:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
Pasar aset digital kembali menyoroti potensi pergerakan signifikan Bitcoin, dengan beberapa analis mengidentifikasi pola pasar yang mengindikasikan peluang aset kripto utama ini untuk kembali mencapai level 126.200 dolar Amerika Serikat. Prediksi ini muncul di tengah konsolidasi harga Bitcoin saat ini yang berada di kisaran 89.000 hingga 90.000 dolar Amerika Serikat, setelah sebelumnya mencapai puncaknya di 126.200 dolar Amerika Serikat pada Oktober 2025 dan Maret-April 2025.
Analisis teknikal dari pengamat pasar Javon Marks menunjukkan bahwa Bitcoin saat ini mempertahankan struktur "higher low" pada kerangka waktu yang lebih besar. Marks menjelaskan bahwa setiap koreksi signifikan dalam siklus sebelumnya selalu berakhir pada titik yang lebih tinggi dari koreksi sebelumnya, sebuah indikasi kuat bahwa pembeli secara konsisten masuk lebih awal, menandakan akumulasi oleh pemain besar di pasar. Jika pola "higher low" ini terus bertahan, Marks memproyeksikan potensi kenaikan harga sekitar 40% dari level saat ini, mengarah kembali ke area 126.200 dolar Amerika Serikat.
Pola serupa terlihat pada Maret-April 2025, ketika pasokan Bitcoin yang dipegang oleh "paus" – alamat dengan 1.000 hingga 10.000 BTC – meningkat signifikan di tengah pelemahan harga. Perilaku akumulasi ini mendahului kenaikan sekitar 70% yang membawa Bitcoin ke rekor tertinggi baru di sekitar 126.200 dolar Amerika Serikat. Data dari Glassnode menunjukkan bahwa akumulasi oleh kelompok paus yang sama kembali terjadi sejak pertengahan Desember dan berlanjut sepanjang Januari, bahkan ketika Bitcoin mengalami tekanan harga akibat volatilitas terkait isu tarif. Ini menunjukkan bahwa investor besar memanfaatkan penurunan harga sebagai peluang untuk akumulasi, bukan untuk mengurangi posisi.
Selain itu, Bitcoin juga terlihat memantul dari garis tren bawah pola "bull flag," sebuah level yang secara historis bertindak sebagai support sejak akhir November. Setiap sentuhan sebelumnya pada zona support yang meningkat ini menghasilkan reli pemulihan yang cepat, biasanya antara 12% hingga 15% selama dua hingga empat minggu. Jika pola ini bertahan, pergerakan naik berikutnya dapat membawa Bitcoin kembali ke puncak bendera dan ke area 98.000-100.000 dolar Amerika Serikat, dengan potensi penembusan di atas 100.000 dolar Amerika Serikat.
Latar belakang historis menunjukkan bahwa siklus "halving" Bitcoin, yang terakhir terjadi pada April 2024, secara tradisional telah memicu kenaikan harga karena pengurangan pasokan baru. Meskipun puncak pasca-halving pada Oktober 2025 di sekitar 126.200 dolar Amerika Serikat (sekitar 534 hari setelah halving) menunjukkan pola waktu yang mirip dengan siklus 2016, besaran kenaikannya lebih moderat, yaitu sekitar 100% dari harga halving, dibandingkan dengan sekitar 2.900% pada siklus sebelumnya. Penurunan magnitudo ini mungkin mencerminkan struktur pasar yang lebih matang dan kompleks, dengan adopsi institusional yang berkembang dan faktor makroekonomi yang memainkan peran lebih dominan.
Meskipun sentimen pasar saat ini cenderung berhati-hati, sebagian besar karena ketidakpastian makroekonomi, termasuk tekanan tarif Amerika Serikat dan potensi kenaikan imbal hasil obligasi, terdapat sinyal optimisme institusional. Exchange-Traded Funds (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat telah mencatat arus masuk modal, menunjukkan minat institusional yang meningkat dan kepercayaan terhadap stabilitas Bitcoin. Data dari NS3.AI menunjukkan bahwa opsi Bitcoin senilai 1,9 miliar dolar Amerika Serikat yang berakhir pada 23 Januari 2026, menunjukkan prospek yang cukup bullish dengan rasio put/call 0,81.
Namun, beberapa pandangan menyoroti risiko. CEO Twenty One Capital, Jack Mallers, memproyeksikan reli Bitcoin antara 150.000 hingga 200.000 dolar Amerika Serikat pada akhir tahun 2026, melampaui puncak Oktober 2025 di 126.200 dolar Amerika Serikat, meskipun ia memperkirakan kemungkinan penurunan harga dalam jangka pendek. Benjamin Cowen, Pendiri dan CEO Into the Cryptoverse, berpendapat bahwa Bitcoin kemungkinan telah mencapai puncak siklus empat tahunnya dan kini berada dalam pasar bearish yang lebih lambat dan tidak terlalu parah, yang tidak akan berbalik sampai krisis pasar saham memaksa Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan secara agresif. Kenneth Griffin, CEO Citadel, memperingatkan di Davos bahwa imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang mendekati 5% dapat menjadi ancaman serius bagi aset berisiko, mendorong investor untuk mempertimbangkan kembali alokasi modal mereka.
Pergerakan harga Bitcoin yang akan datang akan sangat bergantung pada bagaimana pola teknikal yang diamati berinteraksi dengan dinamika pasar yang lebih luas, termasuk sentimen makroekonomi, arus masuk institusional, dan reaksi terhadap peristiwa pasokan seperti halving. Pergeseran kepemilikan Bitcoin dari pemegang jangka panjang awal ke kelompok pembeli baru yang lebih didorong oleh aksi harga dan kondisi makroekonomi menunjukkan evolusi dalam struktur pasar yang dapat mempengaruhi bagaimana siklus masa depan akan terungkap.