Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bitcoin Halving Menantang Prediksi: Harga Anjlok, Hapus Siklus Kenaikan Empat Tahunan

2026-01-02 | 22:11 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-02T15:11:33Z
Ruang Iklan

Bitcoin Halving Menantang Prediksi: Harga Anjlok, Hapus Siklus Kenaikan Empat Tahunan

Harga Bitcoin menorehkan sejarah baru yang mematahkan siklus empat tahunannya pada 2025, menandai tahun pasca-halving pertama yang berakhir dengan penurunan nilai. Peristiwa halving keempat, yang mengurangi imbalan penambangan dari 6,25 BTC menjadi 3,125 BTC per blok pada 20 April 2024, secara tradisional diharapkan memicu lonjakan harga, namun dinamika pasar yang berubah secara signifikan menggagalkan pola historis tersebut.

Secara historis, setiap halving Bitcoin selalu diikuti oleh periode kenaikan harga yang substansial, dengan puncak yang sering terjadi 12 hingga 18 bulan setelah peristiwa tersebut. Misalnya, setelah halving 2012, Bitcoin melonjak lebih dari 8.200% dalam setahun. Halving 2016 diikuti kenaikan 284% dalam setahun, dan halving 2020 menyaksikan peningkatan harga 560% dalam 12 bulan setelahnya. Namun, pada halving 2024, meskipun harga Bitcoin sempat menyentuh $64,994.44 pada hari halving, dan menunjukkan kenaikan sekitar 31% menjadi $83,671 pada 15 April 2025, performa ini dianggap 'terbatas' dibandingkan siklus sebelumnya. Puncaknya, Bitcoin mencapai titik tertinggi sepanjang masa di atas $126.000 pada Oktober 2025, sebelum mengalami koreksi tajam di bulan-bulan terakhir tahun tersebut.

Penutupan 2025 dengan penurunan nilai menjadi preseden yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Bitcoin pasca-halving. Beberapa analis mengaitkan perubahan ini dengan beberapa faktor makroekonomi dan struktural pasar. Peluncuran Exchange-Traded Funds (ETF) Bitcoin spot pada awal 2024, meskipun menarik masuknya modal institusional sebesar $56 miliar hingga $87 miliar, juga telah mengintegrasikan Bitcoin lebih erat dengan aset berisiko tradisional. Keterkaitan ini menyebabkan korelasi Bitcoin dengan indeks seperti S&P 500 dan NASDAQ meningkat signifikan sepanjang 2025. Akibatnya, sentimen pasar Bitcoin menjadi lebih sensitif terhadap kebijakan moneter Federal Reserve dan ketegangan geopolitik global, yang pada akhirnya memicu sentimen 'risk-off' di akhir tahun.

Selain itu, dampak halving terhadap penawaran baru Bitcoin juga berkurang. Halving 2024 hanya mengurangi penerbitan tahunan dari 1,7% menjadi 0,85%, dampak yang jauh lebih kecil dibandingkan halving sebelumnya karena sekitar 94% dari total pasokan 21 juta Bitcoin telah ditambang. Fenomena 'front-running' siklus, di mana para investor institusional mulai mengakumulasi Bitcoin jauh sebelum halving sebagai antisipasi peluncuran ETF, juga dianggap telah menarik sebagian besar kenaikan harga ke periode pra-halving. Setelah mencapai puncaknya di awal 2025, pasar kemudian mengalami koreksi.

Para ahli seperti Armando Pantoja menyatakan bahwa struktur pasar telah berubah secara fundamental, dan asumsi lama mengenai siklus Bitcoin tidak lagi berlaku. Simon Dixon, seorang pendukung Bitcoin, juga menyuarakan pandangan serupa, mendeklarasikan berakhirnya siklus pasar empat tahunan tradisional Bitcoin dan mengklaim aset tersebut memasuki "era baru". Ini bukan lagi sekadar dinamika penawaran dan permintaan sederhana, melainkan interaksi kompleks antara pasokan yang terbatas, permintaan institusional, lingkungan regulasi yang berkembang, dan sentimen pasar global. Halving masih menjadi faktor penting dalam kelangkaan Bitcoin jangka panjang, namun dinamika harga kini "tidak seotomatis" sebelumnya. Konsolidasi pada 2025 dapat menjadi koreksi sehat dalam pasar bullish yang lebih panjang, dengan potensi pemulihan pada 2026 yang didorong oleh kejelasan regulasi dan pelonggaran kebijakan moneter.