
Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menunjukkan kenaikan signifikan pada Kamis, 27 November 2025, mencetak harga jual sebesar Rp 2.387.000 per gram. Angka ini melonjak Rp 9.000 dibandingkan perdagangan hari sebelumnya, Rabu, 26 November 2025, yang tercatat Rp 2.378.000 per gram. Kenaikan juga terjadi pada harga pembelian kembali (buyback) yang ikut terkerek Rp 9.000 menjadi Rp 2.248.000 per gram pada hari ini.
Meskipun saat ini mencapai level tinggi, harga emas Antam masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) yang sempat menyentuh Rp 2.487.000 per gram pada 21 Oktober 2025. Namun, pergerakan harga ini menegaskan tren positif yang telah berlangsung sepanjang tahun. Untuk pecahan lainnya, emas 0,5 gram dibanderol Rp 1.243.500, sementara 2 gram seharga Rp 4.714.000, dan 5 gram mencapai Rp 11.710.000.
Lonjakan harga emas Antam tak lepas dari sentimen global yang kuat. Harga emas dunia (XAU/USD) telah mencetak rekor baru, menembus level US$ 4.002,95 per ons pada 8 Oktober 2025, setelah melonjak lebih dari 50% sejak awal tahun dan hampir 12% hanya dalam bulan September. Fenomena ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk ketegangan geopolitik global seperti konflik Rusia-Ukraina dan perang Israel-Gaza, yang memicu permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Selain itu, kekhawatiran terhadap ketidakpastian ekonomi global, perlambatan pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa, serta tingginya laju inflasi global sepanjang 2024 hingga 2025, turut memperkuat daya tarik emas. Ekspektasi penurunan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed) juga menjadi pemicu utama. Pejabat The Fed secara terbuka mengisyaratkan dukungan untuk pemangkasan suku bunga, dengan peluang pemangkasan diperkirakan mencapai 80% pada pertemuan Desember, yang menekan biaya peluang memegang emas. Pelemahan dolar AS juga memperkuat daya beli emas bagi investor di luar Amerika Serikat.
Di pasar domestik, nilai tukar rupiah yang cenderung melemah terhadap dolar AS juga berkontribusi pada mahalnya harga emas Antam. Hari ini, kurs dolar AS berada di kisaran Rp 16.585 untuk jual dan Rp 16.645 untuk beli berdasarkan e-Rate BCA. Faktor internal lainnya adalah terhentinya produksi emas PT Freeport Indonesia pasca insiden longsor di tambang bawah tanah Grasberg pada September 2025 lalu, yang mengurangi pasokan domestik.
Para analis memproyeksikan kenaikan harga emas akan berlanjut. Goldman Sachs memperbarui proyeksi harga emas dunia untuk akhir tahun 2025 hingga mencapai US$ 3.700 per ons, sementara WisdomTree memperkirakan harga emas bisa menembus angka US$ 3.450 hingga US$ 3.600 pada awal tahun 2026. Untuk harga emas Antam, analis bahkan memproyeksikan dapat menembus Rp 2,7 juta per gram pada akhir tahun 2025. Sebagian besar analis memperkirakan tren bullish akan semakin solid, didukung oleh permintaan tinggi, terutama dari konsumen di Asia seperti Tiongkok dan India, serta pembelian oleh bank sentral negara-negara berkembang. Investor diharapkan memantau data ekonomi AS, keputusan bank sentral, risiko geopolitik, dan sentimen pasar untuk mengukur lintasan harga emas ke depan.