
Layanan navigasi penerbangan di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dipastikan tetap beroperasi dengan aman dan lancar menyusul bencana hidrometeorologi parah yang melanda ketiga provinsi tersebut sejak akhir November 2025. Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi telah menyebabkan lumpuhnya sejumlah akses jalan darat, pemadaman listrik, serta gangguan telekomunikasi, namun tidak menghentikan operasional penerbangan vital di kawasan itu.
Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, menegaskan komitmen perusahaannya untuk menjaga keberlangsungan layanan navigasi penerbangan dalam kondisi darurat seperti ini. Langkah-langkah cepat, terukur, dan terkoordinasi telah diambil AirNav Indonesia untuk memastikan kelancaran dan keamanan navigasi, sekaligus mendukung penuh operasi kemanusiaan yang sebagian besar bergantung pada jalur udara.
Sebagai respons awal, AirNav Indonesia sempat menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) TIBA (Traffic Information Broadcast by Aircraft) di Bandara Lhokseumawe, Takengon, dan Mandailing Natal. Penerbitan NOTAM ini disebabkan oleh kendala akses dan sejumlah personel navigasi yang terdampak langsung oleh banjir di lokasi-lokasi tersebut. Namun, pihak manajemen segera mengaktifkan Posko Operasional Navigasi Penerbangan di Indonesia Network Management Center (INMC) sebagai pusat kendali dan pemantauan layanan di seluruh wilayah terdampak.
Untuk menjaga stabilitas operasional, AirNav Indonesia melakukan penambahan personel operasional dan teknis. Bantuan personel didatangkan dari kantor cabang besar seperti Makassar Air Traffic Service Center (MATSC), Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC), Halim Perdanakusuma, dan Pekanbaru, untuk memperkuat pelayanan di Kantor Cabang Aceh dan Medan. Penugasan langsung personel juga dilakukan ke unit layanan di Lhokseumawe dan Takengon guna memastikan operasional bandara tetap berjalan, khususnya untuk mendukung misi kemanusiaan dari Basarnas, TNI, BNPB, serta lembaga kemanusiaan lainnya. Setelah pemulihan personel, NOTAM TIBA di ketiga bandara tersebut kini telah dicabut.
Sementara itu, PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) juga memastikan tiga bandara utama di wilayah terdampak, yakni Bandara Sultan Iskandar Muda di Aceh, Bandara Minangkabau di Padang, Sumatera Barat, dan Bandara Kualanamu di Deli Serdang, Sumatera Utara, tetap beroperasi normal melayani penerbangan. Meski demikian, calon penumpang diimbau untuk tiba di bandara 2-3 jam sebelum keberangkatan guna mengantisipasi potensi gangguan akses transportasi menuju bandara dan menyelesaikan proses check-in serta keamanan dengan lancar. InJourney Airports menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung serta melayani berbagai penerbangan, termasuk yang terkait dengan pemulihan pascabencana.
Bencana hidrometeorologi yang dipicu cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar ini telah menyebabkan penetapan status tanggap darurat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di Aceh, 18 kabupaten/kota terdampak, dengan 96 korban meninggal dunia dan puluhan ribu warga mengungsi. Sumatera Utara mencatat 216 jiwa meninggal dunia dan ribuan lainnya terdampak di 17 kabupaten/kota. Sementara itu, Sumatera Barat melaporkan 116 korban meninggal dunia dan 94 jiwa hilang per 30 November 2025, dengan 16 kabupaten/kota dan 28 kecamatan terdampak.
Meskipun dampak bencana begitu luas dan masif, koordinasi antara penyedia layanan navigasi dan pengelola bandara berhasil menjaga sektor penerbangan tetap aman dan berfungsi, krusial bagi upaya penanganan darurat dan distribusi logistik.