
Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line lintas Kampung Bandan-Angke kembali beroperasi normal pada Selasa, 13 Januari 2026, pukul 05.00 WIB, setelah terhentinya layanan pada Senin kemarin akibat genangan air yang merendam jalur rel. Gangguan operasional ini, yang juga diperparah oleh insiden pohon tumbang di antara Stasiun Tanjung Priok-Kampung Bandan, memaksa KAI Commuter melakukan rekayasa pola operasi dan pembatalan perjalanan, menimbulkan disrupsi signifikan bagi ribuan komuter di tengah hujan deras yang melanda Jakarta.
Pada Senin, 12 Januari 2026, hujan lebat yang mengguyur Jakarta sejak pagi hari menyebabkan jalur rel di lintas Angke-Kampung Bandan tidak dapat dilalui. KAI Commuter memberlakukan rekayasa pola operasi untuk Commuter Line Cikarang, di mana kereta dari arah Manggarai hanya melayani hingga Stasiun Angke, dan dari arah Pasar Senen hanya sampai Stasiun Kemayoran, sebelum kembali ke Bekasi/Cikarang. Layanan Commuter Line Tanjung Priok juga sempat dihentikan sementara hingga pukul 10.30 WIB karena genangan di sekitar Stasiun Kampung Bandan, serta mengalami keterlambatan menuju Stasiun Jakarta Kota. Manajer Public Relations KAI Commuter, Leza Arlan, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan tersebut, menekankan prioritas keselamatan perjalanan.
Insiden serupa di jalur rel Kampung Bandan telah menjadi tantangan berulang bagi infrastruktur kereta api Jakarta, menyoroti kerentanan sistem transportasi publik terhadap cuaca ekstrem. Pada sejumlah kejadian di masa lalu, termasuk pada Februari 2020 dan Januari 2014, jalur ini juga terendam banjir, menyebabkan gangguan serius pada jadwal KRL. Lokasi Kampung Bandan yang berada di dataran rendah serta berdekatan dengan area yang rawan genangan air menjadikannya titik kritis dalam jaringan KRL Jabodetabek.
Pemerintah Provinsi Jakarta dan PT KAI Commuter terus mengupayakan berbagai langkah mitigasi. Kepala Dinas Sumber Daya Air Jakarta, Ika Agustin Ningrum, menyebutkan bahwa penataan sub-sub Kali Sunter, termasuk pembangunan Waduk Cilangkap Giri Kencana seluas 4,5 hektar, menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menampung air sebelum mengalir ke Kali Sunter. Namun, upaya normalisasi Kali Sunter secara keseluruhan memerlukan waktu dan dana yang besar. Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, Mohamad Yohan, melaporkan bahwa hingga pukul 12.00 WIB pada Senin, 28 RT dan 44 ruas jalan di Jakarta terendam banjir dengan ketinggian 10 cm hingga 95 cm.
Menanggapi persoalan banjir yang kronis, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pramono, mengklaim bahwa upaya pengendalian mencakup langkah jangka pendek dan menengah, namun solusi jangka panjang membutuhkan waktu lebih lama. Pemerintah Provinsi Jakarta tengah menyiapkan program jangka panjang, termasuk pembangunan sembilan waduk atau embung baru di sejumlah wilayah sebagai bagian dari strategi pengendalian banjir.
Vulnerabilitas infrastruktur vital seperti jalur KRL terhadap banjir membutuhkan solusi terpadu yang melibatkan kolaborasi antara Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, dan Pemerintah Daerah. Diperlukan investasi berkelanjutan dalam meninggikan rel, membangun tanggul, serta sistem drainase yang lebih baik untuk mencegah genangan air. Tanpa intervensi komprehensif, gangguan operasional akibat cuaca ekstrem akan terus menjadi ancaman bagi mobilitas jutaan warga Jakarta.