
Industri penerbangan global sedang mengalami kekacauan yang meluas menyusul perintah penarikan mendesak dari Airbus untuk sekitar 6.000 unit pesawat keluarga A320 miliknya. Langkah ini, yang memengaruhi lebih dari separuh armada A320 di seluruh dunia, dipandang sebagai salah satu penarikan terbesar dalam sejarah 55 tahun Airbus dan telah memicu pembatalan serta penundaan penerbangan yang signifikan di seluruh benua.
Perintah penarikan ini dikeluarkan pada Jumat, 28 November 2025, menyusul instruksi darurat dari Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) dan Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA). Pemicunya adalah insiden serius pada 30 Oktober 2025, ketika penerbangan JetBlue A320 mengalami "penurunan ketinggian tak terduga" atau "nosedive" pada ketinggian jelajah 35.000 kaki, menyebabkan penumpang cedera dan pendaratan darurat. Investigasi selanjutnya mengungkapkan bahwa radiasi matahari yang intens dapat merusak data penting pada sistem kendali penerbangan, khususnya di Komputer Elevator dan Aileron (ELAC B) dengan versi perangkat lunak L104. Perangkat lunak yang rentan terhadap radiasi matahari ini dapat merusak data di Komputer Elevator dan Aileron.
Perbaikan utama melibatkan pengembalian ke versi perangkat lunak sebelumnya, yang membutuhkan waktu "beberapa jam" untuk sebagian besar pesawat. Namun, sekitar 1.000 jet A320 yang lebih tua memerlukan perubahan perangkat keras yang lebih rumit, yaitu penggantian fisik komputer kendali penerbangan, yang diperkirakan memakan waktu "berminggu-minggu".
Dampak terhadap operasional maskapai dan penumpang sangat luas. Maskapai penerbangan di Amerika Serikat, Amerika Selatan, Eropa, India, Selandia Baru, dan Asia telah melaporkan pembatalan dan penundaan penerbangan massal selama periode perjalanan puncak.
American Airlines, sebagai operator A320 terbesar di dunia, menyatakan bahwa antara 209 hingga 340 dari 480 pesawat A320 miliknya memerlukan perbaikan, dengan sebagian besar diperkirakan selesai pada Sabtu, 29 November 2025, dan setiap pesawat membutuhkan sekitar dua jam pengerjaan. Di Australia, Jetstar membatalkan 90 penerbangan dan 34 dari 85 pesawat A320/1 miliknya terdampak. Maskapai Kolombia, Avianca, melaporkan bahwa lebih dari 70% armadanya yang berjumlah sekitar 100 jet terkena dampak, memaksa maskapai tersebut menutup penjualan tiket hingga 8 Desember dan memperingatkan "gangguan signifikan" selama 10 hari ke depan.
Di Jepang, All Nippon Airways (ANA) membatalkan 65 hingga 95 penerbangan domestik pada Sabtu dan memperkirakan gangguan lebih lanjut, memengaruhi sekitar 9.400 hingga 13.200 penumpang. Sementara itu, di Selandia Baru, Air New Zealand membatalkan 20 penerbangan dan semua pesawat A320neo mereka akan menerima pembaruan perangkat lunak. Di India, regulator penerbangan menyatakan 338 pesawat Airbus terdampak, dengan IndiGo telah menyelesaikan reset perangkat lunak pada 143 dari 200 pesawatnya.
Maskapai besar lainnya seperti Lufthansa (Jerman), easyJet (Inggris), Wizz Air, Air France, dan British Airways juga terkena dampak dan berupaya mengelola gangguan. Di Indonesia, sedikitnya 38 unit pesawat A320 yang dioperasikan oleh maskapai nasional seperti Batik Air, Super Air Jet, Citilink, Indonesia AirAsia, Pelita Air, dan TransNusa berpotensi merasakan dampak langsung mulai Sabtu, 30 November 2025, pukul 06.59 WIB, dengan perbaikan yang diperkirakan memakan waktu 3-5 hari untuk downgrade perangkat lunak.
Situasi ini diperparah oleh kapasitas fasilitas perawatan maskapai yang sudah tegang akibat penundaan perbaikan mesin yang ada dan kekurangan staf, menambah tekanan pada upaya untuk mengatasi penarikan ini. Penarikan ini terjadi hanya beberapa minggu setelah A320 melampaui Boeing 737 sebagai model pesawat paling banyak dikirimkan di dunia, sebuah pencapaian yang kini dibayangi oleh masalah keselamatan dan kekacauan operasional.