
PT PLN (Persero) telah mengukir prestasi gemilang dengan meraih penghargaan di ajang detikcom Awards 2025, kategori "Perusahaan Terdepan dalam Tekan Emisi Karbon". Penghargaan prestisius ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen PLN yang masif dan aktif dalam upaya dekarbonisasi serta penguatan transisi menuju energi bersih di Indonesia. Acara penganugerahan berlangsung pada Selasa, 25 November 2025, di The Westin Jakarta.
Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menyatakan bahwa penghargaan ini menjadi momentum krusial bagi perseroan untuk terus memperkuat kontribusinya dalam agenda lingkungan nasional. "detikcom Awards 2025 adalah apresiasi yang sangat berharga bagi kami. Upaya menekan emisi karbon membutuhkan konsistensi jangka panjang, dan penghargaan ini menjadi motivasi untuk bekerja lebih baik lagi," ujar Adi. Ia menambahkan bahwa PLN akan terus meningkatkan inovasi guna mendukung pengembangan ekonomi hijau.
PLN dinilai sebagai garda terdepan dalam penurunan emisi karbon nasional melalui serangkaian program strategis. Salah satu langkah paling signifikan adalah keterlibatan aktif PLN dalam perdagangan karbon. Melalui anak usahanya, PT PLN Indonesia Power, PLN secara aktif menjual kredit karbon bersertifikat SPE-GRK di Bursa Karbon Indonesia. Tak hanya itu, PLN juga menjadi perusahaan Indonesia pertama yang merambah perdagangan karbon internasional, dengan sukses menjual 1,78 juta ton CO2e Sertifikat Pengurangan Emisi (SPE) kepada pembeli luar negeri pada Januari 2025. Transaksi ini merupakan dukungan nyata terhadap target pemerintah untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060, sekaligus memperluas peluang investasi hijau di Indonesia.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, PLN menargetkan penambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 52,9 GW, meliputi baseload, variabel, serta sistem penyimpanan energi (ESS). Inisiatif dekarbonisasi lainnya mencakup pembatalan 13,3 GW rencana Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dalam RUPTL 2019-2028, yang diperkirakan menghindari emisi CO2 sebesar 1,8 miliar ton selama 25 tahun ke depan. Pembatalan PPA PLTU sebesar 1,3 GW juga turut menghindari sekitar 200 juta ton emisi CO2.
Selain itu, PLN juga mengganti 1,1 GW PLTU dengan pembangkit EBT dan 800 MW PLTU dengan pembangkit berbahan bakar gas, yang secara kolektif berpotensi menurunkan emisi sebesar 300 juta ton CO2. Program co-firing, yaitu pencampuran biomassa dengan batu bara di PLTU, telah berhasil menekan emisi karbon sebesar 921.119 ton CO2 sepanjang tahun 2024 dan menghasilkan 814 GWh energi hijau.
PLN juga aktif mengembangkan infrastruktur pendukung seperti green transmission line dan teknologi smart grid untuk menangani intermitensi pembangkit EBT. Komitmen ini sejalan dengan target nasional dan Paris Agreement untuk mencapai Net Zero Emissions pada 2060. Sebagai bagian dari upaya ini, PLN menjalin kemitraan strategis dengan Pemerintah Norwegia melalui Global Green Growth Institute (GGGI) dan perusahaan Jepang Carbon Ex Inc. untuk memperkuat pasar karbon global.
Dukungan internasional juga datang dari Asian Development Bank (ADB) yang menyetujui pinjaman senilai 470 juta dolar AS atau sekitar Rp7,86 triliun untuk program transisi energi bersih PLN. Program ini diharapkan dapat mengurangi emisi karbon dioksida hingga 2,5 juta metrik ton per tahun dari tahun 2026 hingga 2031. Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo sebelumnya menekankan bahwa tugas PLN saat ini tidak hanya menyediakan listrik, tetapi juga menjaga lingkungan dan menurunkan emisi demi generasi masa depan. Ia menegaskan bahwa upaya-upaya ini dilakukan secara sukarela dan merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung masa depan energi yang bersih dan berkelanjutan.