Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bahas Nikel, Bos Baru Antam Sowan ke Rosan

2026-01-13 | 19:44 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-13T12:44:45Z
Ruang Iklan

Bahas Nikel, Bos Baru Antam Sowan ke Rosan

Pada Selasa, 13 Januari 2026, Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Untung Budiharto, didampingi Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif, bertemu dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani untuk membahas penguatan hilirisasi nikel guna membentuk ekosistem industri baterai nasional. Pertemuan yang diungkap Rosan melalui unggahan di akun Instagram pribadinya ini menyoroti peran PT Nusa Karya Arindo (NKA) sebagai pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) di sektor hulu dan pentingnya konektivitas hulu-hilir dalam strategi transisi energi Indonesia. Rosan menekankan bahwa hilirisasi mineral adalah fondasi masa depan industri dan transisi energi Indonesia, serta mendorong investasi jangka panjang dengan tata kelola kuat dan prinsip keberlanjutan.

Langkah ini mencerminkan komitmen pemerintah Indonesia untuk mengoptimalkan nilai tambah sumber daya alamnya, terutama nikel, yang merupakan komponen kunci dalam baterai kendaraan listrik. Indonesia memegang cadangan nikel terbesar di dunia, mencapai 55 juta metrik ton pada tahun 2023, setara dengan 42,3% dari total cadangan nikel global. Pada tahun yang sama, Indonesia juga menjadi produsen nikel terbesar di dunia, menyumbang 1,8 juta metrik ton atau 50% dari total produksi global. Kebijakan larangan ekspor bijih nikel mentah, yang efektif berlaku sejak 1 Januari 2020, bertujuan untuk mendorong pengolahan di dalam negeri dan meningkatkan nilai tambah.

Program hilirisasi ini telah menunjukkan dampak signifikan. Pada tahun 2023, produksi nikel Indonesia, termasuk barang jadi dan setengah jadi, mencapai 1,9 juta ton, setara 57% dari total produksi dunia. Sepanjang Januari-September 2025, penjualan nikel Antam (feronikel dan bijih nikel) mencapai Rp11,15 triliun, naik 83% dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi bijih nikel Antam juga meningkat 72% menjadi 12,55 juta wet metric ton (WMT), dengan penjualan melonjak 97% menjadi 11,23 juta WMT. Kinerja positif Antam terus berlanjut, dengan laba bersih melonjak 240% pada semester I 2025, didorong oleh segmen nikel yang mencatatkan laba Rp3,53 triliun.

Meskipun demikian, industri nikel Indonesia menghadapi tantangan. Penurunan harga nikel global yang berkepanjangan pada tahun 2024, mencapai level terendah dalam empat tahun terakhir, disebabkan oleh kelebihan pasokan dari China Daratan dan Indonesia serta lemahnya permintaan global, terutama dari sektor kendaraan listrik. Harga nikel di London Metal Exchange (LME) sempat turun menjadi US$15.311 per ton pada Desember 2024. Namun, ada proyeksi penguatan harga pada tahun 2025, didasari oleh tren penutupan tambang di negara-negara produsen berbiaya tinggi seperti Australia.

Kebutuhan energi yang besar untuk smelter nikel juga menjadi perhatian, di mana proses pengolahan sangat intensif energi dan sebagian besar masih bergantung pada batu bara, menimbulkan risiko lingkungan. Pemerintah berupaya mengakselerasi adopsi energi terbarukan untuk mendukung kebutuhan energi smelter. Hingga tahun 2023, Indonesia memiliki 44 smelter nikel yang beroperasi, mengonsumsi 210 juta metrik ton per tahun bijih nikel saprolit, dengan 25 smelter dalam konstruksi dan 28 dalam perencanaan. Pemerintah menargetkan pembangunan 53 smelter hingga tahun 2024.

Dalam konteks geopolitik, Indonesia berupaya mendapatkan posisi lebih menonjol dalam rantai pasokan baterai kendaraan listrik global, namun menghadapi tantangan guncangan makroekonomi dan potensi perang dagang AS-Tiongkok. Peran Rosan Roeslani sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, serta CEO Danantara, menjadi krusial dalam menarik investasi dan memastikan keberlanjutan proyek strategis nasional. Pertemuan antara pemimpin Antam, IBC, dan Rosan menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memperkuat fondasi industri nikelnya, dengan fokus pada hilirisasi terintegrasi dan penciptaan ekosistem baterai nasional yang tangguh, sekaligus mengatasi tantangan pasar dan lingkungan yang ada.