
Pemberian uang Lebaran, atau yang lazim disebut "salam tempel" atau "angpao", telah menjadi tradisi yang mengakar kuat di Indonesia selama perayaan Idulfitri. Tradisi ini diyakini telah berlangsung lama, bahkan ada kemungkinan terpengaruh dari budaya Tionghoa yang memberikan angpao saat Tahun Baru Imlek, dan juga memiliki kesamaan dengan kebiasaan di Timur Tengah pada masa Dinasti Fatimiyah dan Ottoman. Lebih dari sekadar kebiasaan, tradisi ini merupakan wujud berbagi rezeki, kepedulian, dan kasih sayang, serta bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi. Bagi anak-anak, uang Lebaran juga dapat berfungsi sebagai hadiah atas keberhasilan berpuasa sebulan penuh, bahkan menjadi dorongan agar mereka termotivasi untuk berpuasa di tahun berikutnya.
Dalam praktiknya, memberikan uang Lebaran memerlukan perencanaan matang agar tidak mengganggu kondisi keuangan pribadi. Langkah pertama adalah menyusun daftar siapa saja yang akan menerima angpao. Daftar ini membantu dalam mengalokasikan dana secara teratur dan menyesuaikan jumlahnya sesuai dengan kemampuan finansial. Penting untuk menetapkan anggaran yang realistis dan tidak memaksakan diri di luar kemampuan, karena pemberian angpao bersifat sukarela, bukan kewajiban. Menyiapkan dana jauh-jauh hari dengan menabung secara bertahap juga sangat disarankan untuk menghindari pengeluaran besar sekaligus. Selain itu, bedakan alokasi antara gaji bulanan dengan Tunjangan Hari Raya (THR); gaji untuk kebutuhan rutin, sedangkan THR dapat difokuskan untuk kebutuhan Lebaran, termasuk angpao. Membuat catatan pengeluaran juga krusial untuk memantau arus kas dan menghindari pemborosan.
Mengenai besaran uang Lebaran yang diberikan, prinsip keadilan menjadi kunci, yakni menyesuaikannya dengan kebutuhan dan usia penerima. Untuk anak-anak prasekolah, nominal Rp5.000 hingga Rp10.000 dianggap sesuai karena kebutuhan mereka umumnya terbatas pada jajanan atau mainan. Anak usia Sekolah Dasar (SD) bisa diberikan kisaran Rp15.000 hingga Rp20.000, mengingat mereka mulai memahami penggunaan uang dan memiliki kebutuhan seperti alat tulis. Sementara itu, untuk anak Sekolah Menengah Pertama (SMP), nominal Rp25.000 hingga Rp50.000, bahkan hingga Rp100.000, dapat dipertimbangkan mengingat kebutuhan dan hobi mereka yang semakin berkembang. Bagi anak usia Sekolah Menengah Atas (SMA), minimal Rp50.000 atau bisa mencapai Rp100.000 dinilai pantas karena kebutuhan mereka yang semakin kompleks menjelang dewasa. Rekomendasi lain mencakup Rp50.000 untuk anak usia 2-5 tahun, Rp100.000 untuk 6-15 tahun, Rp150.000 untuk remaja 16-17 tahun, dan Rp200.000 untuk 18-19 tahun. Perlu diingat, kedekatan hubungan juga bisa menjadi pertimbangan, misalnya nominal untuk keponakan yang orang tuanya membawa makanan bisa berbeda dengan yang tidak. Saat memberikan uang, ajarkan pula anak-anak tentang pentingnya menabung dan mengelola keuangan agar tidak boros.
Aspek etika juga penting dalam pemberian uang Lebaran. Keikhlasan adalah hal utama agar pemberian tersebut bernilai ibadah dan membawa manfaat. Pemberi disarankan untuk tidak mengungkit-ungkit nominal yang telah diberikan. Penting untuk tidak terjebak dalam rasa gengsi atau keinginan untuk memberikan THR berlebihan yang justru dapat mengganggu keuangan pribadi.
Selain nominal uang tunai, kreativitas dalam memberikan angpao juga bisa menambah kesan. Memasukkan uang ke dalam amplop adalah praktik umum, dan dapat diselipkan tips mengelola uang. Amplop bisa didesain unik dan menarik, misalnya amplop pop-up atau berbentuk sajadah, yang biasanya lebih disukai anak-anak. Alternatif lain bahkan mencakup pemberian dalam bentuk voucher makan, voucher pijat, atau logam mulia seperti emas, yang juga dapat menjadi sarana edukasi investasi bagi generasi muda. Sebelum hari raya, menukarkan uang baru dengan pecahan kecil di bank dapat mempermudah proses pembagian dan menghindari biaya jasa penukaran uang.