:strip_icc()/kly-media-production/medias/4771351/original/095342300_1710333128-20240313-IHSG-ANG_1.jpg)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia melonjak 1,17% ke level 8.748,13 pada penutupan perdagangan perdana tahun 2026, Jumat (2/1/2026). Penguatan signifikan ini didukung oleh optimisme domestik terhadap prospek ekonomi Indonesia yang membaik, ditopang oleh koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang solid, serta ekspektasi penurunan suku bunga global.
Lonjakan IHSG di awal tahun ini merupakan kelanjutan sentimen positif dari akhir 2025, di mana indeks domestik berhasil menutup tahun dengan kinerja solid, menguat tipis 0,03% ke 8.646,94 pada 30 Desember 2025. Banyak analis dan pejabat pemerintah memproyeksikan IHSG berpeluang menembus level psikologis 9.000, bahkan mencapai 10.000 sepanjang 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara spesifik menyatakan keyakinannya bahwa IHSG bisa menyentuh 10.000 di 2026, ditopang perbaikan ekonomi dan ekspektasi pertumbuhan laba emiten.
Optimisme ini tidak terlepas dari sejumlah faktor fundamental makroekonomi domestik yang positif. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan naik menjadi 5% pada 2026 dan 5,2% pada 2027, didukung oleh investasi dan ekspor yang kuat. Senada, Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 berada di kisaran 5,1%-5,2%. Bank Indonesia sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,1% hingga 5,6% pada 2026.
Faktor kunci lainnya adalah kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) secara kumulatif sebesar 150 basis poin sejak September 2024, mencapai 4,75% per Desember 2025. Proyeksi inflasi yang rendah dan terkendali, sekitar 2,5% ± 1% untuk 2025-2026, memberikan ruang bagi BI untuk terus mempertimbangkan pelonggaran moneter lebih lanjut. Dian Ayu Yustina, Head of Macroeconomics and Financial Market Research Bank Mandiri, memperkirakan BI akan kembali menurunkan suku bunga acuannya sebanyak dua kali atau 50 basis poin pada 2026.
Selain itu, konsumsi rumah tangga, yang menyumbang sekitar 53% terhadap PDB, diperkirakan akan membaik seiring dengan terjaganya daya beli masyarakat dan dukungan stimulus fiskal dan moneter. Investasi juga menjadi pendorong kuat, dengan sinyal gencarnya investasi yang porsinya 29,15% terhadap PDB, didukung oleh Badan Pengelola Investasi Danantara dan fokus pada hilirisasi. David Kurniawan dari IndoPremier Sekuritas memproyeksikan IHSG akan memasuki fase "Broadening Bull Market" di mana kenaikan indeks tidak lagi hanya ditopang oleh segelintir sektor, melainkan menyebar secara merata ke berbagai industri.
Namun, tantangan tetap ada. Volatilitas nilai tukar rupiah, ketidakpastian geopolitik global, dan risiko perlambatan ekonomi dunia masih membayangi. Meskipun demikian, pasar saham Indonesia dinilai memiliki keunggulan seperti imbal hasil dividen yang kompetitif dan valuasi yang relatif murah dibandingkan bursa regional. Sektor-sektor seperti keuangan, consumer non-cyclicals (terutama unggas dan rokok karena tidak ada kenaikan cukai), serta basic materials (mineral dan logam) dipandang potensial memberikan keuntungan pada 2026. Analis menyarankan investor untuk tetap selektif dalam memilih saham dan mempelajari kondisi perekonomian domestik dan global secara top-down.