
Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melonjak signifikan pada perdagangan perdana tahun 2026, Jumat, 2 Januari 2026, mencapai Rp 2.504.000 per gram. Kenaikan sebesar Rp16.000 per gram dari harga sebelumnya yang tercatat Rp2.488.000 per gram pada 1 Januari 2026 ini, menarik perhatian investor di tengah berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik. Harga pembelian kembali (buyback) emas Antam juga mengalami kenaikan menjadi Rp2.363.000 per gram.
Pergerakan harga ini terjadi setelah emas Antam sempat terkoreksi di awal tahun 2026, menjadi Rp2.488.000 per gram pada 1 Januari 2026, setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level Rp2.605.000 per gram pada 27 Desember 2025. Lonjakan ini sejalan dengan tren penguatan harga emas global yang mencetak kinerja luar biasa sepanjang 2025, dengan harga emas spot (XAU/USD) melonjak sekitar 64% dan mencapai sekitar 50 rekor harga tertinggi baru. Puncaknya, harga emas spot pernah menyentuh US$ 4.549,71 per ons pada Boxing Day 2025 sebelum stabil di kisaran US$ 4.300–US$ 4.310 hingga akhir tahun.
Para analis dan lembaga keuangan memproyeksikan prospek emas yang bullish hingga 2026, didorong oleh beberapa faktor fundamental. Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rata-rata harga emas dunia pada 2026 dapat mencapai US$ 4.825 per ons troi, bahkan berpotensi menembus US$ 5.500 per ons troi di awal tahun 2026. Secara domestik, Ibrahim juga memperkirakan harga emas Antam dapat menyentuh level Rp 3.800.000 per gram pada 2026. Morgan Stanley juga memperkirakan harga emas dunia dapat mencapai US$ 4.500 per troy ons pada pertengahan 2026.
Pendorong utama kenaikan harga emas mencakup ketidakpastian ekonomi global yang persisten, termasuk kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi perlambatan ekonomi di sejumlah negara. Faktor geopolitik, seperti situasi politik di Amerika Serikat, perang dagang, serta ketegangan di berbagai wilayah dunia, juga mendorong investor mengalihkan aset ke emas sebagai lindung nilai atau aset aman (safe haven). Di Eropa, perdebatan mengenai kedaulatan cadangan devisa juga mengangkat emas sebagai simbol kemandirian strategis.
Kebijakan bank sentral global, khususnya Federal Reserve (The Fed) AS, menjadi faktor krusial. Meskipun The Fed telah memangkas suku bunga tiga kali pada tahun 2025, ekspektasi pemangkasan lanjutan pada tahun 2026 membuat emas semakin menarik dibandingkan aset berbunga. Inflasi yang masih bertahan di kisaran 3,8% juga menjadikan emas sensitif terhadap dinamika suku bunga riil. Selain itu, pembelian emas secara agresif oleh bank sentral di seluruh dunia terus menjadi pendorong struktural, sebagai upaya diversifikasi cadangan mata uang dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Implementasi Basel III yang mengklasifikasikan emas fisik sebagai aset likuid berkualitas tinggi (Tier 1) dengan nilai penuh 100% dari harga pasar turut memperkuat posisi emas sebagai agunan inti yang efisien secara modal bagi perbankan besar.
Di pasar domestik, pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap emas batangan juga berkontribusi pada kenaikan harga Antam. Meskipun prospeknya positif, investor disarankan untuk tidak membiarkan porsi emas terlalu dominan dalam portofolio dan tetap menjaga diversifikasi ke instrumen lain yang lebih likuid. Pergerakan harga emas di awal 2026 ini mengindikasikan bahwa logam mulia akan terus menjadi komoditas vital yang mencerminkan tekanan ekonomi dan politik global.