Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Neraca Perdagangan & Inflasi Topang IHSG ke Rekor Tertinggi Baru

2026-01-06 | 01:40 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-05T18:40:33Z
Ruang Iklan

Neraca Perdagangan & Inflasi Topang IHSG ke Rekor Tertinggi Baru

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia menembus rekor tertinggi sepanjang masa pada Senin, 5 Januari 2026, ditutup menguat 1,27 persen atau 111,06 poin ke level 8.859,19, didorong oleh fundamental ekonomi domestik yang kokoh, terutama neraca perdagangan yang berkelanjutan surplus dan inflasi yang terkendali. Pencapaian ini menandai puncak dari serangkaian penguatan pasar yang konsisten, melampaui 24 rekor tertinggi yang telah dicetak IHSG sepanjang tahun 2025.

Penguatan signifikan ini mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencatatkan surplus sebesar 2,66 miliar dolar Amerika Serikat (AS), meningkat dari 2,4 miliar dolar AS pada Oktober 2025. Ini memperpanjang rekor surplus perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan sepanjang Januari hingga November 2025 mencapai 38,54 miliar dolar AS, melonjak tajam dibandingkan 9,30 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun 2024. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini pada Senin (5/1/2026) mengungkapkan bahwa surplus ini ditopang oleh kinerja sektor nonmigas yang mencapai 4,64 miliar dolar AS pada November 2025, terutama dari ekspor berbasis sumber daya alam seperti lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Bank Indonesia (BI) menilai surplus neraca perdagangan ini positif untuk menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Bersamaan dengan kinerja eksternal yang kuat, inflasi di dalam negeri tetap terjaga dalam target yang ditetapkan. BPS melaporkan inflasi Desember 2025 tercatat 0,64 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,92 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka inflasi tahunan sepanjang 2025 sebesar 2,92 persen ini berada dalam kisaran target Bank Indonesia yang stabil antara 1,5 persen hingga 3,5 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan laju sebesar 4,58 persen. Stabilitas harga ini merupakan faktor krusial yang menciptakan lingkungan kondusif bagi investasi dan konsumsi domestik.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menjelaskan bahwa penguatan IHSG sejalan dengan bursa regional Asia dan didukung oleh rilis data ekonomi domestik yang positif, khususnya neraca perdagangan yang surplus dan inflasi yang terjaga. Sektor-sektor pendorong utama kenaikan IHSG pada perdagangan Senin (5/1/2026) antara lain transportasi dan logistik dengan lonjakan 2,21 persen, disusul sektor barang baku yang naik 2,08 persen, dan sektor energi yang menguat 1,76 persen. Sektor perbankan juga tetap menjadi penopang utama dengan bobot terbesar di indeks.

Secara historis, pasar modal Indonesia telah menunjukkan resiliensi yang signifikan. Sepanjang 2025, IHSG mencetak 24 rekor tertinggi, menegaskan tren penguatan berkelanjutan. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi sebelumnya menyatakan bahwa kinerja pasar modal domestik pada November 2025 melanjutkan tren positif, dengan IHSG ditutup di level 8.508,71 dan kapitalisasi pasar saham mencapai 15.711 triliun rupiah, didorong oleh net buy investor asing.

Meskipun terdapat tantangan global seperti ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi di beberapa negara, Indonesia berhasil mempertahankan daya tarik investasinya. Pelaku pasar cenderung mengabaikan kekhawatiran geopolitik setelah serangan AS terhadap Venezuela, mengalihkan fokus ke data ekonomi China yang menunjukkan aktivitas bisnis ekspansif. Para ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan stabil di kisaran 5,0 hingga 5,6 persen, didukung oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Pemerintah dan BI juga menargetkan inflasi tetap rendah dan terkendali dalam kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen pada tahun 2026. Kondisi ini memberikan fondasi kuat bagi pasar saham untuk melanjutkan momentum positifnya di masa mendatang, meskipun tetap memerlukan kewaspadaan terhadap fluktuasi harga pangan dan energi global serta dampak perubahan iklim.