
Mobilisasi alat berat untuk memulihkan akses Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Tarutung-Sipirok menghadapi hambatan serius akibat banjir dan tanah longsor yang dipicu curah hujan tinggi di wilayah tersebut. Akibatnya, jalur vital yang menghubungkan Tapanuli Utara dengan Tapanuli Selatan ini terputus total sejak beberapa hari terakhir, menjebak ratusan kendaraan dan melumpuhkan lalu lintas.
Bencana longsor dilaporkan terjadi di beberapa titik krusial, termasuk di Desa Labu Pining, Kecamatan Adian Koting, Tapanuli Utara, serta di Desa Marsada dan Desa Aek Latong, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan. Material longsor berupa tanah dan bebatuan menimbun badan jalan secara menyeluruh, membuat kendaraan tidak dapat bergerak maju maupun mundur.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU), Diana Kusumastuti, menjelaskan bahwa upaya pengerahan alat berat ke lokasi terkendala oleh kondisi banjir yang merendam jalan akses. Trailer pengangkut alat berat kesulitan melintasi genangan air. Meskipun demikian, Kementerian PU telah menghubungi balai setempat untuk mempersiapkan pengerahan alat berat segera setelah banjir surut. Tercatat, Kementerian PU telah mengirimkan total 21 unit alat berat ke Sumatera Utara, namun hanya dapat beroperasi di lokasi yang sudah terjangkau.
Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara, Kombes Ferry Walintukan, sebelumnya pada Kamis (27/11/2025), mengonfirmasi terputusnya Jalinsum Tarutung-Sipirok. Ia menyebutkan bahwa proses evakuasi material longsor terkendala oleh hujan deras yang masih mengguyur lokasi. Cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi juga dilaporkan oleh Camat Sipirok, Sahrudin Perwira, sebagai pemicu longsor yang terjadi sejak dini hari pada Selasa (25/11/2025). Kasat Lantas Polres Tapanuli Selatan, Iptu James Sihombing, juga menambahkan bahwa cuaca gerimis di sekitar lokasi membuat proses pembersihan harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.
Selain dampak pada infrastruktur jalan, bencana ini juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga dan menyebabkan setidaknya lima warga di Tapanuli Utara mengalami luka-luka. Tim gabungan dari berbagai instansi, termasuk kepolisian dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Selatan, telah berada di lokasi untuk melakukan monitoring, pendataan, dan penanganan darurat. Pemerintah telah menetapkan status Tanggap Darurat selama tujuh hari, dengan kemungkinan perpanjangan sesuai kebutuhan.
Meskipun tantangan masih besar, Wamen PU Diana Kusumastuti optimis bahwa akses jalan dapat segera dibuka kembali. Ia mengacu pada prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa Siklon Tropis Senyar yang memicu cuaca ekstrem di Sumatera Utara diperkirakan akan mereda. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk mencari jalur alternatif sementara waktu dan tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi lainnya.