Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Emas Rekor, Bitcoin Melonjak: Menguji Daya Tahan Reli Dua Aset Krusial

2026-01-12 | 17:07 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-12T10:07:59Z
Ruang Iklan

Emas Rekor, Bitcoin Melonjak: Menguji Daya Tahan Reli Dua Aset Krusial

Kenaikan signifikan pada harga emas global mencapai rekor tertinggi baru di level US$4.568,80 per troy ons pada Senin, 12 Januari 2026, bahkan sempat menyentuh US$4.600 per troy ons pada pagi hari. Fenomena ini berjalan beriringan dengan kebangkitan Bitcoin yang juga diperdagangkan di sekitar US$90.537,13 setelah sempat menguat terbatas. Momentum ganda ini memicu pertanyaan tentang keberlanjutan tren bullish kedua aset yang secara historis memiliki dinamika korelasi yang kompleks.

Para analis melihat sejumlah faktor makroekonomi dan geopolitik menjadi pendorong utama reli emas. Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, menyoroti data penggajian AS yang menunjukkan lemahnya penciptaan lapangan kerja, potensi peningkatan ketegangan geopolitik seperti kerusuhan di Iran, konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan, penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat, serta sinyal Washington terkait pengambilalihan kendali Greenland, di samping harga minyak yang cenderung inflasioner. Selain itu, ketidakpastian global yang tinggi dan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang semakin melonggar, diperkirakan akan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven. Beberapa bank investasi memprediksi harga emas akan terus melonjak, dengan J.P. Morgan memproyeksikan US$4.000 per ons pada tahun 2026, sementara HSBC bahkan melihat peluang mencapai US$5.000 per ons pada paruh pertama 2026. Analis ActivTrades, Ricardo Evangelista, menegaskan bahwa ketidakpastian ekonomi yang berkelanjutan, turbulensi geopolitik, dan ekspektasi dovish terhadap The Fed terus mendukung harga emas dalam jangka pendek.

Di sisi pasar kripto, Bitcoin juga menunjukkan penguatan setelah melewati periode konsolidasi. Meskipun sempat melemah tipis dalam sepekan terakhir, Bitcoin berhasil bertahan di level psikologis US$90.000. Sejumlah ahli memprediksi Bitcoin akan melanjutkan tren bullish yang kuat di tahun 2026, didorong oleh adopsi institusional yang matang, persetujuan ETF Bitcoin spot, dan efek jangka panjang dari peristiwa halving pada tahun 2024 yang secara historis mencapai puncaknya 18 hingga 24 bulan setelah kejadian. Misalnya, Cathie Wood dari ARK Invest konsisten memprediksi Bitcoin dapat mencapai US$500.000 sekitar tahun 2026, sementara Brad Garlinghouse, CEO Ripple, memproyeksikan US$180.000 pada akhir 2026. Grayscale bahkan memprediksi Bitcoin akan mencapai harga tertinggi baru pada Q1 2026. Pelonggaran kebijakan moneter global dan pengakuan Bitcoin sebagai "Emas Digital" di tengah ketidakpastian geopolitik turut memperkuat posisinya. Namun, analis dari Ajaib, Panji Yudha, mencatat bahwa aliran dana ETF Bitcoin spot justru mencatat net outflow sebesar US$681,01 juta pada pekan yang berakhir 9 Januari 2026, menunjukkan sikap risk-off investor menjelang agenda makro penting.

Secara historis, hubungan antara emas dan Bitcoin kerap berfluktuasi. Data Kaiko menunjukkan korelasi 60-hari antara Bitcoin dan emas telah meningkat, meskipun pada tingkat yang rendah yaitu kurang dari 0,2. Ini mengindikasikan bahwa meskipun kedua aset ini semakin berkorelasi, mereka masih jauh dari saling mencerminkan pergerakan harga satu sama lain secara dekat. Analisis Glassnode pada September 2025 justru menunjukkan korelasi 30 hari antara emas dan Bitcoin bersifat negatif di angka -0,53, di mana emas melesat sementara Bitcoin stagnan atau melemah, mematahkan "aturan tak tertulis" bahwa kenaikan emas sering diikuti oleh Bitcoin. Namun, dalam jangka panjang, korelasi emas-Bitcoin masih sedikit positif.

Peran kedua aset sebagai safe haven juga menjadi perdebatan. Emas secara tradisional dipandang sebagai aset yang stabil di tengah gejolak pasar karena volatilitasnya yang konsisten lebih rendah dan return yang lebih stabil, menjadikannya pilihan bagi investor konservatif. Sebaliknya, Bitcoin menunjukkan volatilitas yang jauh lebih tinggi dan korelasi dinamis yang berfluktuasi dengan emas, menandakan sifat spekulatifnya, lebih cocok sebagai instrumen diversifikasi berisiko tinggi. Ekonom Peter Schiff, kritikus vokal Bitcoin dan pendukung emas, berulang kali menyebut Bitcoin sebagai "aset palsu" tanpa nilai intrinsik yang hanya bergantung pada spekulasi pasar, memprediksi kejatuhan Bitcoin ketika emas mencapai US$4.000 per ons. Ia bahkan menyebut emas tokenisasi berpotensi mengambil "porsi terbesar" dari dominasi Bitcoin di pasar aset digital.

Keberlanjutan tren dual bull ini di masa depan masih menjadi objek analisis mendalam. Beberapa ahli memprediksi potensi konsolidasi atau koreksi harga untuk emas setelah periode kenaikan ekstrem di awal 2026. Bagi Bitcoin, meskipun prospek jangka panjang bullish, terdapat risiko volatilitas ekstrem akibat pengetatan regulasi dan hambatan teknologi. Fokus pasar kini beralih ke rilis data inflasi AS (US CPI) pada Selasa, 13 Januari, yang akan menjadi penentu arah ekspektasi suku bunga The Fed. Adanya aliran dana keluar dari ETF Bitcoin juga menandakan meningkatnya sikap risk-off investor. Pada akhirnya, apakah kedua aset ini akan terus bergerak dalam tren bullish bersamaan ataukah korelasi negatif jangka pendek kembali mendominasi, akan sangat bergantung pada dinamika kebijakan moneter global, stabilitas geopolitik, dan sentimen pasar yang terus berkembang.