Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Emas Antam Tembus Rp 2,8 Juta: Rekor Harga Baru Logam Mulia

2026-01-23 | 10:27 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T03:27:25Z
Ruang Iklan

Emas Antam Tembus Rp 2,8 Juta: Rekor Harga Baru Logam Mulia

PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatat rekor harga emas batangan domestik sebesar Rp 2.880.000 per gram pada Jumat, 23 Januari 2026, lonjakan signifikan sebesar Rp 90.000 dari hari sebelumnya yang didorong oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik global, antisipasi pelonggaran kebijakan moneter bank sentral, dan pelemahan dolar Amerika Serikat. Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan sepanjang awal tahun 2026, menjadikan emas Antam berada di posisi tertinggi sepanjang masa setelah pada perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, harga emas global sempat terkoreksi.

Reli harga emas global, yang pada Kamis, 22 Januari 2026, tercatat di US$ 4.934 per troy ons dan melonjak 2,14% dari hari sebelumnya, menjadi pendorong utama lonjakan harga Antam di pasar domestik. Sejak awal tahun, harga emas dunia telah melejit 14,22%. Sejumlah faktor fundamental global berperan dalam fenomena ini. Ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di Eropa, Timur Tengah, serta ketidakjelasan isu Greenland memicu peningkatan permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Analis Andy Nugraha dari Dupoin Indonesia menyatakan bahwa sentimen geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat saling tarik-menarik dalam pergerakan harga emas.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada tahun 2026 menjadi sentimen positif krusial bagi emas. Data ekonomi Amerika Serikat terbaru, seperti belanja konsumen yang tumbuh 0,3% pada November 2025 dan inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) yang moderat di 0,2% secara bulanan, mengindikasikan ekonomi AS yang solid. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan The Fed akan melanjutkan siklus penurunan suku bunga, membuat aset non-penghasil imbal hasil seperti emas lebih menarik bagi investor. Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang dan komoditas, memprediksi The Fed masih berpeluang menurunkan suku bunga sebanyak satu hingga dua kali hingga April mendatang.

Pelemahan Dolar AS juga turut mendukung kenaikan harga emas. Saat nilai dolar AS menurun, emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga mendorong permintaan. Fenomena lain yang signifikan adalah peningkatan pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia. Goldman Sachs memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral akan mencapai rata-rata 60 ton pada tahun 2026, didorong oleh upaya diversifikasi cadangan dari bank sentral pasar berkembang sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Secara historis, reli harga emas pada tahun 2025 merupakan yang terkuat sejak krisis keuangan global 2008, bahkan melampaui lonjakan saat pandemi Covid-19, dengan harga emas batangan mencetak rekor beruntun sepanjang tahun lalu. Ini memperkuat peran emas sebagai aset "safe haven" di tengah keraguan terhadap uang fiat dan kekhawatiran fiskal.

Proyeksi para ahli menunjukkan optimisme yang berkelanjutan terhadap harga emas. Goldman Sachs telah menaikkan perkiraan harga emas akhir 2026 menjadi US$ 5.400 per troy ons, dari proyeksi sebelumnya US$ 4.900 per troy ons. Sementara itu, Deutsche Bank memprediksi rata-rata harga emas pada tahun 2026 akan mencapai US$ 3.700 per ons, naik dari sebelumnya US$ 2.900 per ons. J.P. Morgan bahkan memproyeksikan pertumbuhan harga emas hingga US$ 4.000 per ons pada tahun 2026. Di pasar domestik, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga emas Antam dapat menyentuh Rp 3,8 juta per gram pada tahun 2026 jika menutup tahun 2025 di level Rp 2,7 juta per gram.

Kenaikan harga emas yang signifikan ini membawa implikasi beragam. Bagi investor, emas menawarkan perlindungan nilai di tengah volatilitas pasar dan ketidakpastian ekonomi global. Namun, tingginya harga juga dapat memicu aksi ambil untung oleh sebagian investor. Dari perspektif masyarakat, lonjakan harga emas bukan sekadar euforia investasi, melainkan sinyal yang jelas dari meningkatnya risiko ekonomi secara keseluruhan. Kondisi ini mendorong investor dan bank sentral untuk terus mengalihkan modal ke aset yang tidak memiliki afiliasi politik dan cenderung stabil nilainya, sebagaimana yang diamati oleh analis yang menyebutnya sebagai "Badai Sempurna" yang menguji kepercayaan terhadap uang fiat.