Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tom Lee Optimis: Bitcoin Bisa Melonjak Dua Kali Lipat dari Level $90.000

2026-01-11 | 18:50 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T11:50:57Z
Ruang Iklan

Tom Lee Optimis: Bitcoin Bisa Melonjak Dua Kali Lipat dari Level $90.000

Harga Bitcoin telah stabil di sekitar $90.000, memicu optimisme signifikan di kalangan analis pasar, dengan Tom Lee dari Fundstrat Global Advisors menjadi salah satu prediktor paling bullish, yakin bahwa aset kripto ini dapat melambung dua kali lipat dalam waktu dekat. Per 11 Januari 2026, Bitcoin diperdagangkan pada sekitar $90.589, menandakan ketahanan di tengah sentimen pasar yang saat ini diliputi kehati-hatian.

Tom Lee, seorang veteran Wall Street dan salah satu pendiri Fundstrat Global Advisors, secara konsisten menjadi pendukung Bitcoin sejak 2017. Ia sebelumnya telah memprediksi kenaikan signifikan, termasuk Reli bullish 2020-2021 dan mencapai harga tertinggi baru pada 2025. Prediksi terbaru Lee, yang diungkapkan pada 6 Januari 2026, di CNBC Squawk Box, menunjukkan bahwa Bitcoin akan mencapai level tertinggi baru sepanjang masa pada akhir Januari 2026, melampaui puncaknya di $126.000 pada Oktober 2025. Lebih jauh, Lee menghidupkan kembali target harga $200.000-$250.000 untuk Bitcoin pada tahun 2026, berargumen bahwa siklus halving empat tahunan tradisional mungkin mulai tidak relevan.

Optimisme Lee dan analis lainnya didasarkan pada beberapa faktor kunci yang membentuk lanskap pasar kripto. Adopsi institusional telah meningkat secara dramatis, terutama setelah persetujuan Exchange-Traded Funds (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat pada Januari 2024. ETF ini telah menarik aliran modal masuk bersih lebih dari $54,75 miliar sejak diluncurkan, mendorong harga Bitcoin dari sekitar $45.000 menjadi lebih dari $120.000. Sebanyak 31% dari Bitcoin yang diketahui kini dipegang oleh institusi. Instutusi keuangan global terus mempercepat adopsi produk dan layanan aset digital, membangun lonjakan minat institusional yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2025. Perusahaan seperti Morgan Stanley bahkan telah mengajukan diri ke SEC untuk meluncurkan ETF yang melacak Bitcoin, Solana, dan Ethereum, menunjukkan pergeseran signifikan dalam hubungan Wall Street dengan aset digital. Laporan menunjukkan bahwa institusi diperkirakan akan sepenuhnya terlibat dalam ruang kripto pada tahun 2026.

Selain itu, lingkungan regulasi semakin matang. Tahun 2026 diharapkan menjadi tahun yang menentukan bagi regulasi kripto di Amerika Serikat, dengan fokus pada implementasi aturan, bukan lagi perdebatan. Undang-undang seperti GENIUS Act tentang stablecoin dan kemajuan dalam reformasi struktur pasar telah memberikan kejelasan hukum yang sangat dibutuhkan oleh investor institusional. Stabilitas regulasi ini diharapkan menarik investasi institusional lebih lanjut dan mengintegrasikan kripto ke dalam sistem perbankan tradisional. Analis di 21 Analytics memprediksi bahwa pasokan stablecoin dapat tumbuh dari $300 miliar menjadi $1 triliun, sementara aset yang di-tokenisasi dapat melonjak melebihi $500 miliar.

Meskipun Bitcoin telah menunjukkan volatilitas harga di masa lalu, introduction ETF Bitcoin telah secara signifikan mengurangi volatilitas harga sebesar 55%, mengubah Bitcoin dari aset yang dikenal dengan pergerakan ekstrem menjadi aset dengan pergerakan yang lebih terukur. Pergeseran ini, ditambah dengan kondisi makroekonomi yang mendukung, seperti kebijakan moneter AS yang lebih dovish dan kekhawatiran krisis utang AS serta depresiasi dolar, semakin memperkuat daya tarik Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap risiko keuangan tradisional. Bank-bank sentral telah menempatkan investor pada posisi yang mengharuskan mereka mengambil risiko untuk mengimbangi inflasi, menjadikan Bitcoin pilihan yang menarik.

Namun, ada juga pandangan yang lebih hati-hati. Meskipun optimisme meluas, beberapa ahli mengingatkan tentang volatilitas inheren Bitcoin dan potensi dampak perubahan regulasi atau guncangan pasar. Selain itu, meskipun ETF telah menyerap pasokan Bitcoin, volume perdagangan spot secara keseluruhan di Bitcoin dan altcoin telah menurun, menunjukkan partisipasi spot yang terbatas sejauh ini. Hal ini menunjukkan bahwa akumulasi tenang oleh institusi sedang berlangsung, tanpa memicu "stampede" spekulatif yang lebih luas dari investor ritel.

Siklus halving Bitcoin, yang terakhir terjadi pada April 2024, secara historis telah menyebabkan penurunan pasokan baru Bitcoin, yang berpotensi mendorong harga naik jika permintaan tetap kuat. Namun, pasar telah matang secara signifikan sejak halving terakhir pada 2020, dan ada lebih banyak cryptocurrency yang bersaing. Halving berikutnya diperkirakan akan terjadi pada 2028.

Apabila Bitcoin mencapai $180.000 atau bahkan $250.000, hal ini tidak hanya akan menandai rekor baru, tetapi juga menunjukkan pergeseran fundamental dalam status Bitcoin. Pergerakan cepat menuju $180.000 dalam beberapa minggu terakhir akan secara dramatis mengubah ekspektasi di seluruh pasar keuangan. Proyeksi ini datang pada saat Bitcoin sudah diperdagangkan mendekati level tertinggi baru-baru ini, didukung oleh aliran masuk ETF yang kuat, kondisi likuiditas yang membaik, dan kepercayaan yang diperbarui di antara investor ritel dan institusional. Dengan semakin banyaknya lembaga keuangan yang mengalokasikan sebagian portofolio mereka ke Bitcoin melalui ETF dan solusi kustodian, serta dukungan pemerintah AS yang meningkat untuk sektor ini, Bitcoin dapat melihat pertumbuhan eksponensial. Para ahli seperti dari VanEck dan Bernstein memprediksi Bitcoin dapat mencapai $180.000 hingga $200.000 pada tahun 2026. JPMorgan juga memproyeksikan harga Bitcoin $150.000 pada akhir tahun 2026 jika kondisi utama selaras, termasuk regulasi yang melonggar, ekonomi global yang stabil, dan adopsi institusional yang berkelanjutan.