:strip_icc()/kly-media-production/medias/1817917/original/058473800_1514865745-20180102-IHSG-FF3.jpg)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis, 27 November 2025, di zona merah, tergelincir 0,65 persen ke level 8.545,86. Penurunan ini terjadi setelah IHSG sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada sesi sebelumnya, menandai fase koreksi yang memicu aksi jual di pasar modal domestik.
Analis mencermati bahwa pelemahan IHSG hari ini utamanya dibebani oleh tekanan di sektor finansial dan teknologi. Koreksi ini dianggap wajar mengingat indeks telah membentuk level tertinggi baru, yang memicu aksi ambil untung atau profit taking oleh investor. Selain itu, sejumlah laporan juga menyoroti kemungkinan adanya arus keluar modal asing (outflow) pada emiten-emiten perbankan.
Data statistik RTI Business menunjukkan sebanyak 382 saham mengalami koreksi, sementara 283 saham menguat, dan 144 saham lainnya stagnan. Total frekuensi perdagangan mencapai sekitar 2,96 juta kali transaksi, dengan volume perdagangan mencapai 51,91 miliar saham dan nilai transaksi harian sebesar Rp27,69 triliun.
Meskipun bursa saham regional Asia secara mayoritas ditutup menguat, didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve pada bulan depan, IHSG tidak mampu mengikuti tren positif tersebut. Sektor lain yang juga mencatat pelemahan signifikan adalah barang konsumen non-primer yang turun 0,74 persen, diikuti sektor kesehatan yang merosot 0,52 persen.
Di tengah koreksi IHSG, nilai tukar Rupiah justru menunjukkan penguatan sekitar 0,12 persen terhadap dolar Amerika Serikat, berada di kisaran Rp16.635 per dolar AS. Ini menunjukkan bahwa tekanan pada pasar saham lebih bersifat spesifik terhadap sentimen domestik dan rotasi sektor, dibandingkan dengan pelemahan makroekonomi secara keseluruhan. Investor kini akan mencermati rilis data ekonomi penting yang akan datang untuk mencari petunjuk arah pergerakan pasar selanjutnya.