:strip_icc()/kly-media-production/medias/1816138/original/069258400_1514544766-20171229-ISHG-AY1.jpg)
PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY) baru-baru ini merampungkan dua transaksi afiliasi strategis melalui konversi utang anak usaha menjadi penyertaan saham, dengan total nilai transaksi mencapai Rp27,68 miliar. Langkah ini bertujuan memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan kesehatan keuangan anak perusahaan, serta mengoptimalkan nilai investasi jangka panjang bagi PRAY.
Transaksi pertama melibatkan PT Fortuna Medika Jakarta (FMJ), di mana PRAY mengonversi utang senilai Rp2,35 miliar menjadi tambahan modal. Sementara itu, transaksi kedua berfokus pada PT Fortuna Maju Medika (FMM), dengan konversi utang sebesar Rp25,33 miliar menjadi setoran modal. Setelah konversi, kepemilikan PRAY di FMJ dan FMM masing-masing meningkat menjadi 99,99% dari modal ditempatkan dan disetor. Leona Agustine Karnali, Direktur PRAY, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan upaya korporasi untuk mengurangi beban kewajiban keuangan entitas anak dan pada saat yang sama, mengoptimalkan investasi jangka panjang perseroan.
Hubungan afiliasi dalam transaksi ini timbul karena PRAY merupakan pemegang saham pengendali di kedua anak usaha tersebut. Selain itu, beberapa anggota Direksi dan Dewan Komisaris PRAY juga menjabat posisi serupa di FMJ dan FMM, menegaskan adanya ikatan afiliasi yang kuat. Meskipun demikian, manajemen PRAY menegaskan bahwa transaksi ini tidak termasuk dalam kategori transaksi material atau transaksi benturan kepentingan sesuai dengan POJK Nomor 17/POJK.04/2020 dan POJK 42/2020, namun perseroan wajib melaporkannya kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai bahwa konversi utang ini secara signifikan memperkuat struktur permodalan anak usaha dengan menurunkan liabilitas FMJ dan FMM, sekaligus meningkatkan kualitas neraca konsolidasi PRAY. Tindakan ini juga meningkatkan fleksibilitas pendanaan bagi anak-anak usaha dan memperkuat kontrol operasional PRAY atas aset strategis di lini layanan kesehatan. Abida menambahkan bahwa prospek fundamental PRAY tetap konstruktif, meskipun sahamnya sempat terkoreksi. PRAY menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 15%-20% pada tahun 2026, yang didukung oleh belanja modal agresif untuk ekspansi rumah sakit dan peningkatan layanan.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah PRAY ini mencerminkan strategi konsolidasi internal yang kerap diadopsi oleh perusahaan publik untuk merasionalisasi struktur keuangan grup usaha. Dengan mengubah utang menjadi ekuitas, PRAY tidak hanya mengurangi risiko keuangan pada anak-anak perusahaannya tetapi juga mengamankan posisi kendalinya, yang dapat memfasilitasi sinergi operasional dan strategis di masa mendatang. Perbaikan laba operasional yang ditunjukkan PRAY, meskipun perseroan masih dalam fase investasi, mengindikasikan adanya peningkatan efisiensi yang menjadi fondasi bagi valuasi jangka panjang. Konsolidasi kepemilikan FMJ dan FMM diharapkan mempercepat realisasi sinergi, memperbaiki margin, dan mendukung penciptaan nilai berkelanjutan bagi pemegang saham PRAY. Koreksi harga saham PRAY yang terjadi belakangan ini, menurut analisis, lebih bersifat teknikal dan tidak mencerminkan perubahan fundamental perseroan.