Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rp 196,9 Triliun: Proyeksi Penerbitan Obligasi Korporasi di Tahun 2026

2026-01-23 | 23:23 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T16:23:00Z
Ruang Iklan

Rp 196,9 Triliun: Proyeksi Penerbitan Obligasi Korporasi di Tahun 2026

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi di Indonesia pada tahun 2026 berpotensi mencapai Rp 196,9 triliun, didorong oleh kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) dan ekspansi perusahaan di tengah ekspektasi penurunan suku bunga acuan. Proyeksi optimis ini datang setelah pasar obligasi korporasi mencetak rekor pada tahun 2025, meskipun angka 2026 diperkirakan lebih moderat karena tidak adanya faktor pendorong "one-off" signifikan.

Penerbitan surat utang korporasi pada tahun 2026 diperkirakan berada dalam kisaran Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah proyeksi sebesar Rp 175,77 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2025 yang diproyeksikan mencapai rekor tertinggi hingga Rp 284,3 triliun. Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, menjelaskan lonjakan pada tahun 2025 banyak dipengaruhi oleh faktor satu kali, seperti penerbitan Patriot Bond Danantara senilai sekitar Rp 61 triliun. Sebagai perbandingan, total emisi obligasi dan sukuk korporasi yang tercatat sepanjang tahun 2024 mencapai Rp 137,66 triliun.

Beberapa emiten telah mengumumkan rencana penerbitan obligasi pada awal 2026. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) akan menerbitkan obligasi senilai Rp 1,5 triliun pada 14 Januari 2026. Sementara itu, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana menerbitkan obligasi senilai Rp 500 miliar pada 8 Januari 2026, dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) akan menerbitkan obligasi senilai Rp 500 miliar pada 23 Januari 2026.

Praktisi Pasar Modal Raden Bagus Bima menilai ramainya rencana penerbitan obligasi pada awal 2026 dipengaruhi oleh kombinasi kebutuhan refinancing serta pendanaan ekspansi. Penurunan suku bunga acuan dinilai berperan penting karena mampu menekan biaya dana (cost of fund) emiten, membuat awal tahun 2026 menjadi waktu yang relatif tepat untuk mengunci pendanaan jangka menengah hingga panjang. Presiden Direktur Pefindo, Irmawati, menegaskan optimisme ini tetap dipertahankan meskipun nilai tukar rupiah menunjukkan pelemahan dan sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat. Kebutuhan pembiayaan dan jatuh tempo obligasi yang tinggi menjadi pendorong utama pasar surat utang.

Secara historis, pasar obligasi korporasi telah menjadi alternatif pendanaan penting bagi perusahaan di Indonesia. Dengan volume obligasi jatuh tempo yang mencapai sekitar Rp 218,9 triliun pada Oktober 2025, aliran dana diperkirakan akan kembali ke Surat Berharga Negara (SBN) maupun obligasi korporasi yang masih menawarkan imbal hasil menarik. Pasar obligasi korporasi yang kuat menyediakan diversifikasi sumber modal selain pinjaman bank, memungkinkan perusahaan untuk mengelola profil utang dan stabilitas arus kas dengan lebih efektif. Irmawati menyatakan bahwa obligasi korporasi dan pinjaman bank bersifat saling melengkapi sebagai pilihan pembiayaan bagi emiten.

Namun, prospek ini tidak lepas dari tantangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan volatilitas pasar global masih akan dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga global, dinamika harga komoditas, serta kondisi geopolitik. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah (SBN), seperti yang terlihat pada awal Januari 2026 di tenor 10 tahun yang naik dari 6,119% menjadi 6,326%, dapat menjalar ke obligasi korporasi, meningkatkan biaya penerbitan utang baru atau refinancing. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyatakan fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat dan terjaga memberikan ruang yang memadai untuk penguatan kinerja pasar modal secara berkelanjutan.

Bagi investor, pasar obligasi korporasi tetap menarik karena sentimen investor institusi domestik diperkirakan tetap positif. Obligasi dianggap instrumen investasi yang stabil di tengah volatilitas pasar, menawarkan potensi capital gain dan imbal hasil yang lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pefindo bersama Bursa Efek Indonesia, Indonesia Infrastructure Finance (IIF), dan BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) bahkan menggelar seminar untuk mengedukasi pelaku usaha mengenai optimalisasi penerbitan surat utang dengan credit enhancement, bertujuan untuk meningkatkan peringkat kredit dan daya tarik obligasi.

Meskipun proyeksi 2026 lebih rendah dari realisasi 2025, fundamental pasar obligasi korporasi tetap solid. Kebutuhan pendanaan korporasi untuk ekspansi dan refinancing yang berkelanjutan, diiringi oleh lingkungan suku bunga yang diperkirakan lebih kondusif, menopang aktivitas penerbitan surat utang ini. Pasar akan terus memantau pergerakan suku bunga domestik dan global, serta stabilitas nilai tukar rupiah sebagai faktor penentu utama keberhasilan realisasi proyeksi ini.