:strip_icc()/kly-media-production/medias/1937644/original/001119200_1519626925-1.jpg)
Kekhawatiran yang berkembang di kalangan analis keuangan menunjuk pada potensi koreksi signifikan harga Bitcoin pada tahun 2026, dengan beberapa pihak memperkirakan penurunan drastis yang dipicu oleh perubahan perilaku investor institusional. Meskipun tahun 2025 ditandai dengan peningkatan adopsi institusional yang memicu stabilitas pasar, munculnya aksi jual dari pemain besar ini dapat membalikkan tren tersebut secara cepat.
Pasar Bitcoin telah mengalami transformasi fundamental sepanjang tahun 2025, beralih dari dominasi ritel menjadi lebih dipengaruhi oleh investor institusional. Dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin spot telah menarik miliaran dolar, dengan lebih dari $50 miliar masuk ke ETF Bitcoin spot di tahun sebelumnya, dan BlackRock saja memimpin dengan $280,12 juta dalam satu hari pada awal Januari 2025. Arus masuk modal institusional ini disebut-sebut telah menstabilkan aksi harga Bitcoin dan mengurangi volatilitas pasar yang tersirat. Namun, di balik narasi stabilitas ini, para ahli mulai melihat adanya kerentanan.
Beberapa analis memproyeksikan skenario suram untuk tahun 2026. Seorang analis dari Altcoin Daily menguraikan potensi skenario penurunan harga Bitcoin pada tahun 2026, memperkirakan adanya pantulan jangka pendek menuju $110.000 sebelum kemudian jatuh ke kisaran $60.000-$65.000, atau bahkan hingga $56.000 pada akhir tahun jika siklus empat tahunan Bitcoin bertahan. Lebih jauh, Jurrien Timmer dari Fidelity Investment, mewakili pandangan tradisional, berpendapat bahwa puncak harga Bitcoin di Oktober 2025 sekitar $125.000 sesuai dengan pola siklus sebelumnya, mengindikasikan bahwa tahun 2026 dapat menjadi "tahun yang lesu" dengan penarikan harga hingga 30-50% dan level support di kisaran $65.000-$75.000. Mike McGlone, ahli strategi dari Bloomberg Intelligence, bahkan menawarkan pandangan yang lebih pesimistis, memperingatkan bahwa Bitcoin dapat menghadapi pembalikan harga yang signifikan, berpotensi kembali ke $10.000 jika likuiditas mengetat dan permintaan spekulatif memudar.
Mekanisme di balik potensi penurunan ini berakar pada konsentrasi kepemilikan Bitcoin di tangan institusi. Jika investor institusional mulai melepas kepemilikan mereka, pasar kemungkinan besar akan mengalami penurunan signifikan, yang kemudian dapat memicu pemegang ritel untuk ikut menjual Bitcoin mereka. Nic Puckrin, analis dan salah satu pendiri Coin Bureau, menegaskan bahwa skenario bear market ekstrem akan membutuhkan konvergensi faktor-faktor seperti pengetatan likuiditas global, lingkungan risk-off yang berkepanjangan, dan kejutan struktural, seperti jika treasury aset digital secara kolektif mulai menjual ke pasar yang sudah rapuh, yang tidak mampu menyerap tingkat pasokan tersebut. Selain itu, meskipun ETF Bitcoin menarik modal besar, sebagian besar akumulasi ini hanya mewakili sekitar 25% dari distribusi long-term holder (pemegang jangka panjang) yang terjadi sepanjang siklus, menunjukkan bahwa sebagian besar pasokan diserap oleh peserta ritel. Ini membantah narasi manipulasi institusional, tetapi juga menunjukkan kerentanan pasar terhadap tekanan jual yang berasal dari berbagai segmen investor.
Tren yang muncul pada tahun 2025 menunjukkan bahwa institusi telah banyak menggunakan strategi opsi seperti covered call untuk menghasilkan keuntungan dari kepemilikan Bitcoin mereka, yang secara tidak langsung menekan potensi kenaikan harga sekaligus mengurangi volatilitas pasar. Meskipun ini menunjukkan kematangan pasar, ini juga berarti bahwa institusi lebih fokus pada manajemen risiko dan perolehan pendapatan daripada spekulasi harga agresif, yang dapat berarti mereka akan lebih cepat menarik modal jika kondisi pasar memburuk.
Meskipun demikian, tidak semua proyeksi bernada pesimistis. Banyak lembaga keuangan besar seperti BlackRock, Fidelity, dan JPMorgan mempertahankan target harga yang optimis untuk Bitcoin di tahun 2026, berkisar antara $143.000 hingga $250.000, dengan alasan berlanjutnya arus masuk ETF, kejelasan regulasi, dan peran Bitcoin sebagai penyimpan nilai yang langka. CEO Ripple, Brad Garlinghouse, secara terbuka memprediksi Bitcoin dapat mencapai $180.000 pada akhir tahun 2026, mengutip minat institusional yang lebih kuat dan kejelasan regulasi. Namun, perdebatan tentang apakah siklus halving empat tahunan Bitcoin masih relevan di era institusional ini semakin intens, dengan beberapa ahli berpendapat bahwa dinamika pasar telah berubah secara signifikan.
Implikasi dari peningkatan keterlibatan institusional adalah bahwa Bitcoin semakin berkorelasi dengan pasar keuangan tradisional, seperti indeks NASDAQ 100. Hal ini meningkatkan sensitivitasnya terhadap faktor-faktor ekonomi makro, seperti likuiditas dan suku bunga. Pasar yang lebih "ketat" ini, yang lebih dibentuk oleh mekanisme pasar daripada momentum spekulatif, memerlukan pengawasan ketat terhadap aliran modal institusional dan kondisi ekonomi makro global untuk memahami arah pergerakannya. Pergeseran sentimen atau kebijakan di antara investor institusional memiliki kapasitas untuk menciptakan gelombang kejutan yang signifikan di pasar kripto global.