Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bitcoin Tergoncang Venezuela, Analis Justru Soroti Potensi Kenaikan

2026-01-04 | 07:53 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-04T00:53:14Z
Ruang Iklan

Bitcoin Tergoncang Venezuela, Analis Justru Soroti Potensi Kenaikan

Ketegangan geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat dan Venezuela pada awal Januari 2026, yang mencakup laporan serangan militer AS dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, memicu gejolak singkat di pasar Bitcoin, namun analis pasar tetap mempertahankan optimisme jangka panjang terhadap aset digital ini. Setelah sempat merosot di bawah angka psikologis $90.000, harga Bitcoin dengan cepat pulih, menegaskan perannya yang semakin berkembang sebagai aset safe-haven di tengah ketidakpastian global.

Pada 3 Januari 2026, laporan awal mengenai serangan udara AS di Caracas dan pengumuman Presiden Donald Trump tentang penangkapan Maduro menyebabkan Bitcoin mengalami penurunan sekitar 0,5%, jatuh ke sekitar $89.300. Namun, dalam beberapa jam, Bitcoin berhasil rebound mendekati $90.000, bahkan naik 0,79% dalam 24 jam, menunjukkan ketahanan pasar kripto terhadap guncangan geopolitik jangka pendek. Pergerakan ini kontras dengan pergeseran 30% yang lebih dramatis pada Desember 2025, ketika penyitaan kapal tanker minyak yang disanksi oleh AS memicu penurunan harga Bitcoin dari puncaknya $126.000 menjadi di bawah $82.000.

Venezuela telah lama menjadi kasus uji yang kompleks bagi Bitcoin dan mata uang kripto lainnya. Dengan inflasi tahunan yang diperkirakan mencapai 682,1% pada tahun 2026 oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dan kontraksi ekonomi sebesar 3%, warga Venezuela semakin bergantung pada aset digital untuk mempertahankan nilai tabungan mereka dan melakukan transaksi harian. Adopsi kripto di negara ini, terutama stablecoin seperti USDT, telah melonjak, dengan 38% dari semua transaksi kripto P2P di Venezuela pada tahun 2025. Perusahaan minyak milik negara, PDVSA, bahkan dilaporkan menerima pembayaran dalam USDT pada tahun 2024 untuk menghindari sanksi AS.

Analis pasar tetap optimistis, melihat volatilitas jangka pendek ini sebagai respons sementara terhadap "guncangan penghindaran risiko" daripada perubahan mendalam dalam fundamental Bitcoin. Seorang ahli strategi dari perusahaan investasi kripto besar mencatat bahwa "peristiwa geopolitik sering menciptakan krisis likuiditas sesaat di pasar aset digital. Fundamental jaringan Bitcoin yang mendasari tetap tidak berubah." Sentimen pasar secara keseluruhan, yang diukur oleh Indeks Fear & Greed, berada pada level "Takut" di angka 29, namun ini tidak menghalangi pandangan bullish jangka panjang.

Piyush Walke, Derivatives Research Analyst di Delta Exchange, mengemukakan bahwa investor dan institusi menyesuaikan posisi mereka sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik, indikasi perlambatan ekonomi AS, dan masalah perdagangan yang sedang berlangsung. Beberapa analis bahkan memprediksi bahwa jika situasi tidak memburuk menjadi konflik regional yang lebih luas, penurunan harga saat ini akan bersifat sementara, dengan potensi target $96.000-$100.000 dalam beberapa minggu mendatang. Lennaert Snyder, seorang analis kripto, juga memperingatkan bahwa volatilitas lebih lanjut mungkin terjadi setelah pasar keuangan tradisional dibuka kembali, mengingat banyaknya ketegangan geopolitik.

Sejarah menunjukkan bahwa Bitcoin memiliki respons yang beragam terhadap peristiwa geopolitik. Meskipun sering dianggap sebagai "emas digital" dan lindung nilai terhadap ketidakstabilan ekonomi dan politik, kinerjanya dapat berfluktuasi secara signifikan. Misalnya, selama fase awal konflik Rusia-Ukraina pada tahun 2022, Bitcoin mengalami penurunan tajam sebelum pulih. Namun, peristiwa tahun 2026 di Venezuela menunjukkan pergeseran, di mana intervensi institusional dan "whale" mulai menstabilkan harga Bitcoin selama guncangan geopolitik.

Integrasi Bitcoin yang lebih dalam dalam sistem keuangan, didukung oleh produk seperti ETF Bitcoin yang diluncurkan pada tahun 2025, turut berkontribusi pada ketahanannya. Pasar kripto secara keseluruhan menunjukkan tanda-tanda kematangan, dengan likuiditas yang lebih baik dan berkurangnya arus keluar ETF. Dengan demikian, meskipun ketegangan di Venezuela akan terus memicu pengawasan pasar, para analis tetap yakin bahwa sifat terdesentralisasi Bitcoin dan adopsi yang terus meningkat di tengah gejolak ekonomi menempatkannya sebagai aset yang tangguh dengan prospek bullish jangka panjang.