:strip_icc()/kly-media-production/medias/5184183/original/032285800_1744269683-20250410-IHSG-AFP_7.jpg)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) pada penutupan perdagangan Selasa, 6 Januari 2026, mencapai level 8.933,61, melonjak 0,84 persen. Kenaikan historis ini terjadi di tengah penguatan signifikan harga komoditas emas dan perak di pasar global, didorong oleh ketegangan geopolitik dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.
Harga emas Antam satu gram pada 6 Januari 2026 terpantau di angka Rp2.549.000, melanjutkan tren kenaikan yang substansial. Sementara itu, harga perak Antam satu gram melonjak Rp1.000 menjadi Rp47.265 pada hari yang sama. Penguatan logam mulia ini meneruskan reli yang telah terbentuk sepanjang tahun 2025, ketika harga emas melonjak hampir 65 persen. Katalis utama di balik kenaikan ini mencakup ketidakpastian geopolitik global yang meningkat, seperti serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela, serta antisipasi penurunan suku bunga oleh bank sentral utama.
Analis keuangan Finex, Brahmantya Himawan, menyampaikan bahwa prospek penguatan emas dan perak semakin konstruktif memasuki awal 2026. Ia memproyeksikan harga emas dapat bergerak di kisaran US$4.700–US$5.000 per troy ounce pada tahun 2026, setara dengan Rp2,52 juta–Rp2,69 juta per gram dengan kurs Rp16.715 per dolar AS. UBS, bank investasi global, bahkan memperkirakan harga emas akan mencapai US$5.000 per ons pada September 2026, dengan potensi menyentuh US$5.400 jika ketidakpastian politik atau ekonomi meningkat. Analis lain dari Goldman Sachs, Daan Struyven, memproyeksikan harga emas dapat menyentuh US$4.900 per ons pada akhir 2026. Proyeksi ini didasarkan pada penurunan imbal hasil riil obligasi Amerika Serikat dan potensi pelonggaran moneter.
Perak, dengan karakteristik ganda sebagai logam mulia dan komoditas industri, juga mengalami dorongan signifikan. Permintaan dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, dan teknologi diprediksi terus meningkat. Selain itu, masuknya perak ke dalam daftar mineral kritis di Amerika Serikat memperkuat prospek jangka menengahnya. Brahmantya Himawan memproyeksikan harga perak pada 2026 berada di kisaran US$90–US$120 per troy ounce, atau sekitar Rp1,5 juta–Rp2 juta per gram.
Di sisi lain pasar modal, IHSG ditutup pada level 8.933,61 dengan nilai transaksi mencapai Rp34,16 triliun dan kapitalisasi pasar Rp16.337 triliun. Penguatan IHSG ditopang oleh beberapa faktor fundamental domestik yang kuat dan sentimen positif dari global. Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 berada di kisaran 4,9 hingga 5,1 persen. Sementara itu, Bloomberg Intelligence memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh stabil sebesar 5,0 persen pada 2026 dengan inflasi terkendali di kisaran 2,75 persen. Bank Indonesia (BI) optimistis laju inflasi ke depan akan tetap terjaga dalam koridor sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen atau 1,5–3,5 persen sepanjang 2026 dan 2027.
Pemerintah juga berperan dalam mendorong daya beli masyarakat dan investasi melalui berbagai insentif. Insentif pembebasan pajak penghasilan (PPh) 21 selama 2026 diberikan untuk karyawan dengan gaji di bawah Rp10 juta per bulan di sektor industri tertentu. Selain itu, pemerintah menetapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditanggung pemerintah sebesar 100 persen untuk harga jual rumah hingga Rp2 miliar untuk rumah tapak dan Rp5 miliar untuk rumah susun sepanjang tahun 2026.
Aliran dana asing yang signifikan, dengan net buy asing mencapai sekitar Rp911 miliar pada 6 Januari 2026, menjadi sinyal kepercayaan investor global terhadap Indonesia. Lembaga investasi global seperti Nomura Holdings Inc. telah menaikkan rekomendasi untuk saham-saham Indonesia menjadi 'overweight', sementara JPMorgan Chase and Co. menetapkan target IHSG setinggi 10.000 pada tahun 2026. Analis dari UOB Kay Hian memproyeksikan target IHSG berpotensi mencapai 9.200 sepanjang tahun 2026. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyatakan bahwa berlanjutnya penguatan harga komoditas logam dan insentif pemerintah menjadi faktor positif pergerakan indeks. Namun, potensi koreksi wajar jangka pendek akibat aksi ambil untung tetap perlu diwaspadai jika IHSG mendekati level psikologis 9.000. Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan 6 Januari 2026 tercatat melemah tipis 0,06 persen ke level Rp16.750 per dolar AS. DBS Group Research memperkirakan rupiah akan stabil di kisaran Rp16.000–Rp16.900 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) melalui Gubernur Perry Warjiyo menyatakan arah kebijakan moneter pada 2026 akan tetap pada keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan (pro-stability and pro-growth), di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Dengan terkendalinya inflasi, BI akan mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan makroprudensial longgar akan diperkuat untuk mendorong kredit perbankan, khususnya ke sektor-sektor prioritas. Meskipun demikian, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai prospek ekonomi 2026 masih dibayangi keterbatasan dari sisi eksternal, dengan pelemahan kinerja ekspor berpotensi menahan laju pertumbuhan. Stabilitas politik dan keamanan juga menjadi kunci utama untuk melakukan lompatan ekonomi.