
Pegadaian bersama Universitas Halu Oleo (UHO) telah memperkuat program pemberdayaan pandai besi di Pulau Binongko sebagai bagian dari komitmen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) Pegadaian. Program ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas produksi dan membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi para pengrajin lokal.
Dalam seremoni yang dilaksanakan pada Rabu, 19 November, Pegadaian menyalurkan bantuan berupa 100 tandon air dan 100 mesin gerinda kepada 100 pandai besi di Binongko. Deputi Bisnis Pegadaian Area Kendari, Riolan Manik, menyatakan bahwa pemberdayaan tidak dapat berjalan hanya oleh satu pihak, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan dunia usaha. Ia menambahkan bahwa Pegadaian, melalui program ESG dan dukungan UMKM, berkomitmen membantu para pandai besi Binongko agar naik kelas, baik dari segi kualitas, akses pasar, maupun penguatan kelembagaan.
Kerja sama ini juga mencakup pendampingan teknis, pelatihan peningkatan kualitas, pengembangan branding, dan akses distribusi bagi para pandai besi. Upaya ini diharapkan dapat menjaga keunggulan tradisional pandai besi Binongko sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan pasar modern. Bupati Wakatobi, Haliana, mengapresiasi kontribusi Pegadaian dan menilai program ini selaras dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ekonomi masyarakat serta menjaga keberlanjutan produk lokal Wakatobi.
Program pemberdayaan ini mencerminkan komitmen Pegadaian dalam mendorong pembangunan inklusif di wilayah kepulauan dan daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), serta memperkuat kontribusinya terhadap agenda ekonomi nasional dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Fokus utamanya meliputi SDG 8 tentang pekerjaan layak, SDG 9 mengenai industri dan inovasi, SDG 4 terkait pendidikan, dan SDG 17 tentang kemitraan. Pulau Binongko sendiri dikenal sebagai "Pulau Pandai Besi" di Sulawesi Tenggara, dengan tradisi pandai besi yang telah menjadi identitas turun temurun masyarakatnya.