
Peningkatan kapasitas produksi dan kualitas bahan bakar minyak (BBM) nasional menjadi prioritas utama Indonesia, yang diwujudkan melalui Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan oleh PT Pertamina (Persero). Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex berdiri sebagai jantung modernisasi kilang ini, mengubah residu minyak mentah bernilai rendah menjadi produk bahan bakar dan petrokimia bernilai tinggi, serta beroperasi dengan kapasitas pengolahan 90.000 barel per hari, menjadikannya fasilitas pengolahan residu minyak berat terbesar di Indonesia. Pengoperasian awal unit RFCC Complex telah dimulai pada 10 November 2025, menandai langkah signifikan dalam proyek strategis nasional yang menelan investasi sekitar 7,4 miliar dolar AS atau setara Rp120 triliun hingga Rp126 triliun.
Secara historis, Indonesia menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi domestik, dengan produksi minyak mentah yang berfluktuasi. Pada semester I-2025, produksi minyak mentah hanya mencapai 578 ribu barel per hari (bph), di bawah target APBN 605 ribu bph. Sementara rata-rata produksi harian minyak pada tahun 2024 mencapai 580.224 barel per hari. Ketergantungan pada impor BBM, terutama solar, telah membebani neraca perdagangan dan membatasi ruang fiskal pemerintah. Proyek RDMP Balikpapan ini dirancang untuk mengatasi masalah tersebut dengan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari, atau bertambah 100 ribu barel per hari. Peningkatan ini diproyeksikan dapat mengurangi impor BBM hingga 100 ribu barel per hari, atau berpotensi menghemat impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun, serta mengurangi ketergantungan impor solar mulai April 2026.
RFCC Complex memungkinkan Kilang Balikpapan untuk menghasilkan BBM berkualitas tinggi setara standar Euro V, dengan kandungan sulfur hanya 10 ppm, jauh lebih rendah dibandingkan standar Euro II yang memiliki 2.500 ppm. Peningkatan kualitas ini menjadikan gas buang kendaraan lebih bersih dan menekan polutan berbahaya, sejalan dengan komitmen Indonesia terhadap standar lingkungan yang lebih ketat. Selain itu, kilang yang telah dimodernisasi ini juga mampu memproduksi LPG dalam jumlah signifikan, dengan tambahan produksi sekitar 336 ribu ton per tahun, yang secara bertahap diharapkan menekan ketergantungan impor LPG. Kilang Balikpapan juga akan menghasilkan produk petrokimia baru seperti propilen dan sulfur, yang sebelumnya belum dapat diproduksi.
Progres pembangunan RDMP Balikpapan mencapai 91% pada Agustus 2024, dengan target penyelesaian pada September 2025. Namun, target peresmian sempat mundur dan direncanakan pada 17 Desember 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Total investasi proyek mencapai Rp123 triliun, yang sebagian besar berasal dari ekuitas dan pinjaman yang didukung oleh Export Credit Agency (ECA). Proyek ini juga menyerap hingga 24.000 tenaga kerja pada puncak masa konstruksi pada tahun 2024, memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. Peningkatan Nelson Complexity Index (NCI) Kilang Balikpapan dari 3,7 menjadi 8,0 menandakan peningkatan kompleksitas dan fleksibilitas kilang dalam mengolah minyak mentah beragam menjadi produk bernilai tinggi. Sementara itu, Yield Valuable Product (YVP) melonjak dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen, menunjukkan peningkatan efisiensi dan daya saing kilang yang signifikan.
Modernisasi Kilang Balikpapan melalui RFCC Complex merupakan pilar penting dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional, mengurangi ketergantungan impor, serta mendukung hilirisasi industri petrokimia. Meskipun Indonesia masih akan mengimpor sekitar 400 ribu bopd setelah peningkatan produksi, proyek ini menjadi pijakan strategis jangka panjang. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa RFCC Complex menjadi tulang punggung operasional Kilang Balikpapan dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih dan mewujudkan visi Asta Cita Pemerintah dalam menjaga ketahanan energi.