:strip_icc()/kly-media-production/medias/4983417/original/043664500_1730112269-fotor-ai-20241028174231.jpg)
Harga Bitcoin menembus level 88.000 Dolar AS pada 2 Januari 2026, mencatatkan peningkatan moderat seiring dengan melonjaknya nilai Dogecoin dan Cardano yang memimpin pergerakan altcoin. Aset digital terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini diperdagangkan di sekitar 88.867 Dolar AS, menguat 0,76% dalam 24 jam terakhir. Pergerakan Bitcoin ini terjadi di tengah suasana pasar kripto yang seimbang namun disertai kewaspadaan, didorong oleh minat institusional yang diperbarui, kerangka regulasi yang lebih jelas, persetujuan ETF yang lebih cepat, dan kerangka kerja stablecoin dari Undang-Undang GENIUS di Amerika Serikat.
Kenaikan Bitcoin, yang sempat menyentuh 89.853 Dolar AS dengan lonjakan 1,90% dalam sehari, merefleksikan pergeseran struktural di pasar kripto. Analis dari Delta Exchange, Riya Sehgal, mencatat bahwa sebagian besar arus masuk modal masih terkonsentrasi pada Bitcoin dan Ethereum, meskipun pasar secara keseluruhan menunjukkan kehati-hatian. Sehgal menambahkan bahwa aliran masuk ETF, perubahan makroekonomi, dan partisipasi institusional akan menjadi penentu pergerakan besar berikutnya dalam beberapa bulan awal 2026. Sementara itu, Akshat Siddhant, Lead Quant Analyst di Mudrex, mengamati bahwa Bitcoin secara bertahap mendapatkan kembali kekuatannya di dekat 88.500 Dolar AS karena akumulasi oleh "whale" atau investor besar meningkat. Pasokan pemegang jangka panjang menunjukkan peningkatan positif untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, menandakan keyakinan investor yang diperbarui.
Di sisi altcoin, Dogecoin (DOGE) mengalami lonjakan signifikan sebesar 7,10%, diperdagangkan pada 0,1267 Dolar AS atau sekitar Rp2.128. Beberapa analis mengidentifikasi pola teknis "double-bottom break" sebagai pendorong kenaikan ini, yang sering kali mendahului peningkatan harga yang substansial. Volume perdagangan DOGE melonjak lebih dari 40%, mencapai 1,55 miliar Dolar AS, dengan munculnya pola golden cross pada grafik per jam, yang merupakan sinyal bullish bagi momentum jangka pendek. Namun, minat pedagang ritel pada DOGE menunjukkan penurunan, dan ETF Dogecoin spot yang diluncurkan pada akhir 2025 dilaporkan kesulitan menarik minat investor. Prediksi optimis bahkan mengisyaratkan potensi Dogecoin mencapai 1 Dolar AS pada akhir 2026, meskipun hal ini memerlukan kondisi pasar yang sangat mendukung dan gelombang hype media sosial.
Cardano (ADA) juga menunjukkan performa luar biasa, melompat 7% dan melewati level 0,36 Dolar AS, menjadikannya salah satu aset dengan kinerja terbaik di ruang altcoin pada 2 Januari. Kenaikan harga ADA didorong oleh peningkatan aktivitas "whale" di pasar spot dan futures, serta tingkat pendanaan yang membaik. Pendiri Cardano, Charles Hoskinson, mengalihkan fokusnya pada eksekusi jangka panjang di platform Midnight yang berorientasi privasi, sebuah komitmen yang turut menopang sentimen bullish. Data on-chain dari CryptoQuant menunjukkan peningkatan aktivitas paus di kedua pasar, spot maupun futures, menyoroti optimisme sisi beli yang jelas untuk Cardano. Indikator teknis menunjukkan potensi breakout bullish setelah penurunan 20% pada bulan Desember sebelumnya.
Kondisi makroekonomi global juga memainkan peran penting dalam dinamika pasar kripto. Meskipun siklus pengetatan bank sentral telah membatasi likuiditas, ekspektasi inflasi yang mereda pada akhir 2025 telah meningkatkan selera risiko. Namun, stabilitas dolar AS tetap menjadi faktor penentu, dan ketidakpastian politik dapat memicu pergerakan risk-off yang tiba-tiba. Beberapa analis juga mengingatkan bahwa normalisasi aset berisiko dapat mendorong Bitcoin menuju 50.000 Dolar AS jika kondisi makroekonomi memburuk. Terlepas dari volatilitas yang inheren, adopsi institusional yang meluas dan integrasi teknologi blockchain dengan keuangan tradisional dipandang sebagai tren utama yang akan terus memperkuat peran aset kripto dalam ekonomi global sepanjang tahun 2026. Para ahli memperingatkan bahwa kebijakan tarif yang tidak stabil dapat menyebabkan ketidakpastian ekonomi yang lebih luas, berpotensi mendorong investor mempertimbangkan Bitcoin dan Ethereum sebagai aset safe haven. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa peningkatan tarif dapat memperburuk kondisi ekonomi global, yang pada gilirannya dapat menurunkan selera risiko investor dan berdampak negatif pada harga mata uang kripto.