
Anjloknya aktivitas manufaktur di zona euro pada bulan Desember 2025 menandai kontraksi yang lebih dalam, dengan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur HCOB Eurozone yang disusun oleh S&P Global turun ke 48,8 dari 49,6 di bulan November—pencapaian terendah dalam sembilan bulan dan berada di bawah ambang batas 50,0 yang memisahkan pertumbuhan dari kontraksi. Penurunan ini terjadi seiring produksi yang menurun untuk pertama kalinya dalam 10 bulan, didorong oleh terus merosotnya pesanan baru di seluruh blok mata uang tunggal. Jerman, ekonomi terbesar zona euro, menunjukkan kinerja terlemah dengan PMI mencapai titik terendah dalam 10 bulan, sementara Italia dan Spanyol juga kembali mengalami kontraksi. Sebaliknya, manufaktur di Asia menunjukkan pemulihan signifikan pada akhir 2025, didorong oleh peningkatan pesanan ekspor yang didukung oleh permintaan perangkat keras kecerdasan buatan (AI).
Penurunan manufaktur Eropa mencerminkan kombinasi tekanan yang berkepanjangan. Menurut Cyrus de la Rubia, Kepala Ekonom di Hamburg Commercial Bank, "Permintaan produk manufaktur dari zona euro melambat lagi. Perusahaan tampaknya tidak mampu maupun tidak bersedia membangun momentum untuk tahun mendatang, tetapi sebaliknya bersikap hati-hati, yang merupakan racun bagi ekonomi." Sektor ini telah berada dalam resesi "hampir terus-menerus sejak pertengahan 2022" akibat masalah logistik dan pasokan, kenaikan biaya bahan baku, serta krisis energi yang diperparah oleh invasi Rusia ke Ukraina. Selain itu, perang dagang yang diprakarsai oleh mantan Presiden AS Donald Trump, ketegangan perdagangan dengan China, dan masuknya kendaraan listrik China ke pasar Eropa telah memperburuk kondisi banyak subsektor. Akibatnya, lapangan kerja di pabrik terus berkurang, menandai periode penurunan selama lebih dari dua setengah tahun.
Italia, meskipun sempat mencatat pertumbuhan di bulan November, kembali ke wilayah kontraksi pada Desember 2025 dengan PMI manufaktur yang turun menjadi 47,9 dari 50,6. Penurunan ini merupakan yang terkuat sejak Maret 2024, dipicu oleh penurunan pesanan baru dan output, terutama di sektor barang konsumen, baja, dan otomotif. Meskipun demikian, kepercayaan bisnis sedikit meningkat karena rencana peluncuran produk dan ekspansi pasar. Prancis menjadi titik terang yang langka di Eropa, dengan PMI manufakturnya melonjak ke 50,7 pada Desember dari 47,8 di November, menandai ekspansi terkuat sejak Juni 2022 dan tertinggi dalam 42 bulan. Peningkatan ini didukung oleh kenaikan pesanan ekspor baru yang signifikan, terutama dari Eropa Timur dan Selatan, Amerika Utara, serta sebagian Afrika.
Di sisi lain, pabrik-pabrik Asia menunjukkan ketahanan dan pemulihan. Data PMI terbaru dari S&P Global menunjukkan aktivitas pabrik di eksportir teknologi utama seperti Korea Selatan dan Taiwan mengakhiri penurunan berkepanjangan pada Desember 2025 dan pulih. Taiwan, khususnya, mencatat PMI sebesar 50,9 pada Desember, naik dari 48,8 di November, melampaui batas 50 poin untuk pertama kalinya dalam 10 bulan. Annabel Fiddes, associate director ekonomi di S&P Global Market Intelligence, menyatakan bahwa sektor manufaktur Taiwan mengakhiri tahun 2025 dengan "catatan tinggi", dengan perusahaan yang mengindikasikan peningkatan produksi dan bisnis baru karena kondisi permintaan yang menguat. Korea Selatan juga menunjukkan ekspansi pertama sejak September, dengan PMI naik menjadi 50,1 dari 49,4.
China, ekonomi terbesar kedua di dunia, juga menunjukkan pemulihan yang tidak terduga dalam aktivitas pabrik pada Desember 2025, mengakhiri kemerosotan terpanjang yang tercatat. PMI manufaktur resmi naik menjadi 50,1 dari 49,2 di November, melampaui ambang batas 50. Peningkatan ini didukung oleh lonjakan pesanan domestik menjelang liburan dan kemajuan proyek konstruksi. Namun, pesanan ekspor baru sedikit menurun di tengah permintaan global yang masih lesu. Meskipun demikian, sektor manufaktur berteknologi tinggi di China menunjukkan kinerja yang kuat dengan PMI mencapai 52,5.
India, meskipun tetap dalam wilayah ekspansi, mengalami perlambatan pertumbuhan manufaktur pada Desember 2025. PMI manufaktur HSBC India turun menjadi 55,0 dari 56,6 di November, menandai peningkatan aktivitas pabrik terlemah dalam 38 bulan. Pollyanna De Lima, associate director ekonomi di S&P Global Market Intelligence, mencatat bahwa meskipun momentum pertumbuhan melambat, industri manufaktur India mengakhiri tahun 2025 dalam kondisi baik, dengan lonjakan penerimaan bisnis baru yang seharusnya membuat perusahaan sibuk menjelang kuartal fiskal terakhir. Negara-negara ASEAN secara umum mempertahankan pertumbuhan yang pesat, meskipun Indonesia dan Vietnam melaporkan sedikit moderasi. Asia Tenggara secara strategis telah menjadi pusat manufaktur global, dengan negara-negara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia bergerak menuju industri bernilai tambah tinggi, didukung oleh investasi dan kebijakan pemerintah. Vietnam, misalnya, diuntungkan dari FDI yang besar, mencapai 25,35 miliar dolar AS pada 2024, dengan sektor manufaktur pengolahan dan manufaktur tumbuh sebesar 9,83 persen secara tahunan.
Implikasi jangka panjang dari divergensi ini signifikan. Eropa dihadapkan pada tantangan struktural seperti biaya energi yang tinggi, persaingan ketat dari China, dan ketidakpastian perdagangan, yang menghambat investasi dan pertumbuhan. Sebaliknya, Asia tampaknya mengambil keuntungan dari pergeseran rantai pasokan global, investasi dalam teknologi AI, dan permintaan domestik yang kuat. Meskipun ada harapan bahwa program stimulus ekonomi Jerman dan peningkatan belanja pertahanan di seluruh Eropa dapat menghidupkan kembali industri pada tahun 2026, para ekonom seperti Julian Evans-Pritchard dari Capital Economics memperingatkan bahwa "gambaran besarnya adalah bahwa hambatan struktural dari penurunan properti dan kelebihan kapasitas industri akan terus berlanjut di tahun 2026," terutama di China. Namun, Shivaan Tandon, ekonom Asia di Capital Economics, percaya bahwa prospek jangka pendek untuk sektor manufaktur berorientasi ekspor Asia tetap menguntungkan, didorong oleh pergeseran permintaan AS dari China dan permintaan global yang kuat untuk perangkat keras terkait AI. Ketidakpastian geopolitik dan tarif perdagangan yang berulang masih menjadi faktor risiko, namun kemampuan Asia untuk beradaptasi dan mendiversifikasi pasar akan menjadi kunci ketahanan sektor manufakturnya di masa depan.