lebih dari 84%. Angka ini meningkat tajam dari sekitar 40% pada pekan sebelumnya.
Beberapa faktor turut memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga ini. Presiden The Fed New York, John Williams, sebelumnya menyatakan bahwa masih ada ruang untuk penurunan suku bunga "dalam waktu dekat", menekankan bahwa pelemahan pasar tenaga kerja kini menjadi ancaman ekonomi yang lebih besar daripada inflasi yang lebih tinggi. Data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan pelemahan, seperti pertumbuhan penjualan ritel yang lebih lambat dari perkiraan, moderasi di pasar tenaga kerja, dan penurunan kepercayaan konsumen, juga mendukung pandangan dovish The Fed. Laporan ADP menyebutkan bahwa perusahaan swasta mengurangi jumlah pekerja rata-rata 13.500 dalam empat pekan terakhir bulan lalu.
Selain itu, sentimen positif semakin diperkuat oleh laporan Bloomberg yang menyebutkan Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, Kevin Hassett, tengah dipertimbangkan sebagai kandidat terdepan untuk menjadi Ketua The Fed berikutnya. Pelaku pasar memandang Hassett sebagai sosok yang lebih mungkin mendukung kebijakan suku bunga rendah, sejalan dengan preferensi Presiden Donald Trump. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyampaikan kepada CNBC bahwa ada "peluang yang sangat besar" Trump akan menunjuk ketua The Fed baru sebelum Natal.
Penguatan ini menjadi pembalikan arah dari pekan sebelumnya, di mana pasar Asia sempat melemah secara keseluruhan karena data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan meredupkan harapan pemangkasan suku bunga, menyebabkan saham-saham teknologi besar seperti SoftBank dan Samsung Electronics mengalami penurunan. Kini, dengan prospek suku bunga yang lebih rendah, selera risiko investor kembali meningkat, khususnya pada saham-saham teknologi dan pertumbuhan di kawasan Asia. Analis memprediksi bahwa mata uang Asia, terutama yang berimbal hasil tinggi, berpotensi menguat lebih jauh berkat peningkatan arus modal dan selera risiko yang meningkat jika The Fed memangkas suku bunga.