Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tether Melesat Jadi Pemilik Bitcoin Terbesar ke-5 Dunia

2026-01-03 | 02:09 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-02T19:09:35Z
Ruang Iklan

Tether Melesat Jadi Pemilik Bitcoin Terbesar ke-5 Dunia

Penyedia stablecoin terbesar di dunia, Tether, secara signifikan memperluas portofolio Bitcoin-nya pada kuartal keempat 2025, membeli tambahan sekitar 8.888 BTC dan meningkatkan total kepemilikannya menjadi lebih dari 96.000 Bitcoin. Akuisisi ini secara resmi menempatkan Tether sebagai pemegang Bitcoin terbesar kelima di dunia, berdasarkan analisis on-chain oleh ahli seperti Ember dan data dari Arkham Intelligence, serta menjadikannya pemegang kedua terbesar di antara perbendaharaan korporasi swasta. Nilai keseluruhan kepemilikan Bitcoin Tether kini mencapai sekitar $8,4 miliar hingga $8,46 miliar, berdasarkan harga pasar yang berlaku saat ini.

Langkah strategis ini mencerminkan kebijakan Tether yang diumumkan pada Mei 2023 untuk mengalokasikan hingga 15% dari keuntungan operasional triwulanan yang direalisasikan ke dalam Bitcoin. Chief Executive Officer Tether, Paolo Ardoino, menegaskan pembelian tersebut melalui media sosial, menggarisbawahi keyakinan perusahaan terhadap Bitcoin sebagai aset jangka panjang yang andal. Strategi ini bertujuan untuk memperkuat dan mendiversifikasi cadangan USDT, melengkapi kepemilikan tradisional seperti obligasi Treasury AS.

Tether, sebagai penerbit stablecoin USDT yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar di dunia, telah menunjukkan pergeseran evolusioner dalam strategi cadangannya. Secara historis, perusahaan ini menghadapi pengawasan ketat mengenai komposisi cadangannya dan transparansi. Namun, sejak tahun 2022, Tether telah secara progresif mengurangi eksposur terhadap commercial paper dan beralih ke aset yang lebih konservatif dan likuid, termasuk obligasi Treasury AS dan emas fisik. Hingga kuartal ketiga 2025, Tether memegang lebih dari $100 miliar dalam sekuritas Treasury AS, menempatkannya di antara 20 pemegang terbesar secara global, dan sekitar 116 metrik ton emas fisik, menjadikannya salah satu dari 30 pemegang emas teratas di dunia. Keputusan untuk memasukkan Bitcoin secara signifikan ke dalam cadangan, yang dimulai pada September 2022, menandakan pandangan bahwa aset digital berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penyimpan nilai jangka panjang.

Pembelian Bitcoin pada Q4 2025 terjadi di tengah periode ketika harga Bitcoin sempat menurun di bawah $90.000 akibat koreksi pasar yang lebih luas. Perilaku akumulasi yang strategis ini, yang ditandai dengan pola pembelian berulang sekitar 8.888 BTC, menunjukkan pendekatan manajemen perbendaharaan yang disiplin daripada spekulasi jangka pendek. Angka "8888" sendiri memiliki resonansi budaya di pasar Asia, melambangkan kemakmuran dan keberuntungan.

Implikasi dari posisi Tether sebagai salah satu pemegang Bitcoin terbesar menjangkau seluruh ekosistem kripto. Analis pasar berpendapat bahwa akumulasi Bitcoin oleh Tether dapat bertindak sebagai "kekuatan penstabil" atau "lantai" bagi harga Bitcoin, terutama mengingat pengaruh Tether terhadap likuiditas pasar. Pergerakan ini memberikan sinyal kepercayaan institusional yang kuat terhadap Bitcoin, berpotensi menarik lebih banyak korporasi dan institusi keuangan untuk mengintegrasikan aset digital ke dalam strategi perbendaharaan mereka.

Namun, penekanan Tether pada diversifikasi cadangan juga menarik pengawasan berkelanjutan. Beberapa lembaga pemeringkat, seperti S&P, telah menurunkan peringkat USDT karena kekhawatiran tentang transparansi dan risiko konsentrasi. Para kritikus menyuarakan bahwa tanpa audit yang sepenuhnya transparan, langkah-langkah besar seperti ini dapat memperkenalkan risiko tersembunyi, meskipun Tether telah meningkatkan pengungkapannya. Fluktuasi kepemilikan Bitcoin Tether sebelumnya di tahun 2025 juga sempat memicu spekulasi penjualan, yang kemudian dibantah oleh Ardoino sebagai kontribusi kepada Twenty One Capital, sebuah perusahaan yang didukung Tether. Keputusan perbendaharaan Tether akan terus memengaruhi dinamika pasar yang lebih luas di tahun 2026 dan seterusnya, menyoroti persimpangan yang berkembang antara keuangan tradisional dan aset digital.