:strip_icc()/kly-media-production/medias/5182875/original/042479600_1744109077-20250408-Penutupan_IHSG-HER_4.jpg)
Pasar modal global memasuki tahun 2026 dengan prospek yang memadukan optimisme pertumbuhan ekonomi yang tangguh dengan kewaspadaan terhadap tekanan inflasi yang persisten dan dinamika geopolitik yang tak terduga. Di tengah lanskap ini, saham-saham konglomerasi di Indonesia diproyeksikan tetap menjadi pilihan utama bagi investor, meskipun dengan pergeseran fokus dari spekulasi pertumbuhan semata ke fundamental yang kuat.
Ekonomi global diperkirakan akan menunjukkan ketahanan, dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) stabil sekitar 2,8 persen pada tahun 2026, meskipun ada pandangan dari OECD yang memperkirakan perlambatan menjadi 2,9 persen dari 3,2 persen pada tahun 2025. Amerika Serikat diperkirakan mempertahankan pertumbuhan yang baik, didukung oleh ledakan investasi pada kecerdasan buatan (AI) dan stimulus fiskal menjelang pemilihan paruh waktu pada November 2026. Namun, ketegangan perdagangan dan dampak tarif masih menjadi kekhawatiran yang dapat menekan aktivitas ekonomi, terutama di beberapa sektor manufaktur dan elektronik. Sementara itu, ekonomi Tiongkok diperkirakan akan melambat, menambah kompleksitas pada prospek global.
Kebijakan moneter global pada 2026 akan ditandai dengan pemangkasan suku bunga yang lebih moderat oleh Federal Reserve (The Fed) dibandingkan tahun sebelumnya, dengan proyeksi suku bunga acuan di kisaran 3,25 persen hingga 3,50 persen. Gubernur Federal Reserve Bank of Philadelphia Anna Paulson menyatakan bahwa pemangkasan tambahan mungkin tepat dilakukan pada akhir 2026, bergantung pada kondisi ekonomi yang stabil. Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) juga diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan sekitar 50 basis poin, sejalan dengan The Fed, yang berpotensi mendorong peningkatan aktivitas bisnis dan investasi di pasar saham domestik. Namun, beberapa pembuat kebijakan The Fed masih memiliki perbedaan pandangan terkait risiko inflasi dan pengangguran.
Inflasi global diperkirakan akan mereda, namun dengan tren yang bervariasi. Di Amerika Serikat, inflasi kemungkinan tetap "lengket" di atas 3 persen, didorong oleh sektor jasa yang kuat dan risiko tarif. Sebaliknya, Eropa dan Asia diperkirakan akan mempertahankan tingkat inflasi yang rendah. Di Indonesia, target inflasi untuk 2026 ditetapkan dalam koridor 2,5 persen ± 1 persen (antara 1,5 persen hingga 3,5 persen), namun harga pangan yang volatil dan harga yang diatur pemerintah (misalnya bahan bakar dan tarif listrik), ditambah potensi konflik geopolitik, dapat mendorong inflasi melampaui batas atas.
Risiko geopolitik tetap menjadi faktor penentu signifikan bagi pasar modal pada 2026. Konflik di Timur Tengah dan potensi ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela dapat memicu kenaikan harga energi dan menyebabkan investor global bersikap "risk-off," memicu aliran dana keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri telah menyiapkan skenario untuk mengamankan pasar modal Indonesia di tengah volatilitas global yang dipengaruhi oleh suku bunga, harga komoditas, dan geopolitik.
Di tengah dinamika makroekonomi ini, saham-saham konglomerasi di Indonesia diperkirakan akan terus menjadi motor penggerak utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sepanjang 2025, saham-saham ini berkontribusi signifikan terhadap rekor tertinggi IHSG dan kapitalisasi pasar yang menembus Rp16.000 triliun. Chory Agung Ramdhani, Customer Engagement & Market Analyst Departemen Head BRI Danareksa Sekuritas, menyarankan investor untuk berfokus pada sektor domestik dan melihat beberapa saham konglomerat, seperti PTRO, CUAN, dan BRPT dari Grup Prajogo Pangestu, serta BRMS, BUMI, dan VKTR dari Grup Bakrie, sebagai pilihan menarik. Namun, ia menekankan pentingnya strategi "stock picking" atau seleksi saham secara cermat karena pemulihan ekonomi yang masih tentatif.
Pergeseran mendasar dalam strategi investasi saham konglomerasi pada 2026 adalah fokus pada pertumbuhan yang berbasis fundamental, bukan sekadar spekulasi. Surya Rianto, Founder dan CEO Mikirduit, mengingatkan investor agar bersikap rasional terhadap harga saham konglomerat yang telah naik tinggi dan mewaspadai potensi koreksi, mengingat IHSG secara historis cenderung terkoreksi setelah kenaikan signifikan di atas 20 persen dalam setahun. Selain itu, rencana MSCI untuk mengubah skema free float saham Indonesia yang lebih ketat pada akhir Januari 2026 juga perlu dicermati, karena dapat memengaruhi bobot saham-saham tersebut dalam indeks global.
Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, menilai bahwa saham-saham konglomerasi masih berpotensi menjadi incaran, terutama yang memiliki free float terbatas atau hasil penawaran umum perdana (IPO) dari grup besar, karena konglomerasi seringkali siap menjadi penyedia likuiditas dan menarik minat investor asing ketika berhasil masuk ke indeks global. Diversifikasi portofolio juga menjadi kunci, dengan memadukan saham berfundamental kuat dengan saham berpotensi pertumbuhan tinggi, serta melakukan rebalancing secara berkala sesuai kondisi pasar.
Ancaman disrupsi teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), akan semakin nyata pada 2026. Geoffrey Hinton, yang dijuluki "Bapak AI," memperingatkan gelombang besar pemutusan pekerjaan akibat AI yang akan dimulai secara gencar, terutama di sektor rekayasa perangkat lunak. Meskipun AI mendorong investasi dan pertumbuhan di beberapa ekonomi, dampaknya terhadap pasar tenaga kerja global dan sosial ekonomi yang lebih luas memerlukan adaptasi strategis dari perusahaan konglomerat. Perusahaan-perusahaan besar dituntut untuk adaptif terhadap perubahan teknologi dan mencari solusi inovatif untuk memenuhi tuntutan pasar, termasuk melalui adopsi AI dan digitalisasi.
Dengan demikian, prospek saham konglomerasi pada 2026 akan sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk menavigasi lingkungan global yang kompleks, mengadopsi strategi pertumbuhan berbasis fundamental, serta beradaptasi dengan disrupsi teknologi. Investor yang selektif dan berhati-hati dalam analisis fundamental akan berada pada posisi yang lebih baik untuk memanfaatkan peluang di tengah tantangan yang ada.