:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)
Harga Bitcoin berfluktuasi di bawah ambang $90.000 pada hari Senin setelah reli singkat di awal Januari memudar, saat pasar kripto menantikan rilis data inflasi penting Amerika Serikat dan potensi keputusan signifikan dari Mahkamah Agung AS yang dapat membentuk lanskap regulasi dan ekonomi. Aset digital utama ini sempat mendekati $95.000 di awal 2026 menyusul sekitar $1,2 miliar aliran masuk ke ETF Bitcoin spot AS dalam dua sesi perdagangan pertama, namun aliran dana tersebut berbalik negatif.
Investor dan analis memantau ketat data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Desember 2025 yang akan dirilis pada Selasa, 13 Januari 2026, pukul 8:30 pagi ET. Konsensus pasar memproyeksikan inflasi utama akan bertahan di kisaran tinggi 2% secara tahunan, dengan perkiraan CPI utama 0,3% bulan-ke-bulan dan 2,7% tahun-ke-tahun. Ekspektasi serupa untuk inflasi inti (tidak termasuk harga makanan dan energi yang volatil) juga di 0,3% bulan-ke-bulan dan 2,7% tahun-ke-tahun. Angka-angka ini lebih tinggi dari pembacaan November yang menunjukkan penurunan harga energi. Gregory Daco, kepala ekonom AS di EY-Parthenon, memperkirakan inflasi akan sedikit meningkat di awal 2026, namun tanpa lonjakan besar.
Laporan CPI ini sangat penting karena bank sentral AS, Federal Reserve, telah memangkas suku bunga tiga kali pada tahun 2025, menurunkan suku bunga federal-fund ke kisaran 3,50%-3,75%. The Fed diperkirakan akan menahan pemotongan suku bunga pada pertemuan Januari 2026, menunggu data ekonomi yang lebih jelas. Pasar berjangka obligasi mengantisipasi dua pemotongan sebesar 25 basis poin (total 50 basis poin) pada tahun 2026, dengan pemotongan pertama berpotensi pada bulan Juni. Pelantikan Ketua Federal Reserve yang baru, yang diperkirakan akan dinominasikan oleh Presiden Trump akhir bulan ini dengan Kevin Hassett sebagai kandidat terdepan yang dikenal sebagai "policy dove," dapat lebih jauh mempengaruhi arah kebijakan moneter. Kebijakan moneter yang akomodatif umumnya mendukung aset berisiko seperti Bitcoin, sementara inflasi yang persisten atau penundaan pemotongan suku bunga dapat membatasi kenaikannya.
Secara bersamaan, lanskap regulasi kripto di Amerika Serikat juga berada di bawah pengawasan ketat, dengan dua perkembangan di Mahkamah Agung AS yang berpotensi memiliki implikasi luas. Mahkamah Agung AS memulai sidang 2025-nya pada Oktober 2025 dengan kasus Coinbase v. IRS, yang akan memutuskan apakah transaksi mata uang kripto diperlakukan sebagai penjualan properti (yang tunduk pada pajak keuntungan modal) atau pertukaran mata uang. Keputusan ini akan berdampak langsung pada pasar kripto senilai $2 triliun dan menentukan fleksibilitas regulasi. Prediksi awal menunjukkan Mahkamah Agung cenderung mempertahankan klasifikasi properti mata uang kripto dengan suara 5-4.
Selain itu, sebuah kasus penting terkait tarif yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump pada April 2025 di bawah kekuasaan darurat dijadwalkan untuk diputuskan pada 9 Januari 2026. Dua pengadilan yang lebih rendah telah menyatakan tarif ini ilegal. Jika dibatalkan, keputusan tersebut dapat mengakibatkan pengembalian dana miliaran dolar dan hilangnya pendapatan pemerintah, yang secara tidak langsung memengaruhi inflasi dan nilai dolar AS. Hal ini dapat menyebabkan volatilitas pasar yang lebih luas dan memengaruhi aset berisiko seperti Bitcoin. Pasar prediksi memberikan probabilitas tinggi (77%) bahwa Mahkamah Agung akan memutuskan menentang administrasi Trump dalam kasus tarif ini.
Di sisi regulasi spesifik kripto, Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) telah menarik gugatan penegakannya terhadap Coinbase pada Februari 2025, sebuah keputusan kebijakan yang bertujuan untuk "memfasilitasi upaya berkelanjutan Komisi untuk mereformasi dan memperbarui pendekatan regulasinya terhadap industri kripto." Meskipun demikian, putusan pengadilan distrik federal di New York pada Maret 2024 dalam kasus SEC v. Coinbase sebelumnya menyatakan bahwa SEC telah cukup membuktikan bahwa aset kripto tertentu di platform Coinbase merupakan "kontrak investasi" di bawah tes Howey, memungkinkan kasus tersebut untuk dilanjutkan melalui jalur banding.
Paul Howard, direktur senior di Wincent, mencatat bahwa tekanan makro tetap menjadi pendorong utama aksi harga Bitcoin. Bitcoin mengakhiri tahun 2025 dengan penurunan sekitar 6,3%, menandai kinerja terburuknya di antara kelas aset utama. Analis seperti Standard Chartered dan Bernstein masih memperkirakan Bitcoin mencapai $150.000 pada akhir 2026, meskipun mereka merevisi target sebelumnya yang lebih tinggi karena aliran ETF yang lebih lambat. Namun, analisis teknis juga menunjukkan potensi penurunan signifikan ke $40.000-$70.000 jika pola historis terulang. Korelasi Bitcoin dengan ekspektasi suku bunga, likuiditas global, dan kebijakan bank sentral telah menguat, menjadikannya lebih sensitif terhadap dinamika hasil riil. Dengan integrasi yang semakin dalam ke pasar keuangan tradisional melalui ETF spot Bitcoin, aset digital ini kini menghadapi periode di mana pergerakannya sangat dipengaruhi oleh data ekonomi makro dan kejelasan regulasi yang muncul dari keputusan peradilan tingkat tertinggi.