
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri pada Jumat, 9 Januari 2026, menandatangani kerja sama strategis di Jakarta untuk mempercepat hilirisasi batu bara menjadi produk energi alternatif, menandai babak baru dalam upaya Indonesia mencapai kemandirian energi nasional. Kolaborasi ini, yang turut disaksikan oleh Chief Technology Officer Danantara Indonesia Sigit P. Santosa, menargetkan pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), Synthetic Natural Gas (SNG), dan metanol, sebagai substitusi impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang masih tinggi.
Indonesia, sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, mencatat produksi 836,1 juta ton pada tahun 2024, melebihi target nasional 710 juta ton. Namun, pada Januari-September 2025, realisasi produksi mencapai 584,168 juta ton, sementara target tahunan adalah 739,674 juta ton. Meskipun demikian, cadangan batu bara Indonesia per Desember 2023 mencapai 31,71 miliar ton, dengan 70 persen di antaranya merupakan batu bara berkualitas rendah yang memiliki potensi besar untuk hilirisasi. Ketergantungan terhadap impor LPG masih menjadi tantangan signifikan, dengan proyeksi konsumsi nasional mencapai 10 juta metrik ton pada 2026, sementara produksi domestik hanya berkisar 1,3 juta hingga 1,4 juta metrik ton. Defisit ini mendorong pemerintah untuk mengintensifkan program hilirisasi guna mengurangi beban impor.
Sejarah inisiatif hilirisasi batu bara di Indonesia bukanlah hal baru. Kewajiban hilirisasi telah menjadi fokus kebijakan sejak Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba, yang mewajibkan perusahaan tambang untuk melakukan pengolahan dan pemurnian hasil tambang. Presiden Joko Widodo pada Oktober 2020 juga telah meminta penyusunan peta jalan (roadmap) hilirisasi batu bara dengan penerapan teknologi ramah lingkungan. Pada tahun 2024, pemerintah menawarkan investasi pengembangan hilirisasi batu bara, termasuk metanol dan DME, kepada Tiongkok di ajang The 7th Indonesia China Energy Forum. Transformasi ini sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian energi nasional dan diversifikasi sumber energi. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah menyusun peta jalan hilirisasi 28 komoditas unggulan, termasuk batu bara, dengan proyeksi investasi mencapai 618,1 miliar dolar AS dan penciptaan 3 juta lapangan kerja hingga 2040.
Proyek hilirisasi batu bara menjadi DME telah diidentifikasi di enam lokasi, tiga di Sumatera dan tiga di Kalimantan. Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Surya Herjun menyatakan bahwa jika keenam proyek DME ini dapat beroperasi, setidaknya 80 persen kebutuhan LPG nasional dapat tergantikan. MIND ID melalui PT Bukit Asam (PTBA) akan berperan sebagai pemasok batu bara, sementara Pertamina akan menjadi offtaker dan agregator infrastruktur distribusi. Proyek gasifikasi batu bara menjadi DME di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, yang dikembangkan oleh PT Bukit Asam dan Pertamina, ditargetkan memproduksi 1,4 juta ton DME per tahun, mengurangi impor LPG hingga 1 juta ton per tahun. PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia juga telah mengajukan proyek gasifikasi untuk memproduksi metanol dengan kapasitas masing-masing 1,8 juta ton dan 2,95 juta ton per tahun. Indonesia saat ini hanya memiliki satu produsen metanol berbasis gas alam, PT Kaltim Metanol Industri di Bontang, dengan kapasitas 660.000 ton per tahun, sementara kebutuhan metanol nasional pada 2019 mencapai 1,1 juta ton.
Namun, percepatan hilirisasi batu bara ini menghadapi tantangan signifikan. Investasi yang dibutuhkan berskala miliaran dolar, serta ketersediaan teknologi yang aplikatif masih menjadi kendala mendasar. Selain itu, hilirisasi batu bara juga memicu perdebatan publik terkait komitmen transisi energi. Sejumlah kalangan menilai hilirisasi justru memperkuat peran energi fosil dan memperpanjang ketergantungan Indonesia pada batu bara. Studi Action for Ecology & People's Emancipation (AEER) pada April 2025 menunjukkan bahwa proyek DME dengan kapasitas 1,4 juta ton per tahun akan membutuhkan sekitar 6 juta ton batu bara dan menghasilkan emisi setara 4,26 juta ton CO2 per tahun, lima kali lebih besar dari emisi LPG. Tantangan lain mencakup ketidaksesuaian dengan tren energi global yang beralih ke terbarukan, sementara 67 persen pembangkit listrik Indonesia masih menggunakan batu bara pada 2024. Implementasi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mengurangi emisi juga akan menambah biaya sebesar 50-55 dolar AS per ton CO2, membuat proyek kurang kompetitif.
Menyikapi kekhawatiran ini, pemerintah berpandangan bahwa hilirisasi batu bara berfungsi sebagai jembatan menuju penggunaan energi yang lebih bersih. Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batubara, Irwandy Arif, menyatakan bahwa hilirisasi sejalan dengan dorongan pemerintah untuk meningkatkan ketahanan ekonomi nasional. Pada Januari 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pemerintah menargetkan total investasi sebesar Rp13 ribu triliun pada periode 2025-2029, dengan proyek hilirisasi minerba menyumbang sekitar 20 miliar dolar AS atau setara Rp330,26 triliun. Pemerintah juga menggodok insentif seperti royalti nol persen untuk proyek hilirisasi. Presiden Prabowo Subianto meminta 18 proyek hilirisasi, termasuk gasifikasi batu bara menjadi DME, untuk dilakukan groundbreaking paling lambat Maret 2026, dengan nilai investasi mencapai Rp600 triliun dan realisasi investasi dipimpin oleh Danantara Indonesia.
Dalam konteks keberlanjutan, MIND ID berupaya menghadirkan inovasi yang menepis stigma negatif batu bara, termasuk menjadikannya material pendukung yang menyuburkan tanah dan menyehatkan tanaman. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menegaskan bahwa hilirisasi memberikan nilai tambah ekonomi, menekan ketergantungan impor, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang. Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menambahkan, kolaborasi ini adalah tonggak sejarah bagi kedaulatan energi Indonesia, dengan Pertamina mengoptimalkan infrastruktur distribusinya untuk memastikan produk hilirisasi terserap pasar. Dengan demikian, sinergi strategis hilirisasi batu bara diposisikan sebagai pilar krusial bagi Indonesia dalam menapaki jalan menuju kemandirian energi di tengah kompleksitas transisi energi global.