
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah menetapkan target ambisius bagi sektor manufaktur di Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih (Net Zero Emission/NZE) pada tahun 2050, satu dekade lebih cepat dari target NZE nasional yang ditetapkan pada tahun 2060. Keputusan ini didasari oleh tanggung jawab Kementerian Perindustrian dalam membina sektor manufaktur agar mampu memproduksi produk bernilai tinggi dan berdaya saing global.
Percepatan target ini juga selaras dengan meningkatnya permintaan pasar akan produk-produk hijau, regulasi keberlanjutan dari negara tujuan ekspor seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan EU Deforestation Regulation (EUDR), serta preferensi investor yang semakin mengutamakan aspek keberlanjutan, di mana sekitar 57% investor menunjukkan minat yang lebih besar terhadap investasi berkelanjutan. Pembandingan dengan negara-negara pesaing juga menjadi acuan penting dalam mengakselerasi transformasi industri.
Namun, percepatan target ini bukannya tanpa tantangan. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi pemerintah adalah adanya perbedaan pandangan di kalangan pelaku usaha, yang sebagian masih melihat upaya dekarbonisasi sebagai beban biaya, bukan investasi. Pemerintah terus berupaya meyakinkan para pelaku industri bahwa realisasi NZE di sektor manufaktur merupakan investasi yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka menengah maupun panjang.
Untuk mewujudkan target ini, Kementerian Perindustrian telah menyusun berbagai strategi dan arahan. Salah satunya adalah Peta Jalan Dekarbonisasi Industri, sebuah dokumen hidup yang akan terus diperbarui seiring perkembangan data dan teknologi. Peta jalan ini mencakup lima pilar utama strategi dekarbonisasi: peningkatan efisiensi energi dan material, penggantian bahan bakar dan material dengan alternatif yang lebih bersih termasuk energi terbarukan, transformasi proses produksi dengan teknologi rendah karbon, elektrifikasi dan penggunaan listrik rendah karbon, serta pemanfaatan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) untuk netralisasi emisi. Prioritas utama ditekankan pada pengurangan emisi, bukan sekadar netralisasi.
Sembilan sektor industri telah diidentifikasi sebagai prioritas dekarbonisasi karena intensitas energinya yang tinggi dan kontribusinya signifikan terhadap emisi industri. Sektor-sektor tersebut meliputi industri semen, amonia, logam (besi dan baja), pulp dan kertas, tekstil, kimia, keramik dan kaca, makanan dan minuman, serta transportasi/otomotif. Sektor industri secara keseluruhan menyumbang sekitar 34% emisi nasional pada tahun 2023.
Sebagai langkah konkret, Kementerian Perindustrian juga tengah memperkuat ekosistem industri hijau melalui pembentukan Green Industry Service Company (GISCO). GISCO dirancang sebagai platform layanan terpadu yang menyediakan pendampingan teknis, asesmen efisiensi sumber daya, perhitungan jejak emisi, rencana transisi hijau, hingga fasilitas pembiayaan hijau. Inisiatif ini telah mendapat persetujuan soft loan dan grant dari Bank Dunia. Selain itu, Kementerian Perindustrian telah menerbitkan 149 Sertifikasi Standar Industri Hijau hingga Desember 2024, diiringi dengan 62 Standar Industri Hijau dan 46 regulasi terkait.
Pemerintah juga sedang menyiapkan kerangka regulasi yang lebih kuat, termasuk revisi Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK), serta penyusunan regulasi terkait pengurangan emisi industri di tingkat fasilitas produksi. Regulasi ini akan mengatur pengendalian emisi polutan udara dan gas rumah kaca, penetapan batas atas emisi gas rumah kaca, mekanisme perdagangan karbon wajib (Emission Trading System/ETS) sektor industri, serta penetapan harga karbon mandatory. Selain itu, insentif fiskal dan kemudahan investasi juga disiapkan untuk mendorong transisi industri hijau.
Pada tahun 2023, sektor industri memberikan kontribusi sebesar 18,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih dari 19,3 juta tenaga kerja. Dengan peta jalan dekarbonisasi yang komprehensif, pemerintah optimistis dapat menjaga daya saing industri sambil mencapai target emisi nol bersih pada tahun 2050.