
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan bahwa investasi China di sektor hilirisasi kelapa di Indonesia diperkirakan akan menyerap hingga 10.000 tenaga kerja. Proyek ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa di dalam negeri.
Rosan menjelaskan, tahap pertama investasi ini sudah menyerap sekitar 5.000 pekerja, dan ditargetkan akan mencapai 10.000 pekerja pada tahun depan seiring berjalannya proyek. Nilai investasi awal yang telah masuk untuk proyek hilirisasi kelapa ini mencapai 100 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,6 triliun hingga Rp 1,65 triliun. Meskipun angka investasi ini mungkin terlihat lebih kecil dibandingkan sektor mineral, Rosan menekankan bahwa dampak penyerapan tenaga kerjanya sangat signifikan.
Dua perusahaan asal China terlibat dalam proyek ini, salah satunya adalah Zhejiang FreeNow Food Co., Ltd., dan yang lainnya adalah konsorsium gabungan perusahaan China-Indonesia. Salah satu pabrik pengolahan kelapa ini telah memulai tahap konstruksi dan telah dilakukan groundbreaking. Zhejiang FreeNow Food Co., Ltd. diketahui telah menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan, Indonesia, sejak 24 Desember 2024 untuk memanfaatkan potensi kelapa lokal.
Hilirisasi kelapa ini penting karena sebelumnya kelapa dari Indonesia banyak diekspor dalam bentuk mentah ke China, menyebabkan harga jual di tingkat petani menjadi rendah akibat tingginya biaya logistik. Dengan adanya pabrik pengolahan langsung di Indonesia, biaya logistik dapat ditekan, sehingga harga jual kelapa di tingkat petani diharapkan dapat meningkat. Proyek ini juga diyakini akan menciptakan struktur harga yang lebih sehat dan penyerapan kelapa yang lebih stabil.
Satu fasilitas proyek yang sedang berjalan diperkirakan akan menyerap 500 juta butir kelapa per tahun sebagai bahan baku. Melalui hilirisasi, kelapa akan diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah tinggi seperti minyak kelapa, santan, dan virgin coconut oil (VCO), yang selama ini sebagian besar masih dijual dalam bentuk bahan mentah. Rosan menegaskan bahwa tujuan utama hilirisasi adalah memastikan nilai tambah dan penciptaan lapangan kerja tetap berada di Indonesia. Secara keseluruhan, proyek investasi hilirisasi ini direncanakan akan berjalan dalam tiga tahap, dengan masing-masing tahap bernilai sekitar 100 juta dolar AS.