
Pemerintah Otonom Greenland terus menimbang potensi ekonomi besar dari cadangan mineral langka dan elemen strategis di bawah permukaannya, sebuah kekayaan yang sempat menarik perhatian Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, pada tahun 2019 untuk mengakuisisi pulau Arktik tersebut di tengah persaingan global yang meningkat atas sumber daya penting. Kepentingan Trump, meskipun ditolak keras oleh Kopenhagen dan Nuuk, menyoroti posisi geopolitik Greenland yang krusial dan perut buminya yang menyimpan 'harta karun' incaran dunia, mulai dari elemen tanah jarang (rare earth elements) hingga deposit uranium dan seng yang melimpah, vital bagi transisi energi hijau dan teknologi modern.
Analisis geologi terbaru menunjukkan Greenland memiliki potensi signifikan untuk menjadi pemasok utama berbagai mineral kritis yang sangat dibutuhkan oleh industri teknologi tinggi, sektor pertahanan, dan manufaktur kendaraan listrik global. Di antara mineral yang paling menonjol adalah neodymium dan praseodymium, yang merupakan elemen kunci dalam pembuatan magnet permanen untuk turbin angin dan motor kendaraan listrik. Selain itu, deposit uranium, seng, tembaga, nikel, dan grafit juga ditemukan dalam jumlah besar. Proyek pertambangan Kvanefjeld, misalnya, dikenal sebagai salah satu deposit tanah jarang terbesar di dunia, meskipun pengembangannya menghadapi penundaan akibat kekhawatiran lingkungan dan politik internal. Sebuah laporan dari United States Geological Survey (USGS) menyoroti setidaknya 16 lokasi di Greenland yang memiliki potensi deposit mineral penting.
Minat Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya terhadap sumber daya Greenland semakin intensif seiring dengan dominasi Tiongkok dalam pasokan elemen tanah jarang global. Pada tahun 2023, Tiongkok menguasai lebih dari 60% produksi tanah jarang global dan mayoritas kapasitas pemrosesan. Ketergantungan ini menimbulkan kekhawatiran keamanan rantai pasokan di Washington dan Brussel, yang melihat Greenland sebagai alternatif strategis untuk diversifikasi sumber pasokan. Sekretaris Negara AS Antony Blinken, dalam kunjungan ke Greenland pada Mei 2021, menegaskan komitmen AS untuk memperkuat kerja sama dengan Greenland dalam mengembangkan potensi mineralnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran prioritas AS dari sekadar "membeli" wilayah menjadi membangun kemitraan strategis yang lebih berkelanjutan.
Namun, pengembangan sumber daya Greenland tidak tanpa tantangan. Lingkungan Arktik yang ekstrem, kurangnya infrastruktur yang memadai, dan biaya operasional yang tinggi menjadi kendala utama. Perdebatan internal di Greenland juga menjadi faktor. Pemerintah Greenland, yang baru-baru ini dikuasai oleh koalisi sayap kiri yang lebih skeptis terhadap pertambangan skala besar, telah menunjukkan kehati-hatian dalam menyetujui proyek-proyek baru, terutama yang melibatkan uranium, karena dampak lingkungan yang potensial. Mantan Perdana Menteri Greenland, Múte B. Egede, secara konsisten menyatakan prioritasnya adalah melindungi lingkungan dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan. Kedaulatan Greenland atas sumber daya alamnya merupakan isu sentral, dengan penekanan bahwa setiap keputusan pertambangan harus menguntungkan rakyat Greenland secara langsung dan menghormati otonomi mereka dari Denmark.
Di luar mineral, Greenland juga diyakini memiliki cadangan minyak dan gas lepas pantai yang signifikan, terutama di perairan timur laut. Meskipun eksplorasi dan eksploitasi di sektor ini melambat karena tekanan lingkungan global dan harga komoditas yang berfluktuasi, potensi ini tetap menjadi bagian dari perhitungan ekonomi jangka panjang. Perubahan iklim yang menyebabkan pencairan lapisan es juga membuka rute pelayaran Arktik baru, meningkatkan nilai strategis pulau tersebut sebagai titik persimpangan maritim antara Atlantik dan Pasifik, sekaligus mempermudah akses ke lokasi-lokasi pertambangan potensial yang sebelumnya tertutup es. Dengan demikian, Greenland berada di persimpangan antara peluang ekonomi raksasa, tantangan lingkungan yang besar, dan kepentingan geopolitik yang kompleks, menempatkannya sebagai salah satu medan perebutan sumber daya paling penting di abad ke-21.