Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Keamanan Produksi Blok Rokan Diperketat Pasca Insiden Pipa Gas

2026-01-23 | 23:07 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T16:07:51Z
Ruang Iklan

Keamanan Produksi Blok Rokan Diperketat Pasca Insiden Pipa Gas

Produksi minyak mentah dari Blok Rokan, salah satu tulang punggung energi nasional Indonesia, berada di bawah pengawasan ketat setelah serangkaian insiden kebocoran pipa gas pada awal Januari 2026 yang menyebabkan kehilangan potensi produksi hingga dua juta barel. Gangguan pada jaringan pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) di ruas Grissik–Duri, Riau, yang pertama kali dilaporkan pada Jumat, 2 Januari 2026, pukul 16.35 WIB di KM 222 Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir, disusul insiden kedua pada 9 Januari 2026 di KM 294, secara signifikan menghambat operasional PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Pipa gas TGI berfungsi vital sebagai sumber tenaga listrik untuk mengoperasikan pompa angguk di ribuan sumur minyak di Blok Rokan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa meskipun insiden ini dikategorikan sebagai kecelakaan, terdapat unsur kelalaian yang tidak dapat ditoleransi. Bahlil menegaskan akan memberikan sanksi kepada pejabat di lingkungan Kementerian ESDM maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait, menekankan perlunya pengawasan dan mitigasi risiko yang lebih baik guna mencegah terulangnya kejadian serupa.

Sebelum insiden, Blok Rokan yang dikelola PHR mencatatkan produksi rata-rata sekitar 162.000 barel minyak per hari (BOPD) pada tahun berjalan, bahkan menargetkan lebih dari 160.000 BOPD di tengah tantangan penurunan alami reservoir. Namun, pasca-kebocoran pipa gas, produksi sempat anjlok drastis menjadi hanya sekitar 50.000 hingga 70.000 barel per hari, dari kapasitas normal sekitar 150.000 barel per hari. Akibatnya, Indonesia kehilangan potensi produksi minyak sekitar dua juta barel dalam kurun waktu hampir tiga pekan sejak awal Januari 2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman, yang melakukan kunjungan kerja ke kantor utama PHR di Rumbai pada Jumat, 23 Januari 2026, memastikan produksi di Blok Rokan mulai berangsur pulih. Upaya mitigasi PHR meliputi pengalihan bahan bakar pembangkit ke solar serta manajemen beban listrik dengan memprioritaskan sumur-sumur utama. Menurut Laode, aliran gas ke Blok Rokan telah kembali berjalan dengan kapasitas maksimal dan tekanan yang aman sejak Rabu, 21 Januari 2026, meskipun pemulihan produksi minyak akan berlangsung secara bertahap.

Pemerintah memberikan atensi tinggi terhadap pemulihan Blok Rokan mengingat perannya sebagai salah satu kontributor utama lifting minyak nasional. Untuk mengejar target lifting minyak nasional tahun 2026 sebesar 610.000 barel per hari, Kementerian ESDM menargetkan tambahan produksi harian sebesar 5.000 hingga 6.000 barel. Direktur Utama PHR Muhammad Arifin menegaskan jajaran PHR di lapangan tetap siaga tinggi dan telah menyiapkan skema pemulihan (recovery plan) yang agresif untuk diimplementasikan setelah pasokan gas kembali normal.

Blok Rokan, yang sejak 9 Agustus 2021 dikelola PHR setelah puluhan tahun dipegang Chevron, menyumbang sekitar 24% dari produksi minyak nasional. Blok ini menjadi tumpuan bagi upaya mencapai target lifting minyak nasional dan menjamin ketahanan energi. Oleh karena itu, insiden kebocoran pipa gas ini tidak hanya memunculkan kekhawatiran jangka pendek terhadap target produksi, tetapi juga menyoroti urgensi peningkatan keandalan infrastruktur dan pengawasan operasional untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional di masa mendatang.