
Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) bersiap untuk memperluas cakupan lahannya secara signifikan hingga mencapai 4.300 hektare, menandai ambisi besar dalam mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi nasional. Perluasan ini merupakan bagian dari visi KITB untuk menjadi pusat pertumbuhan industri baru yang berbasis hilirisasi, mencakup produksi dan pengolahan, logistik dan distribusi, serta pariwisata.
KITB, yang telah resmi berstatus sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang sejak Maret 2025, menawarkan insentif fiskal yang menarik bagi para investor. Direktur Utama PT Kawasan Industri Terpadu Batang, Ngurah Wirawan, dan Kepala Divisi Corporate Secretary KITB, M. Burhan Murtaki, menyatakan bahwa pengembangan ini akan terus berlanjut hingga Klaster 1, Klaster 2, dan Klaster 3 selesai seluruhnya.
Saat ini, KITB telah menyelesaikan pembangunan infrastruktur dasar pada Fase 1 Klaster 1 seluas 450 hektare, yang seluruhnya telah terisi oleh penyewa. Total Klaster 1 sendiri mencakup area seluas 3.100 hektare yang dibagi menjadi tiga fase. Pengembangan saat ini berada pada Fase 1 dan Fase 2, dengan luas masing-masing 450 hektare dan 650 hektare. Secara keseluruhan, area seluas 4.300 hektare ini mencakup lahan di sisi utara dan selatan jalan tol.
Investasi yang masuk ke KITB menunjukkan tren positif. Realisasi nilai investasi dari 18 perusahaan di KITB per Juli 2024 mencapai Rp 13,34 triliun hingga Rp 14,8 triliun, dengan serapan 19.000 pekerja. Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menargetkan dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, KITB mampu menyerap hingga 250.000 tenaga kerja. Saat ini, sudah ada 34 investor yang bergabung, delapan di antaranya sudah memulai produksi. Diharapkan seluruh 34 investor ini sudah beroperasi penuh pada tahun 2028.
Sektor-sektor industri yang menjadi fokus pengembangan Fase 1 meliputi kimia, otomotif, tekstil, logistik, teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi canggih. Beberapa perusahaan besar yang telah berinvestasi di antaranya adalah PT Yih Quan Footwear Indonesia dari Taiwan yang telah memulai ekspor sepatu Hoka, LG dari Korea Selatan yang akan membangun pabrik katoda pada September 2024, KCC Glass yang akan menjadi pabrik kaca terbesar di dunia dan mulai berproduksi pada September 2024, serta Wavin dari Belanda yang memproduksi pipa plastik. Selain itu, KITB juga akan mengakomodasi industri strategis seperti diesel nabati, panel surya, komponen kendaraan listrik, dry port, serta kawasan komersial dan perhotelan.
Presiden Joko Widodo telah meresmikan operasional KITB pada 26 Juli 2024, menegaskan perannya sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja. KITB dikelola oleh PT Kawasan Industri Terpadu Batang, sebuah konsorsium BUMN yang terdiri dari PT Pembangunan Perumahan, PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma, PT Perkebunan Nusantara IX, dan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Batang.
Pengembangan KITB mengusung konsep "The Smart & Sustainable Industrial Estate" dan dirancang terintegrasi dengan perumahan pekerja, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, serta rantai pasok antar pabrik. Pemerintah mendukung penuh pembangunan ini, termasuk melalui penyertaan modal negara non-tunai berupa aset Barang Milik Negara senilai Rp 3,3 triliun untuk infrastruktur pendukung seperti jalan kawasan, rusun pekerja, instalasi air bersih dan limbah, serta tempat pembuangan sampah terpadu. Selain itu, KITB juga telah meluncurkan zona komersial dan residensial baru yang menawarkan peluang investasi di berbagai sektor seperti hotel, zona edukasi, pusat perbelanjaan premium, SPBU, lapangan golf internasional, dan kawasan hunian premium, dengan ambisi menciptakan kota mandiri dan modern.