:strip_icc()/kly-media-production/medias/3566691/original/052633000_1631185687-20210909-PPKM-IHSG-6.jpg)
Saham PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) melonjak 10,23 persen menjadi Rp 388 per saham pada penutupan perdagangan Senin, 12 Januari 2026, melawan arus pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi 0,58 persen ke level 8.884,72. Kenaikan signifikan pada saham pengembang properti berbasis superblok ini terjadi di tengah aksi ambil untung investor di pasar yang lebih luas setelah IHSG sempat menyentuh level psikologis 9.000.
Kinerja cemerlang PWON dilaporkan terpicu oleh komentar positif dari Yudo Achilles Sadewa, putra Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang beredar dalam grup investasi. Komentar tersebut muncul sebagai katalis di tengah sentimen pasar yang didominasi profit-taking setelah IHSG menyentuh rekor tertinggi intraday 9.000,96 sebelum berbalik arah dan melemah. Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, penurunan IHSG sekitar 2 persen dipicu oleh aksi ambil untung yang cukup agresif. Senada, analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, juga menilai koreksi IHSG adalah hal yang wajar setelah penguatan signifikan, dengan saham-saham sektor energi turut membebani indeks akibat aksi jual.
PT Pakuwon Jati Tbk, yang didirikan pada tahun 1982 dan tercatat di Bursa Efek Jakarta sejak 1989, dikenal sebagai pelopor konsep superblok di Indonesia, mengintegrasikan pusat perbelanjaan, perkantoran, kondominium, dan hotel. Perusahaan ini memiliki portofolio properti yang terdiversifikasi secara geografis di kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Bekasi, Yogyakarta, Solo, Bali, Semarang, dan Batam, dengan sekitar separuh pendapatannya berasal dari pendapatan berulang dari penyewaan unit di pusat perbelanjaan dan perkantoran, serta pendapatan dari hotel dan apartemen servis.
Prospek sektor properti Indonesia diproyeksikan tetap solid sepanjang 2025-2026, didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil, urbanisasi berkelanjutan, peningkatan kelas menengah, serta dukungan pemerintah melalui insentif dan pembangunan infrastruktur. Pemerintah telah memperpanjang insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (VAT DTP) hingga 2027, yang diharapkan dapat mendorong penjualan properti, khususnya untuk rumah tapak. Selain itu, potensi penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia pada tahun 2025 dipandang sebagai pendorong tambahan bagi sektor properti, yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan memicu permintaan kredit perumahan.
Para analis pasar modal secara kolektif memberikan rekomendasi "Strong Buy" untuk saham PWON, dengan target harga rata-rata 12 bulan di kisaran IDR 537.08 hingga IDR 541.53, menunjukkan potensi kenaikan yang signifikan dari harga saat ini. KB Valbury Sekuritas, misalnya, mempertahankan rekomendasi "BUY" dengan target harga IDR 480, dengan alasan posisi kas yang kuat dari PWON yang memungkinkannya mengakuisisi properti dan mendanai proyek-proyek mendatang. Meskipun demikian, beberapa tantangan tetap ada bagi sektor properti secara keseluruhan, termasuk kenaikan biaya konstruksi dan persaingan yang ketat. Namun, dengan kontribusi pendapatan berulang yang mencapai 79% dari total pendapatan pada proyeksi 2025, PWON menunjukkan stabilitas pendapatan di tengah gejolak makroekonomi.